<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>uNisA &#187; [personall] cluster</title>
	<atom:link href="http://blog.unisa81.net/category/cluster/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.unisa81.net</link>
	<description>... being a wiFe, a Mom</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 03:31:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>sekedar terkenang</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2011/10/11/sekedar-terkenang/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2011/10/11/sekedar-terkenang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 04:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[[Personal] goresan...]]></category>
		<category><![CDATA[[personall] cluster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/?p=320</guid>
		<description><![CDATA[Engkau mungkin sudah lupa
Episode singkat,
yang berbaur dengan jutaan lembar kisah
Bagiku,  mengingat itu selalu mampu
hadirkan musim semi.
Di tengah luka-luka
Siapa mengira,
justru mesjid itu harus kupandang setiap hari
dan papan pengumuman itu masih setia di sana
tempat kita pertama jumpa
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Engkau mungkin sudah lupa<br />
Episode singkat,<br />
yang berbaur dengan jutaan lembar kisah</p>
<p>Bagiku,  mengingat itu selalu mampu<br />
hadirkan musim semi.<br />
Di tengah luka-luka</p>
<p>Siapa mengira,<br />
justru mesjid itu harus kupandang setiap hari<br />
dan papan pengumuman itu masih setia di sana<br />
tempat kita pertama jumpa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2011/10/11/sekedar-terkenang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kala Subuh</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2011/09/09/kala-subuh/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2011/09/09/kala-subuh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 03:49:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[[Keluarga]]]></category>
		<category><![CDATA[[Personal] goresan...]]></category>
		<category><![CDATA[[personall] cluster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Kala subuh telah bersinar , Daku datang untuk berdoa
Kala sang suria bersinar memancar , Daku datang sujud dan memuja
Hidupku pasrah kepada Mu
Ibadahku hanya untuk Mu
Ku sebut nama Mu, Allahhu Akbar
Ku harap pada Mu semata , Sebelum jasad menjadi tanah
Hapuskan segala dosa , Disengaja atau tiada
Tuhanku kumohon restu Mu , Perjuanganku hanya untuk Mu
Kusebut nama Mu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kala subuh telah bersinar , Daku datang untuk berdoa<br />
Kala sang suria bersinar memancar , Daku datang sujud dan memuja</p>
<p>Hidupku pasrah kepada Mu<br />
Ibadahku hanya untuk Mu<br />
Ku sebut nama Mu, Allahhu Akbar</p>
<p>Ku harap pada Mu semata , Sebelum jasad menjadi tanah<br />
Hapuskan segala dosa , Disengaja atau tiada</p>
<p>Tuhanku kumohon restu Mu , Perjuanganku hanya untuk Mu<br />
Kusebut nama Mu Allahhu Akbar</p>
<p>Ku harap hidayah dari Mu , Dalam menempuh jalan hidupku<br />
Cintaku hanya untuk Mu ,Kebahagiaan yang ku harapkan</p></blockquote>
<p>Itu nasyid by Hijjaz. Salah satu nasyid favorit saya jaman kuliah. Melengkapi salah satu playlist favorit berisi nada-nada syahdu dari Hijjaz, Raihan, Saujana dan Rabbani.</p>
<p>Dan besok, pukul 03.30 pagi, aku dan anak-anak akan berangkat bertiga menuju Bandara. Kala Subuh baru menghilang, di pukul 06.00 pagi insyaAllah pesawat akan membawa kami bertiga ke Padang.<br />
Semoga memang ini yang terbaik dari Allah.. Semoga perjalanan kami lancar&#8230;</p>
<p>Pahit sungguh, namun harus kami lalui.<br />
Obat-obatan dari dokter juga biasanya pahit. Namun semua kepahitan itu tujuannya sama, yaitu sebagai ikhtiar menuju kesembuhan. Begitu juga hidup ini. Bedanya, terkadang dalam hidup kita harus menjadi dokter untuk diri sendiri. Meramu obatnya, menelannya meski pahit, karena berharap luka-luka sembuh atau setidaknya membaik. Kemudian tawakkal kepadaNya&#8230;</p>
<p>ya Allah, sembuhkan kami&#8230;. sayangi kami</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2011/09/09/kala-subuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menoleh ke Belakang</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2011/08/17/menoleh-ke-belakang/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2011/08/17/menoleh-ke-belakang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 02:45:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[[personall] cluster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini, sungguh berat.
Menjelang usia 30 tahun, rasanya ujian begitu bertubi-tubi, terutama sejak bulan May 2011 ini. Bertubi-tubi dan menghantam dari segala sisi.
Dan semua yang dihantam adalah sisi-sisi terlemahku. Tidak hanya di satu titik tapi di banyak titik. Ada beberapa saat di dalam hidup ini ketika rasanya beban-beban itu tak tertanggungkan lagi.  Saat dimana bahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini, sungguh berat.<br />
Menjelang usia 30 tahun, rasanya ujian begitu bertubi-tubi, terutama sejak bulan May 2011 ini. Bertubi-tubi dan menghantam dari segala sisi.<br />
Dan semua yang dihantam adalah sisi-sisi terlemahku. Tidak hanya di satu titik tapi di banyak titik. Ada beberapa saat di dalam hidup ini ketika rasanya beban-beban itu tak tertanggungkan lagi.  Saat dimana bahu ini rasanya tak kuat lagi memikul semuanya. Sendirian.</p>
<p>Tempat ini kurasa ga banyak yang baca. Jadi tak ada salahnya juga rasanya sedikit melonggarkan beban fikiran di sini.</p>
<p>Dulu, rasanya, seberat apapun persoalan, aku selalu merasa yakin bahwa aku akan sanggup hadapi itu. Dan setiap hari aku merasa semakin kuat hadapi hidup ini. Selalu yakin akan ada jalan keluar. Barusan aku coba renungi masa lalu. Telaah persoalan-persoalan hidup. Dimana aku selalu bisa bangkit. Kenapa sekarang rasanya tidak bisa?</p>
<p>Ketika susah punya seragam baru pas SMA, aku cuek aja make baju-baju bekas dari orang tua muridnya Ibu. bahkan nama pemilik lamanya tak aku copot sebab kuatir bajunya sobek. Bagi beberapa temanku saat itu, ini adalah masalah. Bagiku tidak.  Make baju bekas kan ga&#8217; dosa. Saat itu aku punya pandangan baru bahwa, hal-hal yang bagi orang terlihat sulit, ternyata saat kita jalani dengan lapang hati, insyaAllah ga berat. Maka lewatlah masa-masa SMA dengan seragam-seragam bekas. Rok-rok bekas yang harus dipeniti disana sini. Ada yang kependekan, kegombrongan. Baju-baju dengan label nama orang-orang yang tak aku kenal. Alhamdulillah tak mengurangi prestasi belajar.</p>
<p>Pun, ketika kuliah di Bandung. Saat uang kiriman dari kampung ternyata seringkali tak cukup. Alhamdulillah selalu banyak jalan keluar. Ketemu teman2 sekampung yang tak segan-segan minjemin duit. Dapet kos yang memungkinkan untuk jalan kaki ke kampus. Ketemu kontrakan sesama suku yang membolehkanku bergabung dengan sistem &#8217;saweran uang masak&#8217; yang sangaaat menghemat pengeluaran. maka hari2 kembali dijalani dengan gembira. setiap 1000 rupiah sungguh berharga kala itu. Subhanallah&#8230;</p>
<p>Kemudian Allah berikan aku rejeki untuk lanjutkan kuliah di Singapore dengan beasiswa penuh.  Sadar sekali bahwa itu semata karena kasih sayang Allah. Sebab jika mau jujur, banyaaak sekali yang lebih pintar kala itu, baik di atas kertas maupun secara praktek. Hanya kasih sayang Allah lah yang membuatku bisa terbang ke Singapura. KasihNya dan do&#8217;a-do&#8217;a ibunda. Maka kuhadapi kembali hari-hari seru di perantauan. Alhamdulillah selama di sana tak pernah lagi ada masalah keuangan. Mulai bisa tersenyum mengingat saat2 di Bandung, ketika uang kiriman tak kunjung datang padahal duit di kantong tinggal 5rb saja. Masa-masa bahagia  ketika bisa survive kala itu dengan seribu rupiah perhari&#8230;</p>
<p>Kemudian lulus kuliah. Masa-masa mencari kerja agak sulit. Cukup lama menganggur dan uang tabungan mulai habis. Maka suatu ketika aku pasrah untuk meninggalkan Singapura dan balik ke Indonesia. Kerja apapun sepanjang tidak merepotkan ortu dan bisa survive hidup mandiri. Ketika tiket pesawat sudah di tangan, sudah menuju bandara, sudah ikhlaskan diri ke Jakarta tanpa benar2 mengerti hendak kemana, tiba2 sebuah instansi di Singapura menelpon, mengabarkan bahwa aku diterima bekerja di sana. Maka kembalilah aku ke Singapura. Kembali aku rasakan kasih sayang Allah. Kembali aku merasakan bahwa tanpa Nya, sungguh diri ini lemah&#8230;</p>
<p>Kemudian episode-episode hidup silih berganti. Aku kembali berikhtiar untuk kembali ke Jakarta, diantaranya karena alasan-alasan emosional. Hijrah ke Jakarta di 2006 dan kembali lanjutkan babak-babak kehidupan seorang diri. Lingkungan baru, teman-teman baru, suasana kerja baru, suasana ibadah yang baru&#8230; Hidup sungguh penuh warna..</p>
<p>Kemudian menjadi istri, menjadi ibu&#8230; subhanallah..</p>
<p>Episode hidup kembali bergulir. Ada tawa, tangis, suka dan duka. Semuanya berganti-ganti. Namun persoalan apapun yang menerpa, rasanya selama ini tangan-tangan ini masih kuat menggenggamnya. Bahu-bahu ini masih kuat menopangnya. Kaki ini masih kuat menapakinya. Semua tarbiyah Allah selalu kurasakan sebagai bentuk kasih sayangNya untuk melecut, untuk menegur, untuk menempa. Menempa fisik ini agar semakin kuat, menempa hati ini agar semakin tegar dan menempa jiwa ini agar semakin kokoh.</p>
<p>Tapi,<br />
baru kali ini , baru 3 bulan ini, aku benar2 belum bisa pahami ujian yang sedang Allah berikan. Baru kali ini rasanya lutut ini goyah, hati ini koyak, jiwa ini remuk. Dan sudah berbulan-bulan mencari jawaban, masih juga belum kutemukan penawarnya.</p>
<p>Aku masih tak paham, apakah ini ujian, teguran atau adzab. Aku masih tak mampu temukan penawarnya. Bahkan setelah berikhtiar menengok ke belakang, menggali obat-obat penawar, masih juga tak kutemukan cara membasuh hati, membebat luka, menyegarkan jiwa.</p>
<p>Lalu apa yang harus kulakukan, wahai Rabb yang menggenggam jiwaku&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2011/08/17/menoleh-ke-belakang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cobaan</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2011/08/01/cobaan/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2011/08/01/cobaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 05:04:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[[personall] cluster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/?p=287</guid>
		<description><![CDATA[Allah..
bertubi-tubi ujian yang kau turunkan akhir-akhir ini sungguh terasa berat.
Tak jarang rasanya terlalu susah hadapinya..
Aku juga tak mampu definisikan, apakah ini ujian, teguran atau jangan-jangan adzab? Termasuk kategori yang manakah ini?
Jika ini ujian, kumohon jangan engkau uji lagi lebih berat daripada ini. Engkau pasti Maha Tahu seberapa kuat lengan-lenganku menahan ini. Dan bahwa terkadang mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah..<br />
bertubi-tubi ujian yang kau turunkan akhir-akhir ini sungguh terasa berat.<br />
Tak jarang rasanya terlalu susah hadapinya..</p>
<p>Aku juga tak mampu definisikan, apakah ini ujian, teguran atau jangan-jangan adzab? Termasuk kategori yang manakah ini?</p>
<p>Jika ini ujian, kumohon jangan engkau uji lagi lebih berat daripada ini. Engkau pasti Maha Tahu seberapa kuat lengan-lenganku menahan ini. Dan bahwa terkadang mulai terasa goyah.<br />
Jika ini teguran, sungguh akan kuperdalam lagi muhasabah-muhasabah ini. Akan kutelaah lautan-lautan dosa ini. Celah-celah maksiat yang mana yang harus aku tinggalkan dan amalan-amalan apa yang telah aku lalaikan.<br />
Jika ini adzab, sungguh aku mohon ampun. Aku tahu bahwa hanya Engkau yang tidak akan pernah menolak permohonan maaf, permohonan ampun dan sungkuran sujud&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2011/08/01/cobaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Telah Dewasa</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2011/05/13/kita-telah-dewasa/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2011/05/13/kita-telah-dewasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 09:13:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[[Personal] goresan...]]></category>
		<category><![CDATA[[personall] cluster]]></category>
		<category><![CDATA[min62]]></category>
		<category><![CDATA[NTU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini aku tulis di Tahun 2005. Di tahun pertama setelah graduation dari NTU.
Hari ini aku copy-kan ke sini. Sedikit mengobati kerinduan pada masa lalu..
Teman-teman&#8230; dimanapun kalian berada saat ini.. aku sungguh rindu..

 

 
Kita Telah Dewasa
&#8216;ditulis di http://unisa.f2o.org , tahun 2005. Lebih dari 6 tahun silam
Kampus megah nan futuristik di pinggir barat negara pulau itu seolah terasing dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini aku tulis di Tahun 2005. Di tahun pertama setelah graduation dari NTU.<br />
Hari ini aku copy-kan ke sini. Sedikit mengobati kerinduan pada masa lalu..<br />
Teman-teman&#8230; dimanapun kalian berada saat ini.. aku sungguh rindu..</p>
<p><a href="http://blog.unisa81.net/wp-content/uploads/2011/05/convo.jpg"></a></p>
<p><a href="http://blog.unisa81.net/wp-content/uploads/2011/05/convo.jpg"></a><a href="http://blog.unisa81.net/wp-content/uploads/2011/05/convo.jpg"></a><strong> </strong></p>
<p><a href="http://blog.unisa81.net/wp-content/uploads/2011/05/convo.jpg"><img class="size-medium wp-image-277 alignnone" title="convo2004" src="http://blog.unisa81.net/wp-content/uploads/2011/05/convo-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p><a href="http://blog.unisa81.net/wp-content/uploads/2011/05/convo.jpg"><span id="_marker"> </span></a></p>
<p><a href="http://blog.unisa81.net/wp-content/uploads/2011/05/convo.jpg"></a>Kita Telah Dewasa</p>
<p>&#8216;ditulis di <a href="http://unisa.f2o.org">http://unisa.f2o.org</a> , tahun 2005. Lebih dari 6 tahun silam</p>
<p>Kampus megah nan futuristik di pinggir barat negara pulau itu seolah terasing dari peradaban sekitarnya. Rerimbunan pohon pohon besar di kiri kanan jalan yang memanjang membatasi antara dunia luar dan lingkungan kampus memperdalam keterasingan itu. Kalau tidak ada papan besar di bibir jalan bertuliskan nama universitas tersebut dalam empat bahasa (Inggris,melayu,cina dan india), mungkin tak akan ada yang paham bahwa di ujungnya terbentang suatu komunitas intelek dilingkupi oleh sarana prasarana yang canggih bernuansa akademis, yang sedang berpacu dengan denyut denyut kemajuan zaman.</p>
<p>Aku masih mengingat dengan jelas di pertengahan tahun 2000. Ketika untuk pertama kalinya di sana bertemu wajah wajah manis, ceria, yang baru keluar dari bangku SMA. Semuanya mempunyai tutur tutur kata yang halus dan sopan. Berasal dari berbagai kota di Indonesia. Dan ada satu ikatan indah membuat kita punya banyak alasan untuk lebih sering bersama. Kita semua adalah muslimah. Muslimah, calon ibu, calon pemegang tanggung jawab sebagai madrasah pertama bagi anak anak kita kelak.</p>
<p>Pertemuan yang tinggi intensitas membuat kita semua begitu cepat menjadi dekat. Berada di perantauan dan menjadi muslim yang minoritas tiba tiba menimbulkan semangat berislam yang bertambah tambah. Mulai merasa malu ketika menyadari ada hal hal dasar yang belum kita ketahui tentang agama ini. Mulai merasa tertantang untuk berkenalan dan berinteraksi lebih jauh dengan syiar syiar islam.</p>
<p>Lalu kitapun mulai belajar perlahan lahan. Seperti bayi yang belajar merangkak. Sendirian. Tidak mengerti hendak berguru pada siapa. Cuma dengan bekal pelajaran2 agama dari SMA dan petualangan berselancar di dunia internet. Kita lah yg akan menentukan, ingin jadi lebih baik atau lebih buruk. Hari haripun dihabiskan tidak hanya untuk belajar ilmu dunia di kampus yang katanya salah satu yang terbaik yang pernah ada. Tapi juga mengejar bekal akhirat kesana kemari, kemanapun yang mungkin dan bisa diikuti. Terbata bata mengeja ilmu agama di negeri yang tidak menjadikan agama sebagai mata pelajaran wajib dari TK sampai tingkatan SMA.</p>
<p>Bulan bulan berlalu cepat. Jumlah kita yang cuma belasan tidak membuat semangat kita goyah. Perlahan mengukuhkan ukhuwah yang mulai berurat berakar. Satu persatu mulai mengerti tentang arti hijab. Saat itu kemanisan berislam terasa mengalir memenuhi rongga<br />
rongga jiwa. Dan tiba tiba masing masing kita menjadi begitu iri dengan teman teman kita yang berkesempatan menuntut ilmu di tanah air. Dimana kesempatan untuk meraup ilmu akhirat sebanyak banyaknya bisa diperoleh begitu mudah. Tiba tiba barisan barisan ukhuwah teman teman muslimah di tanah air tampak begitu hebat di mata kita. Dan kitapun mulai menghibur diri, bahwa jumlah yang sedikit tidak melunturkan nyala semangat yang kita punya. Dan memang kita tetap (berusaha) bersemangat kesana kemari berombongan, bersama sama, mencuri curi waktu luang di sela sela kesibukan perkuliahan, untuk sekedar mengumpulkan ceceran ceceran hikmah dari orang orang di sekitar kita.</p>
<p>Lalu menjadi kejutan rutin setiap awal semester ada saja wajah wajah manis yang tiba tiba terbalut rapat busana muslimah. Air mata harupun mengalir menderas ketika memeluk wajah wajah yang terlihat semakin indah. Dan engkaupun makin mempesona wahai kawan. Di mata insan dan di hadapan DIA yang menggenggam setiap jiwa. Alhamdulillah arus modernisasi tidak membuat kita terlupa bahwa ada tujuan akhir yang akan kita capai kelak setelah melewati tahun tahun persinggahan di dunia. Tentu saja barisan ukhuwahlah yang membuat semua itu menjadi mungkin. Kontrol sosial berupa teguran teguran halus, pelukan yang menenangkan dan untaian untaian do&#8217;a</p>
<p>Aku tak akan mengatakan bahwa empat tahun berlalu cepat. Sungguh itu tidak cepat. Berbagai peristiwa telah terjalin merajut hari hari menapak usia. Rona rona kedewasaan mulai terpeta di wajah wajah manis dan ceria yang tiap hari ditemui. Tentu masih ingat bagaimana interaksi kita meniti hari hari menguntai mimpi di negeri ini. Bahwa tak sedikit konflik konflik hebat yang telah kita lewati, yang menguji kualitas pertemanan dan kedewasaan hati. Ketika masing masing kita berada ribuan mil dari orangtua dan sanak saudara, selain padaNya, tentulah kepada kawan kawan segala cerita, peluh, dan suka mengalir.</p>
<p>Banyak babak yang telah dilalui, hari hari berbagi cerita, suka, duka dan pelajaran-pelajaran berharga dalam hidup, telah kita lalui bersama. Kangen kangenan, curhat curhatan, diskusi diskusi seru, debat, bahkan konflik-konflik yang menguji kualitas diri, pernah kita lalui bersama, dan insyaAllah segalanya adalah bekal yang berharga untuk memasuki episode hidup yang berikutnya. Entah itu kita masih bersama nantinya atau sudah menemukan kehidupan masing-masing. Entah di negara yang sama ataupun terpisahkan laut dan benua. Tapi insyaAllah ikatan ini tidak kan terurai, karena tautan ini, tautan kasih dan hati, dan rahmat dari Allah.</p>
<p>Dipertemukan di kampus tercinta ini, adalah satu skenario Allah buat kita. Dan tentunya skenario yang kita jalani saat ini akan menjadi bekal berharga nantinya, insyaAllah.</p>
<p>Ketika saat saat perpisahan segera menjelang, masing masing kitapun mulai merasa khawatir. Terlalu indah ukhuwah ini, terlalu manis kenangan yang telah kita ukir bersama. Bagaimana cara menjaga kekokohan hati saat tiba tiba musti berpisah. Namun ternyata kekhawatiran itu tidak beralasan. Selalunya mengalir sms sms berisi kata kata rindu, kangen dan ingin bertemu. Pun ketika di antara kita mulai menemukan ketenangan yang berbeda beda dalam memahami islam. Sudut sudut bibir itu tetap tertarik ke atas dan mata mata itu tetap berbinar binar ketika bertemu. Akupun makin percaya bahwa kita benar benar sedang belajar dewasa.</p>
<p>Dan tanpa terasa, suatu malam aku ternyata sedang mendesign dua website pernikahan yang berbeda, dari beberapa orang di antara kita. Ah rupanya ada yang akan melesat lebih dulu menggenapkan bilangan dan menyempurnakan agama. Aku yakin, ikatan yang agung tersebut tidak akan melonggarkan ukhuwah yang pernah terbina. Sungguhlah benar adanya bahwa hati hati kita selama ini berkumpul hanya karenaNya.</p>
<p>InsyaAllah kita semua akan selalu bergandengan tangan, mengukuhkan barisan dakwah dimanapun kita berada kelak. Mungkin tidak semua teman teman akan membaca tulisanku ini. Ah tak apa. Do’a do’a yang tersimpan di dalam hati, insyaAllah lebih kuat dari semua yang tertulis. Anggap saja ini pernyataan cinta yang terlalu kaku untuk diucapkan di mulut. Semoga Allah mencintaimu kawan sebagaimana kamu mencintaiku karenaNya. Amin yaa Rabb</p>
<p>&#8220;Tidaklah seorang hamba mukmin berdoa unk saudaranya dari kejauhan, melainkan malaikat berkata &#8216;Dan bagimu seperti itu&#8217; &#8221; (HR Muslim)</p>
<p>&#8220;Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia mengatakan rasa cintanya kepadanya&#8221; (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2011/05/13/kita-telah-dewasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remuk</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2011/05/09/remuk/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2011/05/09/remuk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 06:47:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[[personall] cluster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Jika aku ini kaca, maka aku sudah pecah berkeping-keping&#8230;
Jika aku ini daun, aku sudah koyak berderai-derai&#8230;
Jika aku ini baja, aku sudah hancur menjadi puing&#8230;
Sungguh aku telah hancur. Remuk redam. Sedu sedan.
Aku telah hancur, di titik terlemah seorang wanita&#8230;
Lalu, tarian seperti apa yang harus kumainkan agar nama itu hilang diantara kita.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika aku ini kaca, maka aku sudah pecah berkeping-keping&#8230;</p>
<p>Jika aku ini daun, aku sudah koyak berderai-derai&#8230;</p>
<p>Jika aku ini baja, aku sudah hancur menjadi puing&#8230;</p>
<p>Sungguh aku telah hancur. Remuk redam. Sedu sedan.</p>
<p>Aku telah hancur, di titik terlemah seorang wanita&#8230;</p>
<p>Lalu, tarian seperti apa yang harus kumainkan agar nama itu hilang diantara kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2011/05/09/remuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>selamat jalan Rum</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2010/11/18/selamat-jalan-rum/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2010/11/18/selamat-jalan-rum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Nov 2010 06:46:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[[Personal] goresan...]]></category>
		<category><![CDATA[[personall] cluster]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Selamat  jalan Rum,
Ternyata sms2 yang kuterima kemarin siang (hari Iedul adha) dari Dieni, bbm an yang kuterima dari bunda Majid, dan gtalk-an dari k dilsky itu benar adanya. Engkau telah tiada rum.  Siang ini aku benar-benar telah menyaksikan tubuhmu yg terbungkus kafan, wajah damaimu yang tenang. Bangun rum, banguuuuuun, teriakku dalam hati. Berharap engkau membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat  jalan Rum,<br />
Ternyata sms2 yang kuterima kemarin siang (hari Iedul adha) dari Dieni, bbm an yang kuterima dari bunda Majid, dan gtalk-an dari k dilsky itu benar adanya. Engkau telah tiada rum.  Siang ini aku benar-benar telah menyaksikan tubuhmu yg terbungkus kafan, wajah damaimu yang tenang. Bangun rum, banguuuuuun, teriakku dalam hati. Berharap engkau membuka mata, mengeluarkan sapaan ramah itu, senyum ceria itu dan suara riang yang dicintai banyak orang itu. Tapi engkau hanya diam, bersedekap, lelap.</p>
<p>Rum, engkau sungguh dicintai banyak orang. Lihatlah air mata yang berlinangan di wajah-wajah di sekelilingmu. Engkau sungguh disayang. Dari dirimu kulihat begitu banyak kebaikan, begitu banyak sifat mulia. Sungguh malu rasanya jika dibandingkan dengan diriku.</p>
<p>Siapa yg tak kenal wajah ceriamu, siapa yang bisa lupa sapaan ramahmu, siapa yang tak kenal kesungguhanmu menjaga silaturahmi, siapa yg tak kenal sifat pedulimu. Engkau pendengar yang baik, teman yang hangat, sahabat yang indah, ibu yang hebat. Siapa yang tak pernah merasakan bagaimana engkau selalu ingin membuat nyaman siapapun yang ada didekatmu. Yang mengenalmu pasti sayang padamu, rum&#8230;</p>
<p>&#8220;Do&#8217;akan sakitku ga parah ya Rum, kasian si kecil jadi berhenti ASI, aku ingin sembuh segera, doakan sakitku ga aneh2 ya Rum..&#8221;, begitu katamu ketika aku jenguk di Iedul fitri (September 2010) di RSCM.  Karena pernah roomate-an, kita memang saling memanggil dengan panggilan &#8220;Rum&#8221;. Saat itu anakmu yg kecil baru 5 bulan. Saat itu belum ada yang menemukan bahwa sesungguhnya ada Tumor agresif di tubuhmu, di otak. Saat itu aku cuma tahu kamu Demam Berdarah dan sering sakit kepala.</p>
<p>Kemudian waktu engkau keluar dari RSCM dan dinyatakan sembuh demam berdarah aku pernah berjanji akan menengok lagi. Tapi sebelum janji itu terlaksana aku dengar kamu sudah berobat lagi di Singapura, Rum. Lalu kemudian operasi di otak. lalu kemudian dalam waktu yang sangat singkat dikabarkan bahwa yang engkau derita sesungguhnya tumor yang sangat agresif dan sudah menyebar kemana-mana. Yaa Rabb..</p>
<p>Hampir setiap hari aku dan Bunda Majid membicarakan engkau dan saling mengupdate kabar2 yang kami terima dari sahabat2 di Singapura, Rum. Kami selalu optimis engkau bakal sembuh. Walau kemudian kamis kemarin kami dengar engkau mulai kehilangan kesadaran, kami tetap optimis dan memanjatkan do&#8217;a. Setiap harinya kami berharap akan mendengar kabar bahwa engkau bangun, sadar dan perlahan2 pulih kembali.</p>
<p>Sebelum engkau dioperasi, sahabat2 di sgp mengabarkan bahwa sungguh lemah kondisimu, Rum. Bahkan tidurpun tak bisa telentang karena begitu hebat sakit yang kau derita di area tulang belakang. Namun kami juga mendengar kabar bahwa sesakit apapun yg kau derita, kau tak pernah tinggalkan Shalat. Bagaimana airmata ini tak berlinang mengingat tegarnya sosokmu dan begitu inginnya engkau sembuh kembali, Rum. Suntikan semangat mengalir dari segala penjuru. Dari semua teman-temanmu. Lihat Rum, engkau sungguh dicinta&#8230;</p>
<p>17 November 2010, di hari Iedul Adha, akhirnya aku menerima kabar sedih itu. Engkau telah tiada, Rum. Aku sempat berharap bahwa kabar ini tidak benar. Tapi datangnya dari sahabat2 yang begitu terpercaya. Ya Allah Rum, seperti ada lubang besar menganga di hati ini. Engkau sudah tiada&#8230; Sungguh telah tiada. Begitu sayangnya Allah padamu Rum, secepat ini DIA rindu untuk segera memanggilmu ke sisiNya&#8230;</p>
<p>Tadi malam sambil meninabobokan Hafidz dan Hanif air mata ini tak henti bercucuran. Teringat Anak tertuamu yang besok baru akan berusia 3 tahun, dan bayi kecilmu yang masih berusia 7 bulan. Setiap kali memandang dan mencium Hafidz dan Hanif , di ruang mata ini hadir juga engkau dan anak-anakmu Rum&#8230; Anak-anak yang belum mengerti sama sekali bahwa ibunya (sosok yang sangat hebat!) sudah tak ada lagi di dunia ini untuk memeluk dan mencium mereka. Suatu saat wahai Rumie, akan kami ceritakan ttg sosokmu yang indah kepada anak-anakmu. Dan kami selalu doakan anak-anakmu akan menjadi pribadi-pribadi yang sholeh, hebat dan tangguh seperti engkau&#8230;</p>
<p>Selamat jalan Rumie,<br />
Aku baru mengenalmu di July 2000. Lalu mengenalmu dalam begitu banyak kenangan. Kemudian berkesempatan sekamar di flat legendaris itu (664D) cuma 6 bulan (sehingga engkau tetap kupanggil rumie). Di awal 2006 aku pindah ke Jakarta dan kita baru berjumpa lagi 3 kali. Yaitu saat aku melahirkan Hanif, Saat menengok engkau sakit dan tadi pagi menjumpai engkau yang lelap dalam damai.</p>
<p>Selamat jalan, Raphita..<br />
Aku yang baru mengenalmu 10 tahun rasanya telah sedih begini hebat. Bagaimana dengan sahabat2 yang telah begitu lekat menganal sosokmu. Apalagi orang tua, keluarga, suami&#8230;. Tentu mulai sekarang hari-hari yang akan mereka lalui tak lagi sama dengan ketika kau masih ada. tak akan pernah sama pit. Kenangan tentangmu tentu lebih menghunjam hebat di hati-hati mereka, dibanding aku yg baru mengenalmu&#8230;  Kamu sangat dicinta,Rum&#8230;</p>
<p>Selamat jalan, Rumie&#8230;</p>
<blockquote><p>Inna lillahi wa inna ilaihi raji’una wa inna ila rabbina lamunqalibuna. Allahummaktubhu ‘indaka fil muhsinina, waj’al katabahu fi ‘illiyyina wakhluf fi ahlihi fil gabirina :<br />
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya dan kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah! Tulislah dia (yang meninggal dunia) termasuk golongan orang-orang yang berbuat kebaikan di sisi Engkau dan jadikanlah tulisannya itu dalam tingkatan yang tinggi .”</p></blockquote>
<p>Semoga Daneesh dan Raheesh menjadi anak-anak sholeh yang selalu mendoakan engkau. Semoga kenangan tentangmu menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk berbuat kebaikan,Rum. Selamat jalan Rumie, sampai jumpa lagi. Kenangan tentangmu akan selalu ada di hati, dan setiap mengenangmu kami kirimkan do&#8217;a selalu&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2010/11/18/selamat-jalan-rum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cluster 17] Memilih Tepian</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2008/11/19/timang-lado-lado/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2008/11/19/timang-lado-lado/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 09:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[[personall] cluster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2008/11/19/timang-lado-lado/</guid>
		<description><![CDATA[Lalu berceritalah ia. Cerita yang membuat sedih dan hati teriris-iris. Mengapa dakwah sampai melukai?, tak bisakah disampaikan dengan cara yang lebih ahsan. Uff cinta, ya orang memaknainya dengan cara yang berbeda beda. Mengerutkan kening di sini, termenung, terdiam dan kadang tertawa bersama demi menghiburnya entah menertawakan apa
Lalu disanalah ia, tercabik di tengah-tengah gelora semangatnya. Untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lalu berceritalah ia. Cerita yang membuat sedih dan hati teriris-iris. Mengapa dakwah sampai melukai?, tak bisakah disampaikan dengan cara yang lebih ahsan. Uff cinta, ya orang memaknainya dengan cara yang berbeda beda. Mengerutkan kening di sini, termenung, terdiam dan kadang tertawa bersama demi menghiburnya entah menertawakan apa</p>
<p>Lalu disanalah ia, tercabik di tengah-tengah gelora semangatnya. Untuk suatu muatan yang seharusnya tidak sekasar itu penyampaiannya. Duh cinta,banyak hati yang terbuat dari gelas-gelas kaca, tak semuanya sekeras baja. Cukup geram dan gemas kali ini, walau nampak bijak di depannya ketika merangkai kata menuai makna untuk menyejukkan sepotong jiwa. Yang sebenarnya adalah tangan tergetar hati memanas mengikuti untaian-untaian kalimat yang dia kirimkan. Dari si penasehat, yaa si penasehat. Huff, Rasulullah pun rasanya tak pernah seperti ini terhadap saudaranya.</p>
<p>Lalu menangislah ia. Ya akhirnya menangis juga. Puncak pertahanan terakhir dari seorang wanita. Tak mengapa tak mengapa. Menangis dan sedih fitrah semata. Menangislah saat ini, namun berjanjilah untuk kembali melangkah tegap esok hari, hiburku pura-pura dewasa <img src='http://blog.unisa81.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> , sambil tetap tergetar membaca baris-baris tausiyah dengan retorika-retorika tajam berserakan dan capslock dimana-mana seolah si penulis sedang berteriak teriak dari seberang sana.</p>
<p>Dia mengakhiri suratnya atas nama cinta katanya. Uh cinta lagi cinta lagi. Kasihan deh si cinta dimaknai begitu duka. Padahal si cinta tuh juga butuh akhlak yang indah agar selalunya ia mampu menghadirkan musim semi. Ya gak cin??.</p>
<p>Maka disinilah aku, di kantor ini kehilangan selera meneruskan pekerjaan. Kata-kata bijak mengalir menghibur dari sini walau tak terlalu sejalan dengan hati dan fikiran penulisnya. Masih disinilah aku, *duduk sendiri memandang monas dan duduk sendiri dipandang monas*  termangu-mangu menatap layar. Terpetakan jelas satu episode di masa silam. Ah ya, saat kita begitu berdebu dan banyak salah apa memang selayaknya untuk dihujat apalagi ditinggalkan?. Kasihan deh si ukhuwah, dimaknai begitu sempit.<br />
&#8220;Berdirilah terus di tengah-tengah seperti keyakinanmu saat ini, namun yakinlah suatu saat kita musti memilih tepian mana, karena semakin jauh berjalan semakin deras arus&#8221;, memoriku terseret pada petuah seseorang di dalam kabut. Dan inilah salah satu arus itu. Tak terpungkiri, tak terbantahkan. Berat memang kalau sudah dihubung-hubungkan ke sana. Kenyamanan adalah hal yang tidak ternilai harganya. Namun kurasa posisi nyaman yang terasakan saat ini musti dipertimbangkan lagi suatu saat kelak. Tidak musti memilih tepian, hanya sekedar paham batuan mana yang sedang dipijak.</p>
<p>Yang kupahami, kenyamanan itu tidak bisa dipaksakan.</p>
<p>adalah benar..<br />
saat ini engkau terluka, patah dan berdarah<br />
tapi kadang kita perlu luka<br />
&#8216;tuk dewasakan jiwa</p>
<p>sedangkan karang di dasar lautan..<br />
tak terusik dilanda badai..<br />
engkau pun tak akan patah..<br />
karena kau tak ingin patah..</p>
<p>engkau pun tak akan kalah..<br />
karena kau tak ingin menyerah..</p>
<p>Mari kita dengarkan nasihat Ibnul Qayyim :<br />
Di dalam hati ada duka cita dan tidak akan sirna kecuali bersuka cita dengan ma’rifatullah dan tulus bergaul denganNya..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2008/11/19/timang-lado-lado/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cluster 16] Sepotong malu</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2008/11/03/cluster-16-sepotong-malu/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2008/11/03/cluster-16-sepotong-malu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 08:01:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[[personall] cluster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2008/11/03/cluster-16-sepotong-malu/</guid>
		<description><![CDATA[Huff, daku menikmati pelan rembesan air hujan yang membasahi kaos kaki. Dingin euy!! Tapi nampaknya jika hujan saja sudah menimbulkan keluh kesah maka bisa lupa diri atas nikmat-nikmat yang luar biasa melimpah. Terminal Kampung Rambutan penuh sesak oleh manusia-manusia yang mencari celah-celah perlindungan diri dari terpaan angin dan hujan. Kubiarkan saja ia menggamit lenganku lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Huff, daku menikmati pelan rembesan air hujan yang membasahi kaos kaki. Dingin euy!! Tapi nampaknya jika hujan saja sudah menimbulkan keluh kesah maka bisa lupa diri atas nikmat-nikmat yang luar biasa melimpah. Terminal Kampung Rambutan penuh sesak oleh manusia-manusia yang mencari celah-celah perlindungan diri dari terpaan angin dan hujan. Kubiarkan saja ia menggamit lenganku lalu kita berbagi berlindung di bawah sepotong payung sederhana.</p>
<p>Tiba-tiba begitu banyak hal tersaji di depan mata. Mungkin inilah sebagian dari realita.</p>
<p>Jika sesekali mata ini memerih ngilu bukan meratapi pergantian-pergantian parameter kenyamanan itu. Karena sampai saat ini masih yakin diri bahwa nikmat yang dilimpahkan Allah atas diri ini sungguh luar biasa. Jika sesekali mata ini memerih ngilu semata karena ketidakmampuan menyaksikan pergolakan begitu banyak manusia dalam pertarungan dengan waktu untuk tetap bertahan hidup dari hari ke hari. Padang-ku tak semewah Singapura. Namun tak kujumpai di sana drama kehidupan seperih Jakarta.</p>
<p>Sungguh kota ini telah dan sedang mengajariku banyak hal…</p>
<p>Malu!!<br />
Karena masih sering mengeluh atas segala cobaan-cobaan kecil bahkan terhadap hal-hal biasa yang dibesar-besarkan dan dianggap cobaan! </p>
<p>Malu!!<br />
Karena mata ini begitu tertutup dan tidak mampu mengetahui bahwa ternyata standard kehidupan selama ini sudah begitu luar biasa ketimbang jutaan manusia lainnya yang tersendat-sendat untuk sekadar bisa makan </p>
<p>Malu!!<br />
Atas segala keluhan, keluhan dan keluhan. Mengeluh karena begitu banyak tugas kuliah (banyak yang sekolah menengah aja ga bisa neng!), mengeluh karena makanan yang dimakan ga enak (banyak yang ga bisa makan neng!), mengeluh karena dizalimi kawan (Jika temanmu salah jangan tinggalkan ia, bisa jadi saat itu dia buruk namun di saat lain ia baik, begitu kata Abu Darda) padahal mungkin sekali sangat sering menzalimi juga, memanglah insan mudah mengingat yang buruk namun suka lupa atas kebaikan orang lain. Mengeluh karena kegemukan (salah siapa coba&#8230;!), mengeluh karena nilai kurang bagus dst dst. </p>
<p>Malu!!!<br />
Karena ternyata bertahun-tahun silam duniaku cuma berputar-putar kuliah, asrama, makan, tidur, dan ibadah yang sedikit. Sibuk memikirkan diri sendiri dengan bergunung keluhan. Padahal seharusnya kita senantiasa menjadi pribadi yang produktif, produktif dan produktif untuk diri dan orang lain. Bukan mengeluh, mengeluh dan mengeluh lalu lupa atas segala nikmat.</p>
<p>Ada yang mendapat hidayah dengan membaca<br />
Ada yang mendapat hidayah dengan mendengar<br />
Ada yang mendapat hidayah ketika bercermin dari musibah orang lain<br />
Dan ada yang mendapat hidayah setelah ujian menerpanya<br />
Semoga kita bukan termasuk yang terakhir </p>
<p>Begitu banyak metoda pembelajaran jiwa<br />
Begitu banyak cara untuk menjadi dewasa<br />
Begitu banyak cara melecut jiwa agar selalu bersyukur<br />
Semoga langkah tetap selaras dengan niat&#8230;<br />
Semoga perbuatan tetap seiring dengan hati dan perkataan&#8230;</p>
<p>Sungguh kota ini telah dan sedang mengajariku banyak hal…<br />
dan semoga makin kuat hati untuk terus belajar..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2008/11/03/cluster-16-sepotong-malu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Begitu indah</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2008/09/08/begitu-indah/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2008/09/08/begitu-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 09:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[[personall] cluster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2008/09/08/begitu-indah/</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah engkau kawan,
Bahwa di dunia ini selalu ada sosok-sosok yang begitu menginspirasi. Sosok-sosok yang begitu tangguh yang membuat kita (saya dalam hal ini) seringkali mengingatnya.
Tidak ! ianya bukanlah tokoh dunia, bukan pula pahlawan kemerdekaan apalagi sosok dari negeri dongeng, dan tidak selalu berasal dari keluarga kita. Ianya bisa berasal dari teman-teman, Sahabat-sahabat, Sahabat-tak-kesampaian, maupun individu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'">Tahukah engkau kawan,<br />
Bahwa di dunia ini selalu ada sosok-sosok yang begitu menginspirasi. Sosok-sosok yang begitu tangguh yang membuat kita (saya dalam hal ini) seringkali mengingatnya.<br />
Tidak ! ianya bukanlah tokoh dunia, bukan pula pahlawan kemerdekaan apalagi sosok dari negeri dongeng, dan tidak selalu berasal dari keluarga kita. Ianya bisa berasal dari teman-teman, Sahabat-sahabat, Sahabat-tak-kesampaian, maupun individu yang pernah hadir selintas saja dalam hidup kita.</span></p>
<p><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"></span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'">Saya seringkali teringat akannya (mereka). Sering merasa malu untuk hal-hal yang belum dapat saya lakukan sepertinya (mereka). Sering merasa takjub akan gema dari jejak langkahnya(mereka). Sering merasa iri karena saya belum mampu melompat tinggi sepertinya (mereka).</span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"> </span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'">Bahkan tak jarang merasa begitu kerdil karena terlalu banyak hal yang tak dapat lagi saya lakukan, telah saya tinggalkan, telah meredup atau bahkan telah hilang dari hidup saya, semata karena halangan-halangan duniawi yang sungguh tak berarti kelak</span></p>
<p><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"></span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'">Namun sering juga saya tersenyum. Bahagia. Bahagia menjadi saksi diam-diam untuk sesuatu yang sangat berarti. Sukacita yang kerap menjelma menjadi dahaga rindu yang menggulung-gulung memerihkan mata… akupun ingin..</span></span></p>
<p><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"></span></span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"></span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'">Kapankah segala yang hilang itu bisa kembali.<br />
</span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'">Kapankah saya bisa mengikuti jejak langkanya(mereka)</span></span></p>
<p><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"></span></span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"></span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'">Akhir-akhir ini saya terlalu sering menanyakan itu.</span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"><br />
Sedikit demi sedikit semoga perlahan-lahan menangkap bayang-bayang..<br />
</span></span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"></span></span><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"><span style="font-family: 'Arial','sans-serif'"></p>
<p style="margin: 0in 0in 10pt" class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; line-height: 115%"><font face="Calibri"><br />
//Jakarta oh Jakarta</font></span></p>
<p></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2008/09/08/begitu-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

