Saya mendapat banner berikut ini dari milis-milis, agak provokatif memang. Cuma gemes juga lama-lama membaca dan mendengar pemberitaan di mana-mana tentang diakuinya banyak sekali kekayaan budaya kita (yang benar-benar keren) sebagai milik bangsa tetangge kite ntuh. Waktu tadi malam di TV dikabarkan lagi bahwa lagu Jali-jali juga diclaim sebagai miliknya Malaysia, saya bengong berat. Bukannya ada kata-kata Betawi yah di dalam lirik lagu ituh? Ealaaah.. ternyata lirik “Betawi”nya diganti jadi “Langkawi”. Weleh… weleh.. kreatip banget yak.
Saya jadi berfikir-fikir, jangan-jangan lagu “Es Lilin” juga sebentar lagi diclaim sebagai miliknya Malaysia, karena di sebuah VCD lagu-lagu melayu Siti Nurhaliza yang saya beli beberapa tahun silam, nyelip lagu “Es Lilin”.
Memang sih budaya melayu sangat mungkin rada-rada overlapping dengan Malaysia karena beberapa bagian di pulau Nusantara juga berbudaya Melayu dengan bahasa dan lagu-lagu kenangan yang mirip. Tapi sebatas lagu-lagu kenangan aja masih bisa kali yeeee, bisa sama. Kalau lagu daerah? “Es lilin”? kan jauh banget, jelas-jelas itu lagu daerah Sunda. Yah semoga tidak lah, cukup sampai “Jali-jali”Lagu “Rasa Sayange” yang kental banget nuansa Ambon-nya dan “Jali-jali” yang ada kata-kata Betawinye, gampang aja diakui sebagai milik nye die orang.. Bisa-bisa lagu “Kampuang nan jauah di mato” mau diubah juga nih jadi “Penang nan jauah di mato” Jadi pingin tahu apa yang akan dilakukan oleh bangsa kite, dan bagaimana sebenernya masalah ini ditinjau dari segi hukum. *Gemes plus pengen tahu mode*
If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds




















6 Comments so far (Add 1 more)