Lagu Nabi buuun

Abang Hafidz lebih suka buku ketimbangan mainan lainnya, walaupun belum benar2 mengerti pentingnya merawat buku :P . Selain berkisah dan membaca, metode belajar yang Bun terapkan buat Abang dan Ade’ Hanif adalah dengan senandung atau lagu.

Sudah 2 minggu ini Bund coba kenalkan nama-nama Nabi kepada Abang dengan senandung ‘25 Nabi’ , sebagai pengganti lagu ‘anak kambing saya’ yang tadinya jadi lagu wajib sebelum tidur

Alhamdulillah Abang Hafidz suka, bahkan sudah mulai bisa request. Kadang disela2 beratnya mata bunda ketika nina bobo in Abang, bund mulai kriyep-kriyep ketiduran, maka terdengar bisikan Abang Hafidz :

“Lagu Nabi yagi.. Lagu Nabi yagiii (artinya : lagu nabi lagii), maka Bunda pun bangun dengan suksesnya (he he)

So far Abang Hafidz paling antusias ketika sampai di bagian Nabi Sulaiman. Pasti diikutin dengan ‘maaaaaan’ yang kenceeng (he he). Juga ketika bund pura2 lupa lanjutan lagunya, Abang Hafidz siap sedia mengingatkan.

Semoga cepat hafal ya, Nak :) . Nanti bunda ceritain kisah Nabi tsb satu persatu.

Sayangnya bund belum nemu buku ilustrasi yang bagus. Buku cerita 25 Nabi yang sempat bund beli di salah satu toko buku, penuh dengan ilustrasi ekerasan :( . Bund cukup kecewa padahal kemasannya eksklusif.

Coba bayangkan, di kisah Nabi Adam A.S ada gambar putra Nabi siap2 nimpuk sodaranya dengan batu raksasa. Di cerita Nabi Sholeh A.S ada unta lagi dianiaya. Di cerita Nabi Ibrahim A.S gambar beliau sedang memegang pisau berkilat yang sedang ditempelkan di leher putranya. Juga banyak sekali adegan-adengan yang membuat bund merinding jika sampai dilihat Hafidz. Sekarang lagi berfikir buku tsb musti diumpetin dimana :(

*bund jadi curcol deh

Lagu Kasih Ibu dan Huruf Hijayyah

kacih ibu, kepadah beta
tak teehingga, cepanjang masaaa

Hanya membeyiiii
tak hayap kembaliii
bagai sang suuuyaaa meninayii duniyaaaaaaa

Itu celotehannya Bang Hafidz, suatu malam, ketika bundo lagi ‘ngobrol’ sama de’ Hanif. Bundo cukup kaget karena selama ini belum pernah mendengar Abang bisa menyanyikan satu lagu sampai penuh dan utuh. Biasanya cuma beberapa baris lalu nyampur dengan lagu-lagu lainnya.

Saat bundo konfirmasi ke ibu dan uwak, ternyata beberapa lagu memang telah dihafal secara full, diantaranya ‘Kasih Ibu’, ‘Hujan tik tik’, dan ‘Burung Kakatua’. Sementara lagu-lagu lain masih tercampur-campur,

Kemudian bundo mulai mengenalkan ‘Huruf Hijayyah’ dengan cara bersenandung : A.. Ba.. Ta.. Tsa… sampai dengan.. Ya, dengan harapan Hafidz juga mulai terbiasa dan Hafal. Alhamdulillah harapan Bundo terkabul, beberapa hari kemudian senandung Hijayyah Bundo bisa diulang Hafidz dengan lengkap.

Bahagia banget rasanya :) , walau baru sebatas senandung lisan, belum tulisan. Jadi anak sholeh dan baik yaa Nak :)

De’ Hanif saat ini berusia 8 bulan kurang 1 minggu. ALhamdulillah sehat dan aktif. Bundo dapat merasakan Bang Hafidz dan de’ Hanif saling menyayangi. Tidur malamnya juga bareng (bertiga dengan Bundo). Bang Hafidz tidurnya sudah jauuh lebih nyenyak dan makan lebih lahap dibanding ketika Hanif baru lahir dulu (masa penyesuaian thdp hadirnya adik baru itu nampaknya telah lewat).

Bundo ga bisa nge-blog banyak-banyak. Cuma ingin update perkembangan anak-anak sekilas saja :) . Jadi anak-anak yang sholeh yaaa Anakku…

Being a wife?

Dah lama banget ya bund ga nulis di sini.
Kesibukan di kantor menyebabkan bund nyaris ga punya waktu lagi buat ngeblog. Begitu juga dengan aktivitas di rumah, rasanya waktu bund bersama Hafidz dan Hanif sungguh sempit. Bermain saja rasanya ga ada puas-puas nya, bagaima mungkin waktu yang berharga itu bund gunakan buat menulis di blog. Bund lagi menikmati masa-masa yang sangat indah bersama mereka. Jikapun di saat week end ada ‘me time’ saat keduanya bobo, bund lebih memilih membaca ketimbang menulis. Maafkan bund ya Abah, yang belum bisa memaksimalkan produktivitas di saat-saat sibuk, seperti tekad bund ke Abah :)

Di postingan ini Bund meng-copy-paste lirik nasyid judulnya Zamiloony, yang bund peroleh di kajian muslimah jumatan di Kantor, yang kebetulan topiknya tentang Bunda Khadijah. At the first time Bund mendengarkan nasyid ini, air mata Bund menetes. Bund tidak bisa menahan keharuan di dada ini..

Subhanallah..

Bund langsung membayangkan begitu banyak hal.

Betapa indahnya cinta dan kasih sayang yang terjalin antara Bunda Khadijah dengan Rasulullah SAW. Betapa berartinya bunda Khadijah bagi Rasulullah SAW. Betapa menyejukkannya sosok seorang Bunda Khadijah di mata Rasulullah SAW, sehingga mampu menentramkan kegelisahan beliau ketika menerima wahyu pertama kali.

Khadijah menghibur beliau: Jangan begitu, bergembirahlah. Demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu . Demi Allah, sungguh engkau telah menyambung tali persaudaraan, engkau jujur dalam berkata, engkau telah memikul beban orang lain, engkau sering membantu keperluan orang tak punya, menjamu tamu dan selalu membela kebenaran.

Semakin bund mendengarkan kisah beliau, yang diceritakan oleh ustadzah, semakin bund merasa Syahdu. Betapa sholehahnya Bunda Khadijah, sebagai seorang istri (dan pastinya juga sebagai seorang ibu)…

Bund langsung malu… Bund langsung mengingat-ingat, sekeras apakah usaha yang telah bund lakukan untuk menjadi istri sholehah? Istri yang menyejukkan hati suami? Istri yang mendamaikan jiwa suaminya? Telaga untuk suami berkaca, bercermin, dan menentramkan hati?

Rasanya masih mengecewakan..

Apakah selama ini Bund hanya sekedar teman diskusi, teman curhat, teman berbagi, rekan bisnis.  Tidak lebih…?

Padahal rasanya Abah sudah begitu keras berusaha menjadi imam yang baik bagi Bund.. Apakah bund juga sudah berusaha sekeras itu?

Bagaimana dengan sikap bund kepada Hafidz dan Hanif, jundi-jundi tersayang, tercinta, terkasih…. Apakah bund sudah melakukan kewajiban sebagai bunda dengan baik? Limpahan kasih sayang ini, cinta ini. Adakah kebaikan yang telah bund contohkan kepada mereka?

ya Rabbi, beri kami umur yang panjang, agar kami mampu mendidik anak-anak kami menjadi anak yang sholeh..

ya Rabbi, lembutkan hati kami sebagai suami istri agar hati ini selalu terbuka untuk meneladani keindahan kisah rumah tangga Rasulullah SAW…

Jakarta, 19 April 2010
<<coretan Bund di 6 bulan usianya Hanif>>

Zamilooni (Nashid)

He stepped inside his home, and he overwhelmed with fear
An angel came with words from God, things were still unclear
Saying read – read, but he couldn’t read, then amazing words he heard
A trembling deep inside his heart, confused by what had occurred

There was only one who could comfort him
And help him see the light
To ease his fears, to reassure
It was khadijah, his wife

Chorus

He said Zamilooni, Zamilooni, Dathirooni, Dathirooni, (Envelop me, Embrace me)
A mighty task has come before me
I need you here with me
By my side

She was a woman of nobility, successful in all her trade
Many wealthy men had asked for her, she had turned them all away

But when she saw Muhammad, a shining moon, may peace be on his soul
He was a light for her – so right for her – her life will now be whole

But she had never seen him so distressed, as he was there that day
She would comfort him, and hold him tight, and chase his doubts away

Chorus

We look for stories of love, in places dark and cold
When we have a guiding light, for the whole world to behold
But were so selfish in our ways, and to the ones we hold so close
Our own pleasure and happiness is what we value most

But she sacrificed all her wealth and everything she had
And he honored her, and gave her faith,
when the times were bad, when times were bad…
Now years have passed, times had changed, since khadijah breathed her last.
Message of the one true God, was spreading far and vast

But then he came across a necklace, that khajidah once had worn
His eyes began to swell with tears, his heart again began to mourn
Cause she was there for him, when times were rough, and his enimies were cruel
Was the first believer, so keen and eager, to comfort al-Rasool

Chorus

Mawlaya salli wa sallim da’iman abada
‘Ala habibika khayril khalqi kullihimi
(O my Leader, send your salutations and blessings forever
Upon Your Beloved, the best of the whole of creation)

Kabar Hanif 3 bulan dan ASInya

Alhamdulillah,
Kemarin Hanif tepat berusia 3 bulan.Artinya sudah 1 bulan penuh Hanif selama week-days ditinggal bundo ke kantor. Dan itu juga artinya sudah 3 bulan juga Hanif full ASI. Bagi kami ini adalah kemajuan yang sangat menggembirakan, mengingat kegagalan ASI di ‘jaman’ abang Hafidz dahulu… yang terasa sangat menyedihkan, mengingat kala itu sebenarnya kondisi ASI bundo juga tak kalah banyaknya dengan sekarang

Dan tadi pagi stock ASIP Hanif mencapai 50 botol @ 110mL. Semoga selalu ada kemudahan untuk menambah stock.

Alhamdulillah,
Bundo diberi kemudahan untuk memeras ASIP di kantor, di sela-sela kegiatan kantor. Kadang-kadang Bundo tak bisa memenuhi jadwal yang telah ditetapkan, karena masih ada kegiatan yang lainnya,misalnya rapat yang kadang melewati jam istirahat, masih ada pekerjaan yang urgent dst dst. Namun kemudian bundo usahakan jadwal itu segera dilaksanakan dalam tempo secepat-cepatnya dan menjadi prioritas utama.

Alhamdulillah,
Di kantor Bundo punya teman sekumpulan ibu-ibu ASI yang punya jadwal peras tertentu. Ibu-ibu yang tetap rajin memeras meskipun anak-anak mereka ada yang usianya sudah hampir 2 tahun. Mereka adalah salah satu sumber inspirasi bundo di kantor, dan salah satu yang menguatkan semangat bundo. Gimana ga’ semangat, setiap kali memeras ASI di mushola disemangati oleh teman-teman yang sholat, yang mampir untuk dandan, yang hamil dan sesama ibu menyusui.

Bund memeras dengan 2 cara :
1. Dengan tangan (bisanya di rumah, pagi, malam dan week end)
2. Dengan alat perah elektronik ( di kantor)

Mengingat alat peras elektronik ini berisiknya minta ampun, jadi bund usahakan memeras di musholla jauh sebelum waktu sholat dzuhur, jadi ketika ibu-ibu mulai berdatangan untuk sholat, bundo sudah hampir selesai ^_^. Tapi untuk jadwal sore biasanya agak susah, mesti ketemu banyak ibu-ibu yang sedang sholat ashar.

Karena itu rencananya mau beli lagi alat peras yang manual, biar ga berisik, kasihan yang lagi sholat atau dzikir…

Setiap memeras selalu kepikiran anak-anak di rumah, rasanya rindu sekali, apalagi Bang Hafidz juga udah makin gede. Tak jarang dilanda perasaan bersalah karena meninggalkan anak-anak bekerja.

Setiap memeras juga teringat kegagalan ASI nya Hafidz. Hal itu yang menjadi pemicu bundo untuk meningkatkan stok ASI sebanyak-banyaknya. Siapa tahu mendadak disuruh dinas, baru bisa tenang kalau stock nya mencapai 100 botol. Eiiitts, bukan berlebihan, dulu waktu bang Hafidz usia 2 bulan 2 minggu, do’i bundo tinggal dinas 15 hari. Takut terulang lagi di jaman Hanif ini

semoga bundo selalu diberi kemudahan untuk memberi ASI hanif… dan semoga anak-anak tetap selalu merindukan kehadiran bundo di tengah-tengah mereka walaupun hanya bisa full menemani mereka di waktu malam dan week end..

Tentang Hafidz :
Hafidz sekarang punya jadwal ‘baca buku dan belajar’ bersama bundo dari jam 7 sd jam 8.30 malam. Hafidz sekarang mulai belajar memahami bahwa buku-buku itu gunanya untuk dibaca dan diamati. Walaupun lagi gemes banget bukunya ga’ boleh dirobek-robek (do’i kalau lagi antusias banget suka berubah dari yang tadinya duduk manis jadi guling-guling dan gemes2 ga jelas)

Gara-gara insiden ketimpa TV, Hafidz sekarang sudah mulai mikir-mikir kalau mau manjat sesuatu…

Bundo Ngantor dulu ya Hafidz dan Hanif

Udah lama banget ya, bundo ga ngeblog…
Agak klise jika dikatakan karena sibuk. Tapi memang karena nyaris ga ada waktu untuk itu. Di kantor susah cari waktunya, apalagi di rumah. Daripada ngeblog, lebih senang main ama duo Hafidz-Hanif. Tapi mengingat salah satu resolusi tahun 2010 adalah : lebih disiplin menulis tentang perkembangan anak-anak, jadi harus berusaha keras nyari waktu luang untuk ngeblog. Bagaimanapun ternyata tulisan-tulisan tentang perkembangan anak sangat bermanfaat untuk evaluasi pertumbuhan mereka..

Baiklah, bundo akan berusaha keras nyari waktu menulis, demi anak-anak. Dan bundo akan meng-copy paste setiap tulisan di blog ke multiply, terutama mengenai anak-anak dan info produk di toko kita. Tujuan menghidupkan MP kembali juga supaya ‘hidup’ lagi proses ’silaturahmi’ bundo dengan temen2 MP yang sering dicuekkin. Bundo juga ingin menambah pertemanan MP lagi, setelah sekian tahun ga diurusin.

Baiklah, bundo mulai bercerita..

1. Hafidz,
Di usia 1 tahun 11 bulan ini, nak Hafidz lagi lucu-lucunya. Kosa-katanya dah banyak banget walau masih suka kecampur-campur antara kata-kata yang berlawanan atau sejenis. Misal : gatal-gatal dan sakit disebutnya sama-sama sakit, buka = tutup, semua binatang berkaki 4 disebutnya kambing (kalau mood nya lagi jelek), panas/dingin disebutnya angek (bahasa padang : panas).

Bundo sedang berusaha keras menghilangkan ketergantungan Hafidz terhadap susu formula. ALhamdulillah perkembangannya bagus. Nak Hafidz udah mau kalau susunya diganti UHT. Seiring dengan itu, kelincahannya mulai dapat terkendali dan lebih ‘terarah’ (nah lo.. maksudnya apaan tuh). Hafidz sangat senang dengan buku-buku, terutama yang ada gambarnya, tapi masih belum bisa menghilangkan kebiasaan gemesnya dan merobek buku tersebut setelah disayang-sayang beberapa hari. Setiap kali bukunya dirobek,Hafidz pasti noleh memelas ke Bundo trus bilang gini : “Yaaa… rooobeeek..”

Kalau lagi iseng, suka colek-colek Hanif, dan kadang-kadang ditarik-tarik kayak narik bantal, bahkan dipencet-pencet (as if Hanif adalah kue..). Hafidz ga’ begitu suka maninan-mainan ‘modern’ yang bundo belikan. Dia lebih suka memainkan benda-benda yang tak layak jadi mainan anak-anak. Jadi jangan heran kalau mampir ke rumah kami Hafidz lagi serius main ama gayung, koper, sapu, tutup panci, kotak sepatu, segala jenis kabel, botol minuman bekas dll. Kadang-kadang bangun tidur langsung colek-colek bunda sambil bilang “Payuuuuuuung…”

Berat Hafidz saat ini hampir 11kg, termasuk kurus jika dibandingkan dengan berat lahirnya 3,7kg. Hafidz perlahan-lahan mulai kurus sejak berhenti ASI di usia 5 bulan dan diare di usia 10 bulan. Semoga Hanif bisa ASI ekslusif lebih lama yaaa. Wajah Hafidz udah berubah lagi, terlihat makin dewasa. Tapi matanya masih bulat lucu menggemaskan dan warna kulitnya putih bersih sehingga tak jarang pipi Hafidz suka bersemu merah ^_^. Bundo sayang hafidz deh..

2. Hanif
Usia Hanif saat ini 2.5 bulan. Berat lahir 3.5kg, dan saat usia 2 bulan beratnya 6kg. Dibanding berat Hafidz pada umur yang sama, Hanif lebih kurus. Tapi faktanya dengan berat 6kgdi usia 2 bulan, Hanif tetap gemuuuk dan padat. Hanif bongsor, berat dan pipinya bulat lucu. Matanya juga lucu walau tak sebulat mata Hafidz. Rambut Hanif jauh lebih lebat ketimbang Hafidz yang rambutnya susah numbuh. Tapi herannya Hanif cenderung lebih gelap warna kulitnya. Masih jauh tertinggal dibanding Hafidz yang putih bersih..

Sebelum mulai ngantor, bundo punya persediaan ASIP di kulkas sebanyak 40 botol @ 110ml. Bundo benar-benar takut gagal ASI eksklusif seperti pengalaman pada Hafidz. Oleh karena itu saat ini niat ASI eksklusifnya benar-benar kenceng. Pada hari kerja diniatkan bisa meras 5 kali @ 250ml (3 kali di kantor, 2 kali di rumah), namun tidak selalu memenuhi target. Bundo harus terus-terusan men-sugesti diri mengingat Hanif minumnya cukup banyak. Selama ditinggal ngantor (jam 7am sd 6pm) Hanif bisa menghabiskan 7 botol @ 110ml. Doakan yaaa, program ASI ekslusif ini berhasil…

Jadwal tidur Hanif sudah lebih teratur. Malam hari sudah tidur lelap dan bangun di pagi hari (benar-benar pagi, bukan jam 2 atau jam 3 seperti dulu), jadinya bundo juga bisa bangun pagi lebih seger…

Gitu dulu deh apdetnya…
Semoga Hafidz dan Hanif sehat selalu yaa :)

Selamat Datang cahaya Mata

 Hanif

Alhamdulillah telah lahir putra kedua kami, Hanif,pada hari Senin tanggal 19 Nopember 2009 di RSIA Tambak Manggarai dengan panjang 48cm berat 3500 gram. Di rumah sakit yang sama kakaknya-Hafidz- dilahirkan pada hari Jumat tanggal 14 Maret 2008.

Mohon do’anya ya teman-teman ^_^, semoga Hanif menjadi penyejuk mata kami, jadi anak yang sholeh dan membuat rasa syukur kami selalu bertambah-tambah padaNya…

Walaupun masih sedang menjalani cuti melahirkan, rasanya saat ini sulit sekali mencari waktu luang untuk menuliskan kabar di sini (ini tumben2an bisa online jam 3 pagi, jadi bisa ngintip web yang tidak terurus ini ^_^)

Duka di Ranah Minang

Duka, duka dan duka menggantung di langit dan menaungi wajah-wajah yang masih terpana dalam kekagetan di sana, di ranah minang tercinta. Tangan inipun rasanya tak mampu mencoba memetakan tentang apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan tentang satu episode yang menggayut di sana, di ranah minang tercinta.
Ngeri, jeri.
Hilang kata.

30 September 2009, selamanya akan menorehkan kisah sedih yang begitu memilukan untuk ranah  minang dan segenap penghuninya. Gempa bumi dengan kekuatan 7,6 SR telah mengoyak-ngoyak dan menghancurkan negeri tercinta dengan dampak yang sulit diungkapkan. Pilu rasanya menyaksikan kota Padang, kota yang begitu aku kenal, terkoyak-koyak, hancur lebur, luluh lantak, dengan deraian air mata duka dimana-mana. Hampir semua bangunan bertingkat mengalami kerusakan, mulai dari sedikit runtuh, rusak parah sampai nyaris rata dengan tanah. Ratusan korban berjatuhan dan diyakini masih ada ratusan lagi yang masih tertimbun. Sudut-sudut kota yang kukenal dari kecil, tak akan pernah sama lagi. Gempa ini tak pandang bulu, mulai dari hotel, rumah, ruko, universitas, sampai pusat bimbingan belajar yang sedang dipadati siswa-siswa SD dan SMP. Anak-anak imut yang sedang serius menuntut ilmu. Ya Rabb, bagaimana meleraikan duka yang begini hebat terutama untuk pihak-pihak yang ditinggalkan keluarga tercinta selamanya.

Tak hanya kota Padang, tapi juga begitu banyak kota-kota lain di sekitarnya. Bahkan di Kabupaten Pariaman, 3 dusun hendak dijadikan kuburan massal, karena gempa yang kemudian disusul hujan lebat dan tanah longsor di sana telah menyulap dusun yang tentram menjadi sebuah tanah lapang basah yang menimbun ratusan jiwa di bawahnya. Ya Rabb, bagaimana meleraikan duka yang begini hebat terutama untuk pihak-pihak yang ditinggalkan keluarga tercinta selamanya. Kadang tak hanya 1 orang, tapi bisa 3, 6 bahkan sekaligus ditinggalkan 15 kerabat keluarga untuk selamanya. Bagaimana menguatkan hati menghadapi duka yang demikian hebat.

Kehancuran yang sama juga dialami daerah-daerah lainnya merata hampir di seluruh Sumatera Barat bahkan sampai ke jambi. Duhai Dzat yang menggenggam jiwa-jiwa kami, tolonglah beri ketabahan pada saudara-saudara kami, berilah kesabaran yang berlipat ganda, keikhlasan yang berlapis-lapis, agar kaki-kaki kami yang sangat lemah ini masih mampu terus melangkah menyongsong perjalanan berikutnya demi menggapai cintaMu.

Air mata ini rasanya tak henti-henti mengalir menyaksikan setiap pemberitaan di televisi. Tuhan, deraikanlah duka di hati saudara-saudara kami di sana. Duka yang sungguh tak terperikan rasanya. Perasaan gundah, cemas dan gelisah yang sempat saya rasakan 18 jam lamanya karena tak mampu menghubungi satupun keluarga besar di Padang rasanya tak ada  apa-apanya deibandingkan penderitaan ribuan orang lainnya yang benar-benar kehilangan keluarganya. Keluarga besar kami di Lubuk Minturun Padang Alhamdulillah semuanya selamat. Saya baru bisa menghubungi mereka sekitar jam 12 siang, 1 oktober 2009, berkat XL yang dipakai ibu (provider lain benar-benar mati total). Beberapa rumah keluarga kami ada yang hancur separuhnya, bahkan ada yang hancur berat sampai tidak bisa lagi ditempati sehingga mereka mendirikan tenda di depan rumah. Namun posisi rumah-rumah keludarga yang semuanya berdekatan sangat memungkinkan seluruh keluarga besar untuk bahu membahu saling membantu. Seorang paman saya mengalami cedera di kaki karena kebetulan sedang menghadiri penataran di pusat kota Padang. Beliau baru bisa ditemukan jam 12 malam dan diangkut pulang dengan cedera di kaki.  Dua orang sepupu saya (SMP dan kuliah) sempat tidak diketahui kabar beritanya sampai tgl 1 oktober siang. Alhamdulillah mereka berdua selamat. Kami luar biasa cemas karena salah satu pusat bimbingan belajar yang runtuh adalah tempat bimbel yang biasa mereka hadiri.

Sampai hari ini (5 oktober 2009), diyakini masih terdapat ratusan korban yang tertimbun di balik puluhan puing-puing bangunan di kota Padang dan di seluruh kota-kota yang terkena dampak gempa serta longsor yang menyertainya. Ribuan orang masih gelisah menunggu kepastian kabar sanak saudaranya. Banyak terdengar cerita-cerita yang menakjubkan mengenai orang-orang yang selamat dari gempa, namun tentunya jauh lebih banyak kisah-kisah yang memilukan.

Diyakini juga bahwa korban yang berjatuhan (terutama yang tertimpa runtuhan gedung) banyak yang meninggal karena terlambat mendapat pertolongan. Contohnya anak-anak yang tertimbun di bawah reruntuhan gedung bimbel kabarnya di malam pertama gempa masih terdengar merintih-rintih, menangis, minta tolong, minta makanan dst dst. Namun warga sekitar tak mampu melakukan apa-apa karena tanpa alat berat tak ada hal yang mampu dilakukan. Akhirnya mereka satu persatu meninggal dunia karena proses evakuasi baru dapat dilakukan lama setelahnya. Demikian juga di gedung-gedung lainnya. Beberapa jam pertama masih banyak permintaan tolong bahkan korban-korban yang saling berkomunikasi di bawah reruntuhan. Namun lama-kelamaan satu persatu dari mereka tak dapat bertahan. Sedikit yang bertahan dan diselamatkan 2 hari kemudian, membagi kisahnya kepada media masa.

Yang tak kalah menyedihkan adalah daerah-daerah terisolir ataupun daerah-daerah yang mendadak menjadi terisolir akibat gempa ini, sampai beberapa hari setelah kejadian tetap tak terjamah oleh bantuan medis maupun relawan.

Namun di tengah-tengah suasana duka ini ternyata masih bergentayangan oknum-oknum dengan prilaku yang memuakkan. Di antaranya adalah maskapa-maskapai penerbangan yang dengan semena-mena mematok harga tiket sampai berlipat-lipat walaupun sudah ada himbauan dari pemerintah untuk tidak melakukan hal tsb (well, himbauan tanpa sanksi memang tak akan pernah mempan di negeri kita ini). Biadab, sungguh !

Tuhan,
Duka, duka dan duka menggantung di langit dan menaungi wajah-wajah yang masih terpana dalam  kekagetan di sana, di ranah minang tercinta. Tangan inipun rasanya tak mampu mencoba memetakan tentang apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan tentang satu episode yang menggayut di sana, di ranah minang tercinta.
Ngeri, jeri.
Hilang kata.

Tuhan….
Gunung gunung belumlah di hamburkan…
Bintang bintang belumlah berjatuhan…
Lautan belumlah sempurna meluap..
Matahari belumlah digulung…

Langit belumlah terbelah…
Bumi belumlah memuntahkan semua isinya…
Belum… belum diguncangkan dengan sempurna
Ketika seharusnya saat itu benar benar tiba…

Belum.. belum apa apa…
Dibanding hari yang Kau janjikan
Tapi kami sudah menggigil begini hebat