Pada kesempatan ini saya ingin ikut menyuarakan unek-unek dunsanak, uni-uni dan kawan-kawan di milis wanira (wanita minang perantauan) tentang baju Adat Pengantin MinangKabau yang akhir-akhir ini makin mengalami modifikasi yang membuat ‘mato kalimpanan’ (kelilipan-red).
Baju-baju adat MinangKabau yang kami pahami biasanya adalah semacam baju kurung yang longgar (tidak ketat), tebal (tidak transparan, tidak menerawang, tidak tembus pandang), sopan, tertutup mulai dari leher sampai ke mata kaki dan dihiasi dengan tutup kepala yang bentuknya beraneka ragam sesuai dengan daerah asal yang lebih spesifik.
Khusus untuk baju penganten wanita, kami mengenal 2 jenis pakaian :
1. Pakaian adat minang standar, yaitu baju kurung dan kain yang dilengkapi dengan suntiang, yaitu semacam hiasan kepala yang menyerupai kipas – seperti pada gambar terlampir.

2. Pakaian adat minang Koto Gadang, yaitu baju kurung dan kain yang tidak dilengkapi dengan suntiang namun dilengkapi dengan selendang yang disampirkan di kepala.
Note : jika ada pembaca yang lebih paham, mohon dikoreksi ya, mengenai pakem baju penganten di atas.
Demikian juga halnya denagn warna, sepemahaman saya baju adat MinangKabau punya warna-warna pakem yang menjadi ciri khasnya.
Oleh karena baju adat minangkabau yang cenderung tertutup, longgar dan tidak transparan ini, maka sangat mudah memadukannya dengan jilbab tanpa menghilangkan unsur budaya aslinya. Waktu saya bergabung dengan Unit Kesenian Minangkabau Institut Teknologi Bandung (UKM-ITB) tahun 1999-2000 untuk setiap kegiatan yang dilakukan yang menggunakan baju adat (baik itu pagelaran seni, penampilan di acara baralek alias perhelatan) hampir selalu dipadukan dengan jilbab. Setahu saya, sampai sekarangpun masih begitu.
Namun akhir-akhir ini gerah juga memperhatikan modifikasi baju pengantin minang yang dibuat jadi super duper modern. Ciri khas MinangKabau yang masih melekat erat satu-satunya tinggal ‘suntiang’ di kepala, baju dan kain yang melekat di badan sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memerihkan mata. Bajunya lebih menyerupai kebaya modern, yang super ketat, kebanyakan transparan dan dengan belahan di bagian dada yang super rendah (ambooi deh, sejak kapan baju minang pake belahan di bagian dada).
Contohnya baju pengantin yang dipakai oleh BCL dan Nirina Zubir. Yah, terserah sih, namanya juga public fugure tentunya punya kebutuhan dan tuntutan yang berbeda dan sejuta alasan lainnya blablabla pyarpyarbum… Tserah dah! Kagak ngarti lah awak.
Tapi sebagai seorang generasi MinangKabau yang masih sangat peduli dengan keelokan budaya Minang, satu saja pesan awak buat para pemakai baju-baju ‘modern’ itu. Please, Tolong jangan katakan itu Baju adat Minangkabau (mambana Ha…). Katakan saja yang kalian pakai adalah baju campur-campur antara adat anu, adat ini, kreasi modern gabruk-gubrak serta dipadupadankan dengan budaya ano ito blablabla pyahpyahbruk jger. Pliiss ya, jangan bilang itu baju minangkabau. Kagak rela awak! Kagak rela !

amboii awak pun satujua.. budayo kampung yg bagus jg di campur budaya kampungan..!
yah begitulah krjaan designer yg gila…apo mau dikato,hehe ! ;-D
minang ok,modifikasi jangan keterlauan dong, bikin gusar inyiak* aja
@vivi, wahyu ,ironman : iyoo… beko berang inyiak..
saya aetuju sekali pakaian pengatin yang jauh dari yang biasa.jangan disebutpakaian pengatin adat minangkabau.Lebih senang disebut baju “KABAU”. Soalnya setelah Minangkabau dimasuki oleh agama Islam yang dulunya berpatokan kepada alur dan patut(pantas) setelah islam masuk patokan itu beralih pada : Adat bersendikan syara ( syariat islam.) Syara bersendikan Kitabullah ( Al Qur’an ) itu adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,seperti halnya kata Minangkabau.Walaupun tadinya berasal dari kata menang kerbau.Tapi sudah menjadi suatu kesatuan ,kalau saja sudah dikatakan kita ini sudah hilang Minangnya hanya tinggal Kabau saja berarti kita sudah dianggap binatang yaitu Kabauuuuuuuu.Tahun 2006 saya pulang kepang disamping mau bersilaturahmi dengan dunsanak ( daritahun 1975 indak pulang)juga mau melihat pusat budaya Minang.Alhamdulillah , kalau dulu susah kini gampang pusek urang minang.Diateh disaok,dibawah disingkokkan . Itulah majunyo urang awak nan bapatokan adat idak lakang dek pneh indak lapuak dek hujan,Tapi apo nan tajadi jalan lah diasak urang lalu.Maaf jo sambah ambo haturkan.
Kalau kita bertandang ke Museum Adityawarman di Padang, mungkin akan mendapat gambaran tentang pakaian pengantin di Sumatera Barat.
Untuk baju, Minangkabau hanya mengenal dua jenis baju, yaitu baju kurung basiba (bukan baju kurung berkopnat, ketat, sempit atau menerawang), dan baju kurung melayu (kebaya panjang). Baju ke dua ini lazim digunakan di daerah psisir barat, parang dan pariaman.
Sedangkan untuk hiasan kepala sebenarnya beragam bentuknya. Saat ini, hiasan kepala “Suntiang Kambang” asal Padang Pariaman lah yang di lazim digunakan di Sumatera Barat. Padahal ada banyak bentuk hiasan kepala, ada yang berupa sunting Pisang Saparak (Asal Solok Salayo), Sunting Pinang Bararak(Dari Koto nan Godang Payakumbuh), Sunting Mangkuto (dari Sungayang), Sunting Kipeh (Kurai Limo Jorong), Suntiang Sariantan (Padang Panjang), Suntiang Matua Palambaian, dll.
Tidka hanya sunting, di beberapa daerah juga mengenakan Tikiluak Tanduak dengan beragam bentuk, seperti tikuluak tanduak batipua, tanduak lilik (payakumbuh), Tanduak Balenggek dari Sungayang, Tanduang dari Lintau Buo, termasuak Tikuluak Kecubung dari MAgek.
Dan ada yang hanya berupa kain yang di lekapkan ke kepala, seperti di Koto Gadang.
Sayangnya, beragam hiasan tersebut sudah jarang digunakan. Disamping karena ketidak laziman juga karena ketidak tahuan kita. Sehingga, hanya Suntiang Gadang lah yang dianggap betul-betul baju Anak Daro di Minangkabau.
Salam