Merasa gagal menjadi ibu

Akhirnya tak tahan juga menuliskan ini… 

Maafkan bunda, Nak

Awalnya,
Ketika bunda harus ninggalin Hafidz di usia 2.5 bulan untuk sebuah perjalanan dinas (yang PASTI tetap bisa jalan terus tanpa bunda). Sebuah tugas yang dikondisikan untuk tidak ditolak.

….

perasaan gagal itupun bermula.. 

Lemah memang diri bunda ini, Nak. Kembali ke cerita lama, bukankah memang  ’bekerja’ bagi bunda adalah sebuah keniscayaan? Dari sisi finansial terutama. Bukan untuk kita saja Nak, tapi juga bagi banyak pihak nun jauh di sana. Pembenaran kah ini, Nak? Lalu jika saat ini timbul konsekuensi seperti ini bukankah bunda mestinya siap? matang batin. Siap diri. Siap hati. Ikhlas?

Kemudian,
Tak lama sepulang dari perjalanan dinas yang panjang dan melelahkan batin engkau ternyata sakit. Duhai Nak, berpisah sekian jam per hari saja denganmu  rasanya gelombang rindu berubah menjadi tsunami yang membadai di dalam hati bunda, bisakah bayangkan berpisah denganmu 11 hari? kiamat di hati Bunda mungkin Nak. Hari-hari terasa begitu panjang. Kadang rasanya seperti mayat hidup yang berusaha tertawa dan mengerjakan ini itu sementara hati Bunda tertinggal bersamamu.

Perasaan gagal itu mulai semakin menyiksa…

Anak sempat tidak mengenali bunda. Tidak akrab lagi. 11 hari bagimu sudah cukup untuk membuat bunda berganti abah.

Dulu dekapanku mungkin tempat ternyaman bagimu…
Dulu, mungkin hanya bau badanku yang membuat lelap matamu…
Dulu, ASI adalah satu-satunya…
Dulu, kita adalah 2 teman akrab…
Setiap terbangun malammu adalah saat-saat yang begitu bundo tunggu Nak, untuk dapat meraihmu, memandang lelapmu dan memberimu makanan terbaik…

Setelah engkau sembuh pun kita menjadi berjarak ya Sayang…
Bagimu sekarang Abah adalah segala-galanya. Bahkan perlahan kau  pun mulai berpaling dari ASI bundo. Lambat laun sang ASI pun berkurang karena sadar kau pun tak lagi terlalu menyukainya Nak…

Sempat…  bunda masih bisa mengecohmu dengan tetap menyusuimu di lelap-lelap tidurmu. Dan engkau mau… !!! Bahagia sekali rasanya..

Perasaan gagal itu sedikit terobati…

Namun kemudian seiring bertambah usiamu, bertambah juga kepekaanmu, engkau tak mau lagi menyusu dalam keadaan terkecoh seperti itu. Dan mulailah penolakan-penolakan itu.

Penolakan yang memerihkan hati Bunda Nak… 

Bagimu bunda yang sekarang hanya tempat bermain, bermanja, tertawa, menangis, gembira, tapi bukan lagi tempat untuk menyusu… Padahal, tahukah kau Nak, itulah makanan terbaik bagi tumbuh kembangmu. Tak ada yang lebih baik.

Bunda sedih sayang…
Bunda merasa gagal… gagal sekali… padahal usiamu belumlah 5 bulan, namun bunda tak lagi berguna sebagai penyedia makanan terbaik bagi pertumbuhanmu…

Bunda tersudut di pojokan, terpuruk, menyesali, menangisi..

Apa yang bisa bunda lakukan untuk menebus ini Sayang…
Hilang sudah kesempatan memberi Hafidz makanan terbaik sampai usia 2 tahun..
Apa yang bisa bunda lakukan agar Hafidz kembali ingat kebersamaan kita saat momen-momen menyusui begitu luar biasa? Apa yang bisa bunda lakukan Nak…

setiabudi akhir juli 2008, saat rasanya begitu gagal menjadi ibu. Thx for Aa atas dukungan2 moral..

11 Responses to “Merasa gagal menjadi ibu”

  1. meri says:

    Uni, ikutan terharu bacanya.
    Uni, kalau boleh ngasih saran,
    Kalau semua usaha sudah dilakukan, perlu diiringi dengan doa, agar Allah mengabulkan.
    Aku juga ikut mendoakan uni, agar Hafidz mau mimik lagi sama bundo. Amin…
    Yang sabar ya Ni…

    Salam kenal uni.

  2. uniang says:

    hiks, jadi gitu yo, kalau sempat baranti 11 hari gitu jadi ndk nio asi lai. Bayi emang sensitif.
    Tapi ndk baa bundo, jan sadiah bana. Masih panjang perjalanan Hafidz ka muko yang pasti paralu kasih sayang bundo.

  3. Kosi says:

    Ya Allah…semoga Hafidz mau menyusu lg ke bundonya :( (

  4. andy ponco says:

    waduh..
    kalo keterusan gimana ya…
    semoga Hafidz cepet mau mimik lagi
    salam kenal bundo…

  5. Tri says:

    Dear Bunda,
    Aku negrti banget gimana perasaan bunda karena aku juga pernah ngerasain. Aku cuma bisa kasih ASI sampai 2 bln aja karena pas 2 bulan itu asinya gak keluar sama sekali. Mungkin karena pengaruh obat2an yang harus aku minum selepas operasi caesar. Yang lebih sedih lagi, sekarang ini aku gak bisa meluk anakku karena 3 bln yang lalu anakku dipanggil Allah karena penyakit diabetes yang baru aku ketahui setelah anakku di ruang ICU. Jadi menurut aku, bunda masih bisa memberi yang terbaik untuk hal lainnya. Jaga Hafidz baik2 ya bunda.

  6. unisa81 says:

    mb Tri, sabar ya mbak. Aku turut berduka cita. Semoga mbak sekeluarga selalu diberi ketabahan dan kekuatan.. amin

    meri : amiiin.. makasih ya :)
    uniang : iyo niang, insyaAllah reni kini lah ndak ba’a :)

    mb kosi : amiin

    andy ponco : thx ya, amiin

  7. dea says:

    uniii…. aku telat deh bacanya….
    dulu zhaf pernah mogok mimi loh… mungkin gara2 aku marahin abis dia gigit aku… tapi aku terus tawarin… akhirnya mau lagi walau masi terus gigit2 dan aku mesti nahan sakit… aku kurang percaya ama self weaning untuk anak seusia Hafiz.. jadi mestinya bisa dicoba Un…. tapii emang musti berjuang keras… gimana, mau coba? :)

  8. eee says:

    Reni, sori telat juga bacanya… kebayang sedihnya kalo anak gak mau nyusu. Eka kadang2 juga gitu sih, sekarang lebih lengket ama bapaknya, mungkin bosen juga tiap saat liat ibunya terus.

    Btw, jangan terlalu dipikirin Ren, semakin Reni gelisah, ASI bisa semakin berkurang. Yakin aja dan meresnya juga gak boleh males (untuk yang ini aku cuman bisa ngomong dan nyemangati, walo kebayang capeknya meres). Hafidz kalo mimik pake botol ya? Mungkin lagi bingung puting. Jadi dia bete juga kok mimik pake cara mimik botol gak bisa dipake buat nyusu ke bundonya. Mungkin coba dibantu waktu dia mimik, bundonya sambil meresin jadi susunya tetep keluar…

    Semoga Hafidz mau mimik ke bundonya lagi..

  9. wanda says:

    duh uni..jadi terharu bacanya…wanda juga pernah merasa gagal jadi ibu dan mungkin tiap ibu pernah merasakan yang sama…wanda belajar kalau definisi ibu yang baik itu tidak hanya satu, tidak hanya yg bisa ngasih asi sampai genap 2 tahun (walaupun itu harapan kita sendiri), tidak hanya yang bisa setiap saat di rumah sama anak. Don’t be too hard on yourself…we try our best under our own circumstances, and i think you’ve done a great job! :)

  10. unisa81 says:

    Dea : iya De. Sampai hari ini aku masih terus berusaha walau 99% ditolak ;-) , dan setiap hari aku memikirkan strategi2 baru walau ditolak terus menerus. Namun aku tak akan berhenti sampai kapanpun

    mb Rinda :iya mb Rinda, sekaj beberapa saat yang lalu berusaha untuk lebih rileks dan memfokuskan diri pada usaha instead of ‘mengeluh’ :) , thx ya mbak :)

    wanda : terima kasih sekali ya atas ’suntikan’nya yaa. Semoga kita tetap bisa menjadi ibu yang ‘membanggakan’ walau full jadi ibu hanya ketika wik en. Sekali lagi terimakasih ya Wanda :)

  11. norim says:

    suka baca kisah ini. sama dengan nasibku juga… kini anakku berusia 2.5 bulan… hanya tinggal 8 jam sehari waktu bekerja..udah tidak mahu nyusui aku… sedihnyaaa.
    aku juga punya perasaan… aku gagal menjadi ibu yang baik…

Leave a Reply

See also: