header image

[Cluster-5] Tamanuang

Ah kemana juz 27 ku? Kemana ketenangan yang dulu merayap-rayap setiap kali bimbang meradang. Kemana dendangan-dendangan kalimatNya yang selalu menjadi melodi terindah mendendang Qalbu? Setiap saat setiap detik, dimanapun kapanpun. Kemana petuah-petuah bijak yang selalu jadi senjata andalan ketika satu dua jiwa mendekat ingin bersahabat. “Simpan ayatNya dalam dadamu maka segala pahit akan berubah menjadi semanis gula”, begitu selalu kata diri pada semesta. Maka diripun menjadi rindu pada jiwa lama yang selalu berdendang riang memandang matahari senja Singapura kala warna-warni melukis raga. Maka diripun mejadi rindu pada jiwa lama yang selalu cerah ceria mensketsa sungai Singapura ditemani ayat-ayatNya.

Seribu tanya menari disela sesal yang kemudian tumpah menjadi airmata. Bersalah. Bersalah dalam kekalahan, kalah terhadap diri sendiri. Episode siang ini membingkai jendela. Menjingga, memerah lalu menghitam. Ah diri, kenapa sampai sejauh ini, pantas saja hilang semua koleksi kalimat-kalimatNya. Lalu mencobaku menyelusup mencari jiwa lama itu ke dalam aliran darah, seluruh denyut nadi, lapisan kelabu di kepala. Tak ada. Tiada. Engkau dimana wahai jiwa? Wahai keindahan yang selalu memenuhi semestaku, wahai ketenangan yang selalu menawarkan singgah untuk melepas lelah. Engkau dimana. Tak tahukah aku rindu.

Angin menggenggam jiwa, yang tak tahu lagi bentuk rupanya. Siapakah ini? Senja Singapura tentunya tak ada di sini. Pinggiran sungai Singapura tempat meluahkan asa pun tak ada di sini. Lalu kemana? Kemana harus menumpahkan tegukan pahit di ujung tenggorokan. Kemana harus mengakui kesalahan, meminta teguran, arahan atau luapan marah. Karena kesalahan ini memang begitu mencekam.

Engkau dimana wahai jiwa yang lama? Wahai keindahan yang selalu memenuhi semestaku, wahai ketenangan yang selalu menawarkan singgah untuk melepas lelah. Engkau dimana. Tak tahukah aku rindu.

//akhir 2006
*haruskah menunggu pelangi menari mengitari inti bumi? seperempat abad lewat sudah, berapa lama lagi kutunggu kamu wahai semestaku…
 

If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds

7 Comments so far (Add 1 more)

  1. Assalamualaikum Uni, ada tips supaya lebih gampang ngapalin, gak? :)

    1. Adilla on December 11th, 2006 at 8:22 am
  2. Wa’alaykumsalam. Alhamdulillah baik. Rajin2 blajar ya dek =)

    2. Ni on November 28th, 2006 at 8:33 am
  3. Assalamualaikum Uni…kangen pisan :’(. Apa kabar?

    3. Adilla on November 26th, 2006 at 8:32 pm
  4. Pernah suatu waktu ku merenung…
    Berbagai pertanyaan jiwa datang tak diundang…
    Semakin kujawab satu-satu…
    Semakin ia berkembang bak bunga mekar…
    Saat semua itu tak terjawab…
    Keadaan sekitar menjadi sirna…
    Warna putih menyelimuti tubuh…
    Rasa dingin meresap ke pori-pori…
    Sekejap datang sejurus sinar…
    Menyoroti wajahku yang terpana…
    Sinar itu sejuk memeluk jiwaku…
    Sampai tak terasa…
    Ruhku menyatu dengannya…
    Terbang bersama kerinduan yang terpendam…
    Huwa…

    4. Fadllan on November 18th, 2006 at 1:54 pm
  5. makasih mbak :)
    ga, miladnya 4 sept

    5. uNisA on November 14th, 2006 at 4:29 pm
  6. Aku jg dah lama gak nambah hafalan :(
    Btw, Reni milad ya? Barakallah..moga sisa usianya lebih barokah. Amin

    6. hanum on November 14th, 2006 at 3:50 pm
  7. aduh jadi malu nih sama uni….saya juga lagi “rontok” hapalannya. mudah-mudahan ngga lama.

    minta do’anya ya.

    saya juga turut mendo’kan. Moga kita jadi ahlullah -ahlul qur’an- amiin…

    7. aCha on November 13th, 2006 at 6:55 pm

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*