Jakarta akhir-akhir semakin panas menyengat baik di dalam apalagi di luar ruangan. Bahkan pada saat tulisan ini diketik, penunjuk temperature di meja saya menunjukkan suhu 27 derajat Celcius. Gerah. Kalau tidak salah memang sedang ada upaya penghematan energy listrik,sehingga AC dari central tidak sedingin biasanya. Disamping itu hal ini mungkin juga terkait dengan suhu udara yang kian hari kian tak menentu.

Berbicara masalah suhu, belakangan saya mulai merasakan meningkatnya atmosfer kepedulian terhadap lingkungan, baik dari rekan kerja maupun di berbagai kesempatan. Entah itu dampak dari kampanye tentang global warming atau memang kesadaran masyarakat telah tumbuh dengan sendirinya seiring dampak perubahan keadaan tren cuaca, iklim dan suhu akhir-akhir ini yang terasa cukup ekstrim.Tak jarang saya jumpai kutipan berikut di bagian footer email : “Please consider the environment before printing this e-mail”. Demikian juga dengan meningkatnya kesadaran untuk menggunakan kertas bekas untuk keperluan printing atau keperluan lain.
Di majalah annida terbaru saya temukan paragraph yang menyatakan bahwa pengiriman cerpen dapat dengan menggunakan kertas bekas untuk berpartisipasi dalam meminimalisir penggunaan sumber daya alam sekaligus mengurangi pemanasan global. Cool. Bahkan baru-baru ini ada usulan supaya bulletin dan majalah interen di kantor disajikan dalam bentuk pdf format instead of dicetak dan didistribusikan via email atau diupload lewat intranet.
Fokus kepada masalah global warming. Sampai saat ini masih terus berlangsung diskusi tentang masalah global warming itu sendiri, baik di kalangan ilmuwan ataupun praktisi. Mulai dari Inconvenient truth nya Al Gore yang dinilai banyak unsur politisnya sampai kepada diskusi-diskusi ilmiah. Ada juga anggapan bahwa GW adalah suatu keniscayaan, sebuah proses alam terlibat di dalamnya dan bukan merely hasil dari kreativitas tangan-tangan manusia sehingga yang bisa dilakukan adalah memitigasi bukan mencegah. Diantaranya seperti pendapat di sini dan di sini. Tidak seperti kutipan Al Gore di sini bahwa The vast majority of scientists agree that global warming is real, it’s already happening and that it is the result of our activities and not a natural occurrence. Thanks to mr Rovicky atas tulisannya
Anyway, tidak ada salahnya jika mulai dari sekarang menumbuhkan keikutsertaan dalam sebuah ajang kepedulian terhadap lingkungan mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Langkah-langkah kecil berikut bisa jadi sangat berarti, diantaranya :
1. Print dengan kertas bekas jika tidak begitu penting
2. Atau kurangi melakukan printing jika memang tidak perlu
3. Menggunakan kertas bekas sebagai notes
4. Pakai tissue seperlunya saja
5. Menanam pohon, menghijaukan lingkungan sekitar
6. Mematikan lampu dan alat-alat listrik lainya ketika tidak diperlukan
7. Bawa tas kain ketika berbelanja ke supermarket instead of meminta kresek (hmm .. agak repot kayaknya ya..)
8. Mengurangi pemakaian kendaraan bermotor
9. Ganti lampu-lampu di rumah dengan yang hemat energy
10. Mengurangi pemakaian hair dryer. Lagipula mengeringkan rambut dengan hair dryer dapat merusak kesehatan rambut
11. Menaikkan temperature Air conditioning (hmm berat memang, apalagi jika suhu lagi panas-panasnya)
12. Membaca koran online (jika punya jaringan internet)
Demikian, ada ide lain?
update @ 1.38 pm :
dapat tambahan informasi dari mr Iman (thx pak) bahwa saat ini dapat juga membaca koran Kompas dan Koran Tempo lewat internet dengan tampilan benar-benar koran. silahkan klik
(kompas)
(koran tempo)
Selain itu, untuk koran luar negeri
(grup Times di India)
(daily news India)
di sini (ttg militer dan politik AS, kalo ini agak kuno karena dalam bentuk pdf dan harus didownload dahulu sebelum baca)
If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds




















One Comment