Terhenyak. Ternyata selama 15 bulan di Jakarta hapalan Quranku tidak bertambah kecuali beberapa ayat sahaja. Kemunduran yang luar biasa. Sangat! Tercenung.
Sedemikian lamanya terlena dalam aktifitas duniawi sampai-sampai hal yang dulunya sempat menjadi hobby, bahan dasar makanan ruhiyah, penyemangat jiwa, kesukaan, kesenangan, terlalaikan sedemikian hebatnya. Jika saja saat ini tidak tengah menyiapkan sebuah agenda maha penting dalam hidup mungkin aku tidak akan sadar-sadar juga tentang keterpurukan ini. Jika saja saat ini tidak tengah menganalisa, introspeksi, mempelajari kesiapan diri untuk menghadapi tahapan maha penting dalam hidupku, mungkin aku tidak akan sadar-sadar juga
Kilasan masa lalu membayang jelas menghadirkan rona-rona malu sekaligus rindu pada jiwa yang lama. Masih segar dalam ingatan bagaimana dulu 6 bulan lamanya semasa kuliah praktek, 1,5 jam di kereta dan bus dari NTU ke Jurong East dihabiskan dengan menikmati kesenangan menambah hapalan. Nikmat sangat. Subhanallah. Rasanya masih ingat di bus stop mana akhirnya al-Mutafifin benar-benar hinggap, di hari ke berapa at-Takwir baru berkenalan. Indah!! Bener!!! Sambil pepohonan ‘berlari’ di luar jendela, aku juga menyimpan kalimat-kalimatNya di dalam dada. Rasanya luar biasa. Sejuk. Tentram. Penat pun hilang.
Masih segar dalam ingatan saat-saat pengangguran sehabis kuliah. 1 jam perjalanan dari Boon lay ke Jurong East kemudian ganti kereta ke Yishun untuk mengajar privat anak SD begitu manis dalam kenangan bersama al Waqiah, al hadid dst. Padahal saat itu justru keadaan ekonomiku sedang parah-parahnya. Hanya mengandalkan pemasukan dari mengajar privat 2 kali seminggu, berjualan kartu telpon serta sisa-sisa tabungan waktu kuliah, untuk bergulat dengan biaya hidup Singapura yang mahal pisan. Berbulan-bulan. Kadang-kadang nangis juga di kereta karena cemas gimana kalau tak kunjung kerja juga. Namun justru di masa itu ibadah terasa demikian manisnya. Hati demikian tentramnya. Hiks..
Demikian juga setelah bekerja di Novena. Walau memang jam-jam yang berlalu lebih tersita oleh memikirkan kantor, namun masih sempat menengok dan mengejar target sekuatnya walau tidak seperti dulu. Nah, sekarang? Sebenarnya alasanku apa? Jakarta macet? Ah, alasan.. ke kantor jalan kaki 15 menit sahaja. Training-training yang menuntut pembuatan makalah tiap 2 minggu? Ah gaya aja tuh, makalahnya dibuat bersepuluh orang per kelompok. Lalu selama 15 bulan ini ngapain aja?
Jika saja saat ini tidak tengah menyiapkan sebuah agenda maha penting dalam hidup mungkin aku tidak akan sadar-sadar juga tentang keterpurukan ini. Jika saja saat ini tidak tengah menganalisa, introspeksi, mempelajari kesiapan diri untuk menghadapi tahapan maha penting dalam hidupku, mungkin aku tidak akan sadar-sadar juga.
Padahal padaNya aku selalu meminta dihadiahkan pasangan yang kelak juga bisa menjadi partner dalam mencintai al-Qur’an.
Seperti rembesan air di kaca jendela sehabis hujan. Ada ketenangan yang luar biasa saat akhirnya aku berani menganalisa ini. sukar dilukiskan dengan kata-kata atau mungkin tak akan mampu. Seperti ada hembusan rasa memasuki lorong-lorong jiwa yang paling menentramkan. Tentram ini lebih mahal dari apapun yang bisa dinilai dengan benda.
Saat-saat maha penting itu akan segera menjelang. Aku tahu ini bukanlah akhir perjalanan. Rasanya syukur tak putus-putus disela-sela kesenduan dan haru yang mengalir deras. Milik-MU segala yang ada di diri, di jiwa dan di hati.
Padahal aku selalu meminta dihadiahkan pasangan yang bisa mencintai MU lebih dari segala sesuatu
Langit Jakarta menggelap, senja merayap. Akan segera hitam. Akan segera kelam. Namun di sini, di dalam hati, terang benderang. Mari berhitung, karena itu tak lama, tak juga singkat. Berilah kekuatan dan kemudahan! Semoga lentera ini tak redup.
10 April 2007
menjelang hari itu