[Cluster 11] Membandingkan Generasi Majalah Annida

 

Apa yang timbul dalam pikiran kita melihat gambar di atas?Adakah perbedaan rasa yang berarti?Itulah majalah Annida edisi juni-juli 1997, dan juni-juli 2007. Yup! Persis beda 10 tahun. Edisi juni-juli 1997 yang saya jumpai waktu kelas 2 SMU ini adalah salah satu harta karun di dalam koleksi-koleksi buku saya. Majalah yang acap kali saya tengok ulang, tidak hanya sekedar penghias rak buku atau masuk ke bagian ‘museum’. Sama sekali tidak. Benar-benar salah satu harta berharga.

 
 “Antara Depok dan Tepi Barat” adalah salah satu karya uni imun (Muthmainnah) yang paling saya suka. Getar yang dirasakan setelah membacanya sekaliber tulisan-tulisan mbak HTR kala itu. Mengguncang iman, menyentakkan kesadaran, membuka fikiran dan tentunya menyentuh kalbu. Saat itu juga Annida punya penulis-penulis hebat yang kebanyakan sekarang telah menjadi penulis-penulis ternama..  

”Perjamuan Malaikat” karya Afifah Afra di edisi juni-juli 2007 menurut saya juga merupakan karya yang luar biasa. Kegeraman hati kita akan peristiwa yang menimpa jamaah haji Indonesia terkait masalah ransum rasanya dapat terwakili oleh cerpen ini. Pun hadirnya karakter-karakter yang mampu membawa kita ke suasana yang ingin digambarkan dalam kisah tersebut. Afifah Afra penulis yang tidak diragukan lagi kualitasnya. (salut!).

Dua cerpen utama ini membuat persandingan 2 edisi yang berbeda umur 10 tahun ini bisa dibilang cukup setara. Namun bagaimana dengan sisi lainnya? Sejalan dengan perkembangan jaman, Annida (dan mungkin semua majalah di dunia) makin penuh sesak oleh iklan-iklan busana muslim. Mengartikannya dapat dari berbagai sudut pandang, tergantung minat. Annida yang makin populer walau tanpa iklan di media massa, sehingga mampu menarik pengiklan dengan dahsyatnya. Atau kemampuan ekonomi masyarakat muslim yang mungkin semakin meningkat, sehingga meningkat pula pola konsumsi dan produksi.  

Namun yang terasa cukup ’menggelitik’ di sini adalah perbedaan ’rasa’ yang cukup mencolok. Entah saya ini termasuk aliran ’kolot’ tapi rasanya nyaman banget berdekatan dengan Annida model dahulu kala. Sejuk, anggun, sederhana, namun bermuatan. Kemudian saya sadari bahwa ternyata dakwah itu mau tak mau memang harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Telah banyak hal yang berubah, apalagi dalam kurun waktu 10 tahun. Pola hidup, cara berfikir, budaya, rasa, norma dan seterusnya dan seterusnya. Meski pasar yang dibidik Annida saat ini (mungkin) tetap remaja, namun definisi remaja itu sendiri mungkin telah mengalami perubahan. Remaja saat ini tidak sama ’penampakannya’ dengan remaja jaman dulu. Remaja saat ini tidak sama seleranya dengan remaja jaman dulu. Jika terus dirunut, akan panjang jadinya. Dengan dasar itulah kemudian saya ber’husnuzhon’ bahwa itulah alasan Annida kemudian mendisain halaman depannya menjadi begitu eye catching . Walau saya dengar selentingan, para ikhwan memang kemudian makin malu-malu untuk berkenalan dengan Annida. Entahlah.. Demikianlah sedikit pikiran yang cukup menggelitik akhir-akhir ini. Dan saya doakan, semoga Annida semakin sukses mengemban misi visinya.. amin

8 Responses to “[Cluster 11] Membandingkan Generasi Majalah Annida”

  1. silmi says:

    AsW. Sepakat! Terus terang,dulu sy salah satu yang ‘dapet hidayah’ dari majalah tersebut. bahkan sekarang, saya masih sering buka2 majalah yang lama. Luar biasa isinya, beda. liat Annida sekarang, berasa laeeen banget. sediih… saya rindu masa itu. Saat temen2 saya di smu (waktu saya bw majalah itu) tershibghoh karenanya. lantas ikut barisan dakwah deeh. Luar biasa kan? sekarang, ck..ck… aga canggung lagi buat bawa Nida ke kelas (kuliah)…
    Ya, moga memang ini yang terbaik kali y…

  2. ade says:

    assalamu’alaikum…
    benar banget ukht. sedih deh lihat annida sekarang. padahal ade dulu juga dapat hidayahnya melalui perantaraan majalah annida(dulu). ada spirit tersendiri dalam keanggunan dan kesederhanaan majalah annida (dulu). sekarang annida udah keliatan wah banget. rasanya ade udah gak tersentuh lagi dengan annida.hiks… sedih ya. padahal banyak kawan ade yang ngaku dapat pembelajaran dan hikmah yang banyaak banget dari annida (dulu). sekarang? hemm…belum pernah dengar.

  3. Eno says:

    Ass. Yach paling tdk,annida mngikuti prkmbngan zaman. Yg pnting tetap brdakwah….!!

  4. kaeruka says:

    paling gemes waktu ngeliat annida covernya cowok yang tampangnya sok imut benget……

  5. Lelaki says:

    Aww. Saya laki2 dan saya juga baca Annida dulu (majalah punya saudara). Majalahnya bagus, punya ciri khas terutama dari covernya yang berupa lukisan. Cerpen-cerpennya juga berbobot, terutama Catatan harian atau apa namanya,ya?(Cerpen tapi disajikan seperti diary) Saya belum pernah lihat lagi majalah Annida. Makanya saya kaget liat cover depan yang sekarang ko cewek semua, dan tidak menjelaskan tentang apa isi majalahnya. Dulu saya lihat cover depan adalah sinopsis majalahnya. Saran saya sih, lebih baik covernya yang seperti dulu saja atau paling tidak gambar pemandangan atau masjid atau kaligrafi atau yang lainnya. Saya kurang nyaman lihat cover yang sekarang. Jadi ingat majalah NOVA.

  6. bms says:

    sEmoGa ga cuma coVernYa aja yaNg BeruBah mOderN Tapi isiNya Juga LebiH BerIzi…Wat SeMua KaLangaN….Pokonya Semoga MakiN suKses Wat AnNida DAchh….

  7. Dedy Ramdan says:

    Baru kali ini saya membuka situs ini setelah sekian lama saya sudah tidak bekerja lagi di majalah ANNIDA sebagai illustrator dan layouter-nya. Tahun 2005 saya resign kemudian bekerja mandiri serta freelance. Walaupun saya pernah mengalami mendesign majalah ANNIDA versi “GAUL” beberapa edisi sebelum saya resign. Memang benar sekali tanggapan rekan semua bahwa “ruh” majalah ANNIDA seolah terbang ketika mengambil perubahan karakter tampilannya. Apalagi sekarang ANNIDA versi cetak sudah tiada digantikan versi online. Kayanya tambah sedih aja ya… Moga NIDA kembali ke karakter yang mampu menggugah jiwa, inspirasi dan hidayah. Amiin…

  8. dewi qurrotul aini says:

    aku suka bgt baca annida, smpai akhirbya aku pindah k srbaya tp d surabaya kok susah buanget dapatnya.
    d kios-kios gak ada, d gramed & gunung agung jg g ada.
    dmana ya adanya..?

Leave a Reply

See also: