<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>uNisA &#187; dienul islam</title>
	<atom:link href="http://blog.unisa81.net/category/ilmu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.unisa81.net</link>
	<description>... being a wiFe, a Mom</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 03:31:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>[Artikel Menarik] : Melawan Amerika dan Israel dengan cara lain (Boikot saja tidak cukup)</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2009/02/02/artikel-menarik-melawan-amerika-dan-israel-dengan-cara-lain-boikot-saja-tidak-cukup/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2009/02/02/artikel-menarik-melawan-amerika-dan-israel-dengan-cara-lain-boikot-saja-tidak-cukup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 08:26:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[dienul islam]]></category>
		<category><![CDATA[tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2009/02/02/artikel-menarik-melawan-amerika-dan-israel-dengan-cara-lain-boikot-saja-tidak-cukup/</guid>
		<description><![CDATA[nemu lagi tulisan menarik&#8230; worth to read..
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;
oleh : Lutfiel Hakim Abdullah
Sebelum saya memulai tulisan ini, ada beberapa fakta yang ingin saya sampaikan :
1. Untuk memberikan master franchisenya, Mc DOnald akan mempekerjakan aplikan master franchisenya terlebih dahulu melalui seleksi yang sangat ketat. Di Indonesia, Bambang Rachmadi sang pemegang hak master franchise di Indonesia, harus tinggal di Singapore [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p author_possessive="unisa99's" author="unisa99" id="item_body" class="bodytext">nemu lagi tulisan menarik&#8230; worth to read..</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
oleh : Lutfiel Hakim Abdullah</p>
<p>Sebelum saya memulai tulisan ini, ada beberapa fakta yang ingin saya sampaikan :</p>
<p>1. Untuk memberikan master franchisenya, Mc DOnald akan mempekerjakan aplikan master franchisenya terlebih dahulu melalui seleksi yang sangat ketat. Di Indonesia, Bambang Rachmadi sang pemegang hak master franchise di Indonesia, harus tinggal di Singapore dan bekerja selama 12 jam non stop. Bukan itu saja, dia harus mengepel dan membersihkan toilet untuk memastikan ia &#8220;tahu&#8221; apa yang ia kerjakan dan &#8220;ia&#8221; juga layak mendapatkan master franchise di sebuah negara.</p>
<p>2. Pergilah ke carefour, lalu bandingkan harga kebutuhan barang yang anda perlukan dengan pasar modern lokal. Tidak lupa bandingkan pula cara promosi mereka, pelayanan, dan kenyamanan berbelanja anda. Tapi jangan lihat &#8211; lihat pelayannya ya ..:-)</p>
<p>3. Facebook menjadi booming site di Indonesia dalam waktu sekejap karena fasilitas &#8211; fasilitasnya yang lar biasa. Tidak lama sih, tapi dalam satu hari, saya menghabiskan minimal 5 jam di situs ini. Dan fasilitas yang saya dan anda gunakan sekarang adalah MURNI buatan orang yahudi yang juga anggota persekutuan yahudi yang pastinya mendukung Israel . Kalau disambungkan, jika anda menggunakan komputer IBM, maka komputer tersebut masih merupakan produk terbaik, dan itu juga dibuat oleh orang yahudi.</p>
<p>4. 1/3 dari penerima 600 nobel di dunia itu orang yahudi</p>
<p>Cukup</p>
<p>Wel 4 fakta sederhana di atas menunjukkan betapa saat ini, ras Yahudi sesungguhnya secara nalar logis dan waras with no exception and deception but with full perception unggul atas ras manapun termasuk muslim, mau kader inti PKS, lajnah PBNU, aktifis HTI, Dewan Ansharut tauhid, Asaatidz Salafy atau Lasykar Berani matinya FPI dalam hal pencapaian KINERJA DUNIA. Secara ukhrawi tentu sudah mafhum, mereka kafir dan tidak akan mungkin kafir lebih baik dari seorang mu&#8217;min.</p>
<p>Konspirasi Yahudi</p>
<p>Betulkah? so what? selama ini kita ummat islam biasanya terlalu asyik dengan diri sendiri, jika tidak menyalahkan orang &#8211; orang yahudi atas kemiskinan dan kapitalisme yang melanda dunia Islam. Bro, mungkin saja konspirasi itu benar adanya, sohih atau muttafaqun &#8216;alaih, tapi pernahkah terfikir oleh kita kalau ada banyak hal dari kita yang sebenarnya amat tertinggal dari mereka?<br />
Ada alasan kenapa gaji orang Amerika di Indonesia itu selangit dibanding warga lokal dengan jabatan yang sama. Ada alasan kenapa pengguna internet di Amerika itu mencapai 270 juta dibandingkan di Indonesia yang hanya 20 juta. Ada alasan kenapa banyak motivator terbit dari negeri keparat itu daripada dari negeri muslim.</p>
<p>Sadar woi!!</p>
<p>Terlalu banyak istilah &#8211; istilah talmudz, freemasonry,bintang daud atau simbol &#8211; simbol kengerian yahudi yang justru menjerumuskan kita ke dalam sikap &#8220;blaming&#8221;, menyalahkan orang lain terus &#8211; menerus atas apa yang terjadi, yang itu tidak akan membawa perubahan apapun. Ingat bro, ada banyak alasan kenapa mereka begitu tertib mengantri untuk mendapatkan sesuatu, bandingkan dengan kita yang ngakunya muslim ta&#8217;at tarbiyah lah, generasi barulah apalah, tapi sok nyerobot antrian orang, lampu merah diterjang, kena tilang tinggal nego, bikin SIM nego harga. Ada alasan yang benar &#8211; benar nyata kenapa si Calum Hyslop asal Australia co &#8211; chatting saya itu ngotot kalau mau peace, muslim harus mulai belajar menghargai capaian &#8211; capaian barat dalam hal teknologi kesehatan dan etc.<br />
Ada alasan juga kenapa setiap capres yang kalah di Amerika dengan legowo mengucapkan SELAMAT kepada musuh bebuyutannya sekalipun beberapa saat setelah hasil penghitungan suara diketahui. Untuk satu ini, saya akui PKS sudah melakukannya waktu pilkada DKI (iya dooooong).</p>
<p>Besok atau kapan saja, cari taulah seorang expat asal negerinya Bush yang sering anda samakan dengan monyet itu, lalu bandingkan efektifitas penggunaan waktu kerja dan hasil yang dicapai, termasuk profesionalismenya. Saya juga tidak terlalu underestimate dengan moslem, tapi ini fakta kalau mereka si barat &#8211; barat sialan itu memang somehow lebih hebat dalam bekerja daripada kita secara rata &#8211; rata. Tingkat kesadaran mereka amat tinggi dalam bekerja dan mencapai target. Karenanya ada nama &#8211; nama Brad Sugar, Zig Ziglar, Maxwel dan puluhan bahkan ratusan jumlahnya mengisi daftar motivator yang bisa merubah cara pandang hidup seseorang dalam bekerja.<br />
Ada alasan juga kenapa Israel bisa memiliki senjata &#8211; senjata tercanggih masa kini, dengan pasukan elitnya yang menduduki peringkat pertama di dunia.Gokil kan ?</p>
<p>Karena mereka SMART bro, SMART. Mereka memang cerdas, and they use their mind ketika kita masih sibuk bikin PR buat siswa &#8211; siswa kita, ketika kita masih capek habis dipermak dosen pembimbing karena salah materi. Si Israel gendheng itu pintar, kerjanya juga bagus. Si amerika idiot itu juga kepakai kerjanya karena rapi dan selalu datang tepat waktu, tidak seperti kita yang setiap kali datang memalak toleransi kantor, 5 menitlah, 10 menitlah. Belum facebookan, belum friendster, belum bla bla bla&#8230;.</p>
<p>Bro, so what kalau memang ada konspirasi?<br />
konspirasi atau tidak konspirasi, mereka para musuh kita itu memang hebat dan pintar. apalagi ada konspirasi. Di saat aktifis &#8211; aktifis kampus memperbanyak diskursus tentang konspirasi zionis itu, mereka bahkan sudah bersiap dengan strategi -strategi melemahkan kita.</p>
<p>Intinya? mengetahui adanya konspirasi dan&#8230;ini nih yang sebagian besar aktifis juga tahu, Ghazwul Fikri atau Mind War itu amat penting. Tapi melakukan blind-blaming atas apa yang terjadi itu sama tidak pentingnya dengan anda duduk 1,5 jam nggak ngapa-ngapain nungguin motor anda dicuci. Betul, saya sudah pernah buktikan yang terakhir itu.</p>
<p>Boikot Produk Yahudi</p>
<p>Oh ya, saya di garda paling depan pastinya. Saya amat mengurangi konsumsi untuk produk yang berafiliasi dengan Yahudi laknat semampu saya. Tapi lihatlah, kalau ente jeli wahai para aktifis muslim, gerai Mc D itu jumlahnya sudah lebih dari seratus di Indonesia , dan bertambah setiap tahunnya. Mungkin saja pendapatan mereka sama dengan pendapatan warteg, warsun atau warung pecel lele atau bahkan RM Masakan Padan Bundo Kanduang di seluruh Indonesia . Apa artinya? saya ingin tegas mengatakan, they deserve. Ya, mereka berhak kok. Manajemen Mc Donald itu profesional sekali. Kecuali orang yang memang selera burgernya rendah, mungkin mereka tidak akan menyukai buatan Mc Donald yang yummy. Secara hitung &#8211; hitungan bisnis pun mereka masuk akal dan menguntungkan sehingga banyak peminat investasi. Lihat saja poin pertama tadi, itu cerita dari sang pemegang master franchise Indonesia . Direktur utama bank terkemuka disuruh ngepel dan bersih &#8211; bersih toilet Mc Donald Singapore untuk memastikan dia tahu apa yang harus dikerjakan kelak. Kita bagaimana? Yang penting fulus, franchise lancar. Jadi wajar saja bro, kalau seruan boikot itu untuk sementara masih berlaku di internal penyeru saja.</p>
<p>Saya kira contoh di atas cukup menjadi bukti kehebatan si Yahudi cilako dalam berbisnis. Ini juga berlaku untuk produk lain seperti : Johnson, Klub Arsenal atau Carefour. Mereka kelola secara profesional dan hasilnya mereka memenangkan pasar.</p>
<p>Dalam bab boikot ini, saya ingin menyampaikan pesan bahwa<strong> BOIKOT SAJA TIDAK CUKUP</strong>.</p>
<p>Solusi apa dong?</p>
<p>Ini dia yang terhubung langsung dengan judul &#8220;Melawan Amerika dan Yahudi dengan Cara Lain&#8221;</p>
<p>1. Amat penting : Belajarlah<br />
Ya, belajar belajar dan belajarlah. Jangan novel karangan Kang Abik saja yang dibaca. Moslem mesti segera menyalip ketertinggalan pengetahuan dari si sombong barat wal yahuud itu. Belajar teknologi tingkat tinggi, jangan hanya puas dengan menjadi trend-follower. Sudahlah menjadi Trend &#8211; Follower, trennya gaya barat pula!! Saya menunggu webber muslim Indonesia menciptakan chestbook atau earbook, atau eyebook atau apalah untuk mengganti facebooknya Yahud yang mengasyikkan ini. Anda yang bergelar S.Pt. belajarlah pertanian untuk mengurangi impor &#8211; impor pertanian dari luar negeri, apalagi dari eropa. Malu bro, malu !! mau dikemanakan muka ente kalau negara muslim yang kaya ini menjadi pengemis barang pertanian dari orang asing.<br />
Pendidikan di Indonesia yang single-majoritynya adalah muslim ini sudah bak kereta supercepat TGV lines dari negerinya Sarkozy melawan dokar yogya. Jauh banget bro. Bumi dan langit. Lihat saja muka ente yang merah padam kalau ketemu orang berkulit bule. Kenapa? takut diajak ngobrol karena tidak bisa berbahasa Inggris. padahal si bule ternyata bernama WAHYU SUPARNO&#8230;..<br />
Maka secara teoritis, sebenarnya kita harus melompat untuk mengejar, karena berlari dengan kecepatan yang sama pun masih tertinggal, dan kondisi saat ini, kita terus tertinggal karena si Yahuud yang memang yahuud itu makin cepat berlari.</p>
<p>2. Entrepreneurship<br />
Makanan apa tuh? itu bukan makanan bro, tapi itu SUMBER MAKANAN orang &#8211; orang Yahudi. Mungkin sampai dengan urutan ke 1000 sekian di top ranking the richest man in the world, tidak satupun yang berstatus ini : Karyawan. Ya, mereka itu entrepreneur bro. Pengusaha. Mereka jatuh bangun membangun usaha mereka dari nol sampe sukses. Kalau ada IBM, Microsoft, Mc D, KFC, atau merek &#8211; merek tetek bengek dari Amrik itu yang punya pastilah seorang Entrepreneur dan bukannya karyawan.</p>
<p>Masa iya para sarjana Islam yang yang bergelar SEI, Ir, SE, SPd, dibandrol sejuta limaratus perbulan sudah puas? pantesan pas aksi ONE MAN ONE DOLLAR nyumbangnya juga pas &#8211; pasan. Bro, Ciputra yang notabene non muslim saja tahu, kalau Indonesia mau maju, harus ada minimal 2% pengusaha dari total penduduknya. Sedangkan sekaran hanya berkisar 0,00 sekian persen.</p>
<p>Kenapa entrepreneur dan bagaimana caranya?<br />
Tentu, selama belum ada resto cepat saji sekelas Mc Donald yang kualitasnya minimal sama, ya logislah konsumen akan tetap setia pada istri tua <img src='http://blog.unisa81.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>iya lah.Mana mau konsumen beli komputer abal &#8211; abal sebagai ganti IBM yang ciamik. Makanya moslemlah yang harus menciptakan saingan untuk IBM, KFC, CFC, Jhonson, Danone, Facebook, Friendster de el es be. Ganyang tuh pasarnya dengan profesional. Dengan cara ini,akan habislah itu Tiran Israel.Puaslah kita.</p>
<p>Saya tidak ada modal, gimana nih?<br />
Nah&#8230;ini nih. Ini dia mental khas kebanggaan warga Inlander yang mesti dimasukin kotak sabun terus dicuci bersih &#8211; bersih. Bagi saya, kalau setelah lulus sarjana &#8211; sarjana muslim itu masih bertanya demikian, saya pasti akan memprovokasi generasi setelahnya atau yang masih kuliah untuk KELUAR DARI SEKOLAH. Ya ngapain sekolah sampai gelarnya se abgrek kalau pertanyaannya tidak bermutu?<br />
Andrie wongso itu lulusan apa dan modal apa? kenapa dia bisa kaya dan terkenal? SD bro!!! bayangkan!!!<br />
Masa kalah sama lulusan SD? saya menyarankan siapapun yang ingin diskusi lebih lanjut untuk menghubungi Jay d &#8216;terrorist agara tahu APA SEBENARNYA MODAL.</p>
<p>Kalau rugi dan gagal gimana?<br />
Anda tahu, ketika anda mengucapkan hal tersebut, orang &#8211; orang Yahudi bersorak meneriaki kemenangan mereka. Itu adalah GHOZWUL FIKRI yang anda semua pelajari di halaqoh &#8211; halaqoh. Ya!!! Sudah tentu kemenangan itu milik orang &#8211; orang yang tahan banting. Dan lagi &#8211; lagi, para Yahuud jahat itu sudah membuktikannya. Bacalah sejarah pengusaha &#8211; pengusaha Yahudi&#8230;</p>
<p>Final</p>
<p>Saya masih sangat meyakini bahwa moslem memiliki kekayaan bathin yang sangat banyak, lebih dari bangsa dengan perbuatan terburuk itu.</p>
<p>Yang tidak kita miliki adalah keberanian untuk bertindak. Saya percaya muslim tidak ambisius terhadap harta karena mungkin saja takut terkena wahn. Tapi bolehlah saya berpendapat, MA LAA YATIMMUL WAJIB ILLA BIHI FAHUWA WAJIB. Kalau dengan kemenangan iqtishodi ini menjadi keharusan untuk menaklukkan bangsa sombong itu, maka menjadi kaya juga hukumnya WAJIB bro&#8230;&#8230;</p>
<p>Daftar pustaka:</p>
<p><a target="_blank" href="http://ask.yahoo.com/20000"><u><font color="#0000ff">http://ask.yahoo.com/20000</font></u></a> 210.html<br />
<a target="_blank" href="http://zainalabidin.net/"><u><font color="#800080">http://zainalabidin.net</font></u></a></p>
<p>Lutfiel Hakim Abdullah<br />
Penulis adalah pemilik<br />
Lembaga Layanan Bahasa Asing SPEAK2SUCCESS<br />
<a target="_blank" href="http://www.speak2success.c/"><u><font color="#0000ff">http://www.speak2success.c</font></u></a> om<!-- google_ad_section_end --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2009/02/02/artikel-menarik-melawan-amerika-dan-israel-dengan-cara-lain-boikot-saja-tidak-cukup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Artikel Menarik] : Buat Apa Mikirin Palestina ??</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2009/01/09/artikel-menarik-buat-apa-mikirin-palestina/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2009/01/09/artikel-menarik-buat-apa-mikirin-palestina/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 06:14:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[dienul islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2009/01/09/artikel-menarik-buat-apa-mikirin-palestina/</guid>
		<description><![CDATA[ Nemu di Milis juga..
Buat Apa Mikirin Palestina ??
Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad
Surabaya, 1945
Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa
dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu
masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan
Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman:
&#8220;menyerah, atau hancur&#8221;. Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah
para perindu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin: 0in 0in 10pt" class="MsoNormal"><span style="font-size: 13.5pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif'"><strong> </strong><font size="2">Nemu di Milis juga..</font></span></p>
<p><strong><span style="font-size: 13.5pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif'">Buat Apa Mikirin Palestina ??</span></strong><span style="font-size: 9.5pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif'"></span></p>
<p><span style="font-size: 9.5pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif'">Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad</span></p>
<p><span style="font-size: 9.5pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif'"></span><span style="font-size: 9.5pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif'">Surabaya, 1945</span></p>
<p><span style="font-size: 9.5pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif'"></span><span style="font-size: 9.5pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif'">Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa<br />
dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu<br />
masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan<br />
Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman:<br />
&#8220;menyerah, atau hancur&#8221;.</span><span style="font-size: 9.5pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif'"> </span><span style="font-size: 9.5pt; line-height: 115%; font-family: 'Arial','sans-serif'">Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah<br />
para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari<br />
bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak<br />
rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan,<br />
bersembunyi di <span id="more-179"></span>balik alasan &#8220;memulihkan perdamaian dan ketertiban&#8221;.<br />
Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan<br />
tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.</p>
<p>Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat<br />
perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak<br />
yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah,<br />
Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.</p>
<p>Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.</p>
<p>&#8220;Saudara-saudara rakyat Surabaya.<br />
Bersiaplah! Keadaan genting.<br />
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.<br />
Jangan mulai menembak.<br />
Baru kalau kita ditembak.<br />
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.<br />
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.<br />
Dan untuk kita saudara-saudara.<br />
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.<br />
Semboyan kita tetap.<br />
Merdeka atau mati.<br />
Dan kita yakin, Saudara-saudara.<br />
Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.<script>          <!-- D(["mb","\u003cbr\u003e\nSebab Allah selalu berada di pihak yang benar.\u003cbr\u003e\nPercayalah Saudara-saudara!\u003cbr\u003e\nTuhan akan melindungi kita sekalian.\u003cbr\u003e\nAllahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nMerdeka!\u0026quot;\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nPeristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai\u003cbr\u003e\ntonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini\u003cbr\u003e\ntidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\n***\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nGaza, peralihan tahun 2008-2009\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nKota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi\u003cbr\u003e\nakibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi\u003cbr\u003e\nilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang\u003cbr\u003e\ndibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008,\u003cbr\u003e\npesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman\u003cbr\u003e\nWashington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan\u003cbr\u003e\nIsrael, menyatakan bahwa operasi berjudul \u0026quot;Cast Lead\u0026quot; ini akan\u003cbr\u003e\nmemakan\u003cbr\u003e\nwaktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan\u003cbr\u003e\nribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis\u003cbr\u003e\npun kesulitan.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nDemonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga\u003cbr\u003e\nAmerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat\u003cbr\u003e\nkurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\n***\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nHati saya sakit saat ada yang berkata: \u0026quot;Ngapain kita ngurusin\u003cbr\u003e\nPalestina, wong negeri kita saja masih amburadul\u0026quot;.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nSemoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini,\u003cbr\u003e\nMufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan\u003cbr\u003e\nIndonesiadi radio internasional.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nAlasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan\u003cbr\u003e\nkejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang\u003cbr\u003e\nDasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk\u003cbr\u003e\npenjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa\u003cbr\u003e\nnasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. \u0026quot;Jangan pikirkan",1] );  //--></script><br />
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.<br />
Percayalah Saudara-saudara!<br />
Tuhan akan melindungi kita sekalian.<br />
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!</p>
<p>Merdeka!&#8221;</p>
<p>Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai<br />
tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini<br />
tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.</p>
<p>***</p>
<p>Gaza, peralihan tahun 2008-2009</p>
<p>Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi<br />
akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi<br />
ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang<br />
dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008,<br />
pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman<br />
Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan<br />
Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul &#8220;Cast Lead&#8221; ini akan<br />
memakan<br />
waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan<br />
ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis<br />
pun kesulitan.</p>
<p>Demonstrasi bergolak dari<!--more--> Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga<br />
Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat<br />
kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.</p>
<p>***</p>
<p>Hati saya sakit saat ada yang berkata: &#8220;Ngapain kita ngurusin<br />
Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul&#8221;.</p>
<p>Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini,<br />
Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan<br />
Indonesiadi radio internasional.</p>
<p>Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan<br />
kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang<br />
Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk<br />
penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa<br />
nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. &#8220;Jangan pikirkan<script>          <!-- D(["mb","\u003cbr\u003e\nhal lain kecuali Indonesia\u0026quot; adalah logika yang menghina keindonesiaan.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nHati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan \u0026quot;Itu kan salah\u003cbr\u003e\nHAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di\u003cbr\u003e\nIndonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!\u0026quot;\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nLalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang\u003cbr\u003e\nlebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan\u003cbr\u003e\nini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan\u003cbr\u003e\nsikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus\u003cbr\u003e\nmenelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya\u003cbr\u003e\nBeyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History\u003cbr\u003e\ndan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah\u003cbr\u003e\ndibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun\u003cbr\u003e\ntidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam\u003cbr\u003e\nisu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org .\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nBahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada\u003cbr\u003e\nIsrael. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan\u003cbr\u003e\nbersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh suratprotes gerakan\u003cbr\u003e\nperlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gazaoleh tentara\u003cbr\u003e\nIsrael. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar\u003cbr\u003e\nperjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan\u003cbr\u003e\npemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok\u003cbr\u003e\npemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada\u003cbr\u003e\nkebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam\u003cbr\u003e\ndari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\n\u0026quot;Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…\u0026quot;\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nSampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini.\u003cbr\u003e\nAlhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian\u003cbr\u003e\npalsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: \u0026quot;Ini\u003cbr\u003e\ndadaku, mana dadamu!\u0026quot;\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nKalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi",1] );  //--></script><br />
hal lain kecuali Indonesia&#8221; adalah logika yang menghina keindonesiaan.</p>
<p>Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan &#8220;Itu kan salah<br />
HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di<br />
Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!&#8221;</p>
<p>Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang<br />
lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan<br />
ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan<br />
sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus<br />
menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya<br />
Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History<br />
dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah<br />
dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun<br />
tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam<br />
isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org .</p>
<p>Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada<br />
Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan<br />
bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh suratprotes gerakan<br />
perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gazaoleh tentara<br />
Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar<br />
perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan<br />
pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok<br />
pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada<br />
kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam<br />
dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.</p>
<p>&#8220;Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…&#8221;</p>
<p>Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini.<br />
Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian<br />
palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: &#8220;Ini<br />
dadaku, mana dadamu!&#8221;</p>
<p>Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi<script>          <!-- D(["mb","\u003cbr\u003e\nMiliter Belanda pada tahun 1948. \u0026quot;Itu kan salah para pejuang\u003cbr\u003e\nkemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!\u0026quot;\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nTidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang\u003cbr\u003e\ndarah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran\u003cbr\u003e\nterhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of\u003cbr\u003e\nPalestine ). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah\u003cbr\u003e\nKhilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan\u003cbr\u003e\nsaudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan\u003cbr\u003e\nmembawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus,\u003cbr\u003e\nJerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil\u003cbr\u003e\nkomunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri\u003cbr\u003e\ndengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau\u003cbr\u003e\nmuslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka\u003cbr\u003e\npasti segera dicokok dan dilabeli teroris.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nMemori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran\u003cbr\u003e\nrakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus\u003cbr\u003e\nhidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang\u003cbr\u003e\nPalestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada\u003cbr\u003e\nmereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika\u003cbr\u003e\npopularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nIndonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta\u003cbr\u003e\nini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam\u003cbr\u003e\nnarasi fiktif \u0026quot;Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh\u003cbr\u003e\nHAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai\u0026quot;.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nKalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba\u003cbr\u003e\nIsrael itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka\u003cbr\u003e\nyang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya\u003cbr\u003e\nmendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan\u003cbr\u003e\nterbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah.\u003cbr\u003e\nTidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu",1] );  //--></script><br />
Militer Belanda pada tahun 1948. &#8220;Itu kan salah para pejuang<br />
kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!&#8221;</p>
<p>Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang<br />
darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran<br />
terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of<br />
Palestine ). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah<br />
Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan<br />
saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan<br />
membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus,<br />
Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil<br />
komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri<br />
dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau<br />
muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka<br />
pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.</p>
<p>Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran<br />
rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus<br />
hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang<br />
Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada<br />
mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika<br />
popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.</p>
<p>Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta<br />
ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam<br />
narasi fiktif &#8220;Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh<br />
HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai&#8221;.</p>
<p>Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba<br />
Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka<br />
yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya<br />
mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan<br />
terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah.<br />
Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu<script>          <!-- D(["mb","\u003cbr\u003e\ndipaksakan pada Palestina.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nKemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak\u003cbr\u003e\npada yang lemah dan tertindas.\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\n\u0026quot;If you stand for nothing, you will fall for anything\u0026quot;\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nBest Regards,\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nBudi Hidayat\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\nGet your preferred Email name!\u003cbr\u003e\nNow you can @\u003ca href\u003d\"http://ymail.com\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003eymail.com\u003c/a\u003e and @\u003ca href\u003d\"http://rocketmail.com\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003erocketmail.com\u003c/a\u003e. \u003cbr\u003e\n\u003ca href\u003d\"http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003ehttp://mail.promotions.yahoo.\u003cWBR\u003ecom/newdomains/aa/\u003c/a\u003e\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\n[Non-text portions of this message have been removed]\u003cbr\u003e\n\u003cbr\u003e\n\u003c/p\u003e\n    \u003c/div\u003e  \n\n    \n    \u003cspan width\u003d\"1\" style\u003d\"color:white\"\u003e__._,_.___\u003c/span\u003e\n    \n    \u003cdiv\u003e\n              \u003cspan\u003e\n          \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/Al-Ikhwan/message/10060;_ylc\u003dX3oDMTM3OXR1YWcwBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEzMTkxMDUxBGdycHNwSWQDMTcwNTA4MzY2MwRtc2dJZAMxMDA2MARzZWMDZnRyBHNsawN2dHBjBHN0aW1lAzEyMzE0NzIxMzUEdHBjSWQDMTAwNjA-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003e\n            Messages in this topic          \u003c/a\u003e (\u003cspan\u003e1\u003c/span\u003e)\n        \u003c/span\u003e\n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/Al-Ikhwan/post;_ylc\u003dX3oDMTJyYXRlMzA4BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEzMTkxMDUxBGdycHNwSWQDMTcwNTA4MzY2MwRtc2dJZAMxMDA2MARzZWMDZnRyBHNsawNycGx5BHN0aW1lAzEyMzE0NzIxMzU-?act\u003dreply\u0026amp;messageNum\u003d10060\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003e\n          \u003cspan\u003e\n            Reply          \u003c/span\u003e (via web post)\n        \u003c/a\u003e  | \n        \u003ca href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/Al-Ikhwan/post;_ylc\u003dX3oDMTJmMGx1dXBpBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEzMTkxMDUxBGdycHNwSWQDMTcwNTA4MzY2MwRzZWMDZnRyBHNsawNudHBjBHN0aW1lAzEyMzE0NzIxMzU-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\u003e\n          Start a new topic        \u003c/a\u003e\n          \u003c/div\u003e \n    \n    \n    ",1] );  //--></script><br />
dipaksakan pada Palestina.</p>
<p>Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak<br />
pada yang lemah dan tertindas.</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2009/01/09/artikel-menarik-buat-apa-mikirin-palestina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Artikel Menarik] : Fatwa Larangan Demonstrasi Membela Palestina Memalukan</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2009/01/09/artikel-menarik-fatwa-larangan-demonstrasi-membela-palestina-memalukan/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2009/01/09/artikel-menarik-fatwa-larangan-demonstrasi-membela-palestina-memalukan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 06:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[dienul islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2009/01/09/artikel-menarik-fatwa-larangan-demonstrasi-membela-palestina-memalukan/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel menarik, nemu di milis muslimblog
FATWA LARANGAN DEMONSTRASI MEMBELA PALESTINA MEMALUKAN
2009-01-08 18:09:10
kispa.org . Syeikh Dr. Wahbah Zuhaili anggap fatwa larangan
demonstrasi membela Palestina oleh ulama salafi sebagai hal memalukan.
Pernyataan Syeikh Wahbah ini keluar menanggapi pernyataan fatwa
haramnya demonstrasi dalam rangka membela Palestina yang dikeluarkan
ulama salafi asal Saudi, Syeikh Shalih Al Luhaidan.
Sebelumnya, Syeikh Shalih Al Luhaidan yang juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel menarik, nemu di milis muslimblog</p>
<p>FATWA LARANGAN DEMONSTRASI MEMBELA PALESTINA MEMALUKAN<br />
2009-01-08 18:09:10</p>
<p><a target="_blank" href="http://kispa.org/" onclick="return top.js.OpenExtLink(window,event,this)">kispa.org</a> . Syeikh Dr. Wahbah Zuhaili anggap fatwa larangan<br />
demonstrasi membela Palestina oleh ulama salafi sebagai hal memalukan.</p>
<p>Pernyataan Syeikh Wahbah ini keluar menanggapi pernyataan fatwa<br />
haramnya demonstrasi dalam rangka membela Palestina yang dikeluarkan<br />
ulama salafi asal Saudi, Syeikh Shalih Al Luhaidan.</p>
<p>Sebelumnya, Syeikh Shalih Al Luhaidan yang juga Ketua Majelis Al A&#8217;la<br />
li Al Qadha&#8217; Arab Saudi ini mengatakan, bahwa demonstrasi yang<br />
terjadi di jalanan Arab untuk membela warga Gaza termasuk membuat<br />
&#8220;fasad fi Al Ardhi&#8221; alias kerusakan di muka bumi. Tak sekedar itu, ia<br />
juga menilai, demonstrasi sebagai hal yang tidak baik dan tidak<br />
mendatangkan kebaikan.</p>
<p>Pernyataan Shalih Al Luhaidan ini langsung banyak disambut kritik<br />
beberapa ulama lain di dunia.</p>
<p>Syeikh Wahbah [kiri, menggunakan penutup kepala putih]. Shalih<br />
Luhaidan [kanan]</p>
<p>Beberapa ulama menyatakan bahwa Fatwa Luhaidan yang telah dilansir<br />
oleh koran al Hayat, hari Sabtu (3/2) itu sebagai &#8220;perkataan yang amat<br />
memalukan&#8221; bagi dunia Islam. Sedangkan <span id="more-178"></span>yang lain mengatakan bahwa hal<br />
itu merupakan &#8220;kriminal besar&#8221; karena memerintahkan orang lain untuk<br />
tidak mengungkapkan sikap lewat demontrasi.</p>
<p>Beberapa ulama yang melakukan pertemuan di Kairo sepakat bahwa<br />
demontrasi mendukung warga Gaza yang sedang dibantai Israel saat ini<br />
adalah wajib, secara syar&#8217;i dan aqli.</p>
<p>Salah satu dari ulama yang hadir adalah Syeikh Dr Wahbah Az Zuhaili,<br />
Wakil Ketua Majma&#8217; Fuqaha As Syari&#8217;ah Amerika dan profesor bidang<br />
fikih di Universitas Damaskus.</p>
<p>Syeikh Wahbah merasa heran dan sangat mempertanyakan fatwa Al<br />
Luhaidan. &#8220;Di mana letak kerusakan di bumi, ketika kita melakukan<br />
demontrasi menentang kekejaman Israel atas Gaza? Mengatakan hal itu<br />
(pelarangan demonstrasi) sama dengan mengakui penjajahan. Jika<br />
demontrasi untuk menghancurkan kemungkaran maka hal itu bukan<br />
menciptakan kerusakan di bumi,&#8221; ujar Syeikh Wahbah.</p>
<p>&#8220;Tidak tepat jika fatwa ini berlaku di dunia Islam secara umum, karena<br />
ditujukan kepada umat Islam, minimal fatwa ini adalah fatwa lokal,<br />
akan tetapi ini juga tidak tepat, karena pentingnya peran demontrasi<br />
dan wajibnya untuk situasi seperti ini,&#8221; tambah Wahbah.</p>
<p>Ulama yang baru mendapatkan penghargaan dari pemerintah Malaysia ini<br />
juga menyatakan,&#8221;Fatwa ini tidak benar, dan ini dipengaruhi oleh<br />
situasi yang ada di Saudi, dan mereka selalu menjaga adat, karena<br />
raja-rajanya menolak munculnya demontrasi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ia menjelaskan bahwa tidak setiap demonstrasi adalah perusakan di atas<br />
bumi, dihukumi merusak jika melakukan perusakan, mencemooh tanpa<br />
sebab, maka hal ini termasuk menimbulkan kerusakan.</p>
<p>&#8220;Demontrasi adalah pengungkapan pendapat, dan itu termasuk hak setiap<br />
orang menurut pandangan Islam. Dan pentingnya demonstrasi serta<br />
perannya sudah terbukti oleh sejarah, dimana ia memiliki pengaruh<br />
besar dalam mengusir penjajahan atas bumi Islam&#8221;, beliau menutup<br />
perkataan.</p>
<p>Dr Abdul Mu&#8217;thi Al Bayumi, anggota Majma&#8217; Al Buhuts Al Islami Al<br />
Azhar, Mesir juga menyatakan bahwa fatwa itu tidak dibenarkan.</p>
<p>&#8220;Demontrasi merupakan cara untuk mengungkapan pendapat, karena sebagai<br />
&#8220;umat lemah&#8221;, mereka tidak mendapatkan cara agar pendapat mereka<br />
didengar oleh para pengambil keputusan. Kalau hal ini dilarang,<br />
bagaimana cara mereka mengungkapkan pendapat dan didengar?&#8221;</p>
<p>Bayumi menegaskan bahwa demontrasi harus tetap memiliki etika dan<br />
tidak melakukan perusakan.</p>
<p>Sedangan Dr Abdul Lathif Mahmud Al Mahmud, anggota Majelis Al A&#8217;la li<br />
Syu&#8217;un Al Islamiyah (Majelis Tinggi untuk Urusan Keislaman), Mesir<br />
mengatakan, . &#8220;Apa yang marusak bumi yang dikatakan Luhaidan?! Saya<br />
yakin bahwa fatwa ini menyelisihi syariat Allah. Allah berfirman,&#8221;Dan<br />
persiapkanlah kekuatan segalah apa yang kalian mampui&#8221; [Al Anfal: 60].<br />
Dan demontrasi termasuk bagian kekuatan publikasi, yang mencerminkan<br />
dukungan mayoritas umat Islam terhadap mujahidin di Gaza,&#8221; katanya.</p>
<p>Di juga menegaskan tidak ada bentuk kerusakan, ketika sekelompok orang<br />
mengungkapkan pendapatnya untuk merespon serangan Israel atas Gaza<br />
yang membuat jatuh ratusan korban, dengan cara yang baik.</p>
<p>Dr Hasan As Syafi&#8217;i mantan rektor Al Jami&#8217;ah Al Islamiyah Pakistan<br />
juga menegaskan bahwa yang mengeluarkan fatwa demikian harus<br />
bertanggung jawab dan siap meralat. Ungkapan seluruh umat Islam yang<br />
terjadi di suluruh dunia saat ini untuk mendukung Gaza, tidak mungkin<br />
bisa dikatakan sebagai perbuatan menciptakan kerusakan di atas<br />
bumi.(tho/IOL/hidayatullah/fn)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2009/01/09/artikel-menarik-fatwa-larangan-demonstrasi-membela-palestina-memalukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wudhu Lahir Batin</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2008/07/10/wudhu-lahir-batin/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2008/07/10/wudhu-lahir-batin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 04:03:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[dienul islam]]></category>
		<category><![CDATA[tausiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2008/07/10/wudhu-lahir-batin/</guid>
		<description><![CDATA[Forward-an dari milis tetangga. Tulisan yang menohok&#8230;
Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat waras dan khusyuk
sholatnya. Namun, dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang
khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggap lebih ibadahnya,
demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim
Al-Assam dan bertanya, &#8220;Wahai Aba Abdurrahman, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Forward-an dari milis tetangga. Tulisan yang menohok&#8230;</p>
<p><span style="color: #333333">Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat waras dan khusyuk<br />
sholatnya. Namun, dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang<br />
khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggap lebih ibadahnya,<br />
demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk.</p>
<p>Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim<br />
Al-Assam dan bertanya, &#8220;Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya<br />
tuan sholat?&#8221;<br />
Hatim berkata, &#8220;Apabila masuk waktu solat, aku berwudhu lahir dan<br />
batin.&#8221;<br />
Isam bertanya, &#8220;Bagaimana wudhu lahir dan batin itu?&#8221;<br />
Hatim berkata,&#8221;Wudhu lahir sebagaimana biasa yaitu membasuh semua<br />
anggota wudhu dengan air&#8221;.</p>
<p>Sementara wudhu batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :-</p>
<p>* Bertaubat</p>
<p>* Menyesali dosa yang telah dilakukan</p>
<p>* Tidak tergila-gilakan dunia</p>
<p>* Tidak mencari/mengharap pujian orang (riya&#8217;)</p>
<p>* Tinggalkan sifat berbangga</p>
<p>* Tinggalkan sifat khianat dan menipu</p>
<p>* Meninggalkan sifat dengki.&#8221;</p>
<p>Seterusnya Hatim berkata, &#8220;Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan<br />
semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh<br />
kewaspadaan dan aku rasakan:</p>
<p>1.aku sedang berhadapan dengan Allah,</p>
<p>2.Surga di sebelah kananku,</p>
<p>3.Neraka di sebelah kiriku,</p>
<p>4.Malaikat Maut berada di belakangku, dan</p>
<p>5.Aku bayangkan pula aku seolah-olah berdiri di atas titian &#8216;Shiratal<br />
mustaqim&#8217; dan menganggap bahwa sholatku kali ini adalah sholat terakhir<br />
bagiku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Setiap bacaan dan doa didalam sholat, aku paham maknanya kemudian aku<br />
ruku&#8217; dan sujud dengan tawadhu, aku bertasyahud dengan penuh pengharapan<br />
dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersholat selama 30<br />
tahun.&#8221;</p>
<p>Apabila Isam mendengar, menangislah dia karena membayangkan ibadahnya<br />
yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2008/07/10/wudhu-lahir-batin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Menyerah Saudariku</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2008/06/22/jangan-menyerah-saudariku/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2008/06/22/jangan-menyerah-saudariku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 14:24:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[dienul islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2008/06/22/jangan-menyerah-saudariku/</guid>
		<description><![CDATA[sumber :http://muslimah.or.id/nasihat-untuk-muslimah/jangan-menyerah-saudariku.html 
Penulis: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.
Pusing! itulah yang ada di kepala Ida (bukan nama sebenarnya). Sepertinya ‘tuntutan hidup’ mengharuskan dia bekerja, yang itu berarti dia harus bercampur baur dengan para pria. Ya Allah, kuatkanlah imannya dan berikan sifat istiqomah dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu. Aamiin.
Sebuah tuntutan dari orang yang telah membiayai pendidikan (kuliah), baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="PostContent">sumber :http://muslimah.or.id/nasihat-untuk-muslimah/jangan-menyerah-saudariku.html </p>
<p>Penulis: Ummu Ziyad<br />
Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.</p>
<p>Pusing! itulah yang ada di kepala Ida (bukan nama sebenarnya). Sepertinya ‘tuntutan hidup’ mengharuskan dia bekerja, yang itu berarti dia harus bercampur baur dengan para pria. Ya Allah, kuatkanlah imannya dan berikan sifat istiqomah dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu. <em>Aamiin.</em></p>
<p><span id="more-11"></span>Sebuah tuntutan dari orang yang telah membiayai pendidikan (kuliah), baik itu <span id="more-137"></span>orang tua, kakak, paman, bibi, atau yang lainnya adalah sebuah kewajaran ketika mereka merasa bahwa ‘tugas’ mereka menyekolahkan seorang anak telah selesai. Lalu, apakah setiap tuntutan itu harus dipenuhi? Lalu kemudian teringat sebuah hadits dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang maknanya adalah sebuah kebaikan dibalas dengan kebaikan yang serupa, dan bila tidak mampu maka dengan mendoakannya (HR. Baihaqi). Berbagai pikiran mungkin berkecamuk di benak, <em>“Entah telah berapa puluh juta yang mereka telah keluarkan untuk membiayai kuliahku, tapi entah berapa yang bisa kubalas, atau entah apakah sebanding yang kudapat sekarang dengan yang mereka korbankan.”</em> Di samping tuntutan dari orang-orang di belakang layar selama proses menempuh perkuliahan, masih pula dikejar-kejar oleh kebutuhan hidup yang perlu dipenuhi. Dan biaya-biaya tak terduga yang pada intinya akan mengurangi ‘bekal’ yang masih tersisa. Seakan-akan semua keadaan itu berteriak bersama-sama, <em>“Kerja! kerja! kerja!”, “Cari yang bergaji wah!”, “Pendekkan saja jilbabmu, tidak apa-apa, biar cepat mendapatkan kerja!”, “Lepas cadarmu, tidak ada yang mau menerima wanita seperti dirimu”, “Jangan cuma kerja yang begitu!”</em> Dan bisikan-bisikan hawa nafsu yang setiap orang pasti memilikinya, dan tidaklah hawa nafsu itu melainkan mengajak pada keburukan.</p>
<p>Saudariku, kuatkan imanmu!</p>
<p>Dimana pelajaran tauhid yang selama ini telah engkau pelajari? Dan kemanakah perginya konsekuensi dari pengenalan nama dan sifat Allah Ta’ala yang telah engkau ketahui? Engkau mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya. Engkau telah mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah mengatur seluruhnya dan tertulis dalam kitab Lauh Mahfuz. Jauh, jauh sebelum engkau diciptakan. Segala ketentuannya tak dapat dirubah. Namun, engkau adalah manusia yang menjalankan dengan berbagai pilihan. Dan engkau akan dimudahkan pada setiap takdir yang telah ditentukan. Dari pengenalanmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, engkau mengetahui, bahwa rezeki, kehidupan yang baik dan buruk, seluruhnya telah ditentukan. Maka, berdoalah! Dan bersabarlah! Serta bersyukurlah dengan keadaanmu sekarang.</p>
<p><em>…Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat itu. <strong>Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur</strong>.</em> (Al Imraan [3]: 145)</p>
<p>Engkau tidak dapat mengejar tujuan hidup berupa kekayaan. Dan engkau -seharusnya- tidak menanggalkan pakaian ketakwaan. Kekayaan telah ditentukan. Nikmat Islam telah diberikan. Keadaan yang diberikan kepadamu sekarang, insya Allah adalah lebih baik dari yang lain atau yang sebelumnya. Jika engkau masih memikirkan, antara keinginan yang kuat untuk tetap bertahan dalam ketaatan menjalankan syari’at, maka bersyukurlah! Karena itu adalah keadaan yang lebih baik untuk dirimu. Bandingkanlah dengan keadaan mereka yang tidak perlu bersusah payah mempertimbangkan itu semua. Dan dengan mudahnya mereka jatuh dalam gelimang dosa. Dan salah satu cara untuk mewujudkan rasa syukurmu adalah dengan lebih menjalankan ketaatan kepada-Nya. Perhatikanlah firman Allah ta’ala kepada orang-orang yang telah diberikan nikmat.</p>
<p><em>…Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.</em> (Al A’raaf [7]: 69)</p>
<p>Nikmat yang engkau rasakan dalam menjalankan ketaatan dalam agama Islam adalah jauh lebih baik dari dunia dan segala isinya. Tidak semua orang Islam dapat merasakan ini. Karena terdapat dua nikmat dalam Islam. Nikmat karena telah beragama Islam (<em>ni’mat lil islam</em>) dan nikmat dalam Islam itu sendiri (<em>ni’mat fil islam</em>). Tidak semua orang Islam mendapatkan nikmat untuk menjalankan ketundukan pada syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah dijelaskan oleh Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Ya! Baiklah! Masih berkutat di pikiranmu. Bagaimana dengan kebutuhan hidupku?! Bagaimana dengan balas jasaku? <em>Allahumma…</em> semoga Allah memudahkan jalanmu saudariku. Tidakkah engkau ingat bahwa masing-masing telah ditentukan rezekinya. Bahkan sampai binatang yang cacat sekalipun, yang ia tidak dapat mencari makanan sendiri atau mangsa sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji pada hamba-hamba-Nya lewat firman-Nya (dan sungguh janji Allah Ta’ala adalah benar adanya)</p>
<p><em>…Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.</em> (QS. At Thalaq [65]: 2)</p>
<p>Dan ayat ini sejalan dengan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika memberikan jalan bagi seorang muslim dalam menghadapi kehidupan di dunia dimana seorang makhluk memiliki berbagai kebutuhan,</p>
<p><em>Sekiranya kalian bertawwakal kepada Allah secara benar maka Dia akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki pada burung. Mereka berangkat pada waktu pagi dalam keadaan sangat lapar dan pulang dalam keadaan sangat kenyang.</em> (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibn Majah, Ibn Hibban, dan Hakim. Tirmidzi berkata, hadist ini hasan shohih)</p>
<p>Saudariku… burung tersebut tentu tidak memastikan bahwa setiap bulannya harus mendapatkan makanan sekian dan sekian. Namun ia berusaha untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan dan mendapatkan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka bersyukur adalah yang lebih layak engkau lakukan dan dengan demikian maka akan terwujud sikap <em>qona’ah</em> dalam hatimu.</p>
<p><em>Syaitan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan, sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengatahui.</em> (Al-Baqoroh [2]: 268)</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan balas jasaku? Maka dengan menjalankan keta’atan kepada Allah, engkau memberikan balasan yang insya Allah jauh lebih besar manfaatnya untuk mereka di akherat nanti. Mengapa? Perhatikan hadits dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini (yang secara makna artinya) <em>“Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam hal kemaksiatan pada Allah.”</em></p>
<p>Dan dari Abu Hurairah <em>rodhiallahu’anhu</em> Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p><em>Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia menanggung dosanya dan juga menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Maka jika engkau mengikuti mereka dalam sebuah hal yang dapat menjerumuskanmu dalam kemaksiatan, maka ketahuilah saudariku, engkau juga telah memberikan dosa-dosa yang semisal kepada mereka. <em>Wal’iyyadzubillah</em>. Dan berpuluh-puluh juta yang telah mereka korbankan untukmu agar engkau pada akhirnya menjalankan sebuah kemaksiatan tidak akan memberi manfaat sedikitpun di akherat nanti dan justru yang terjadi adalah sebaliknya, mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatannya. Maka, janganlah ukur segala sesuatu dengan materi keduniaan. Karena ada kehidupan yang jauh lebih patut untuk dipikirkan dan dipersiapkan.</p>
<p>Pesan terakhir yang paling baik adalah kalimat dari manusia terbaik yaitu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dari Abu Sa’id Al-Khudry <em>rodhiallahu’anhu</em>, dia berkata. <em>‘Aku memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas di tanganku di atas selimut. Lalu aku berkata. ‘Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimu’. Beliau berkata: ‘Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ? Beliau menjawab: ‘Para nabi. Aku bertanya. ‘Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi? Beliau menjawab: <strong>‘Kemudian orang-orang shalih. Sungguh salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, sungguh salah seorang diantara mereka merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan.’</strong></em> (HR. Ibnu Majah, Al-Hakim, di shahihkan Adz-Dzahaby)</p>
<p><em>Jangan menyerah saudariku!<br />
Rezeki yang kau butuhkan,<br />
tidak hanya bertumpuk pada hiruk pikuk perkantoran.<br />
</em></p>
<p><em>Tidak hanya terkumpul pada tempat yang memudahkanmu menjalankan kemaksiatan.</em><em>Balas jasamu tidak sekedar materi keduniaan.<br />
Sebuah do’a dan amal sholeh lebih dapat menghindarkan mereka dari kehinaan.</p>
<p>Insya Allah.<br />
Semoga Allah memudahkanmu dalam ketaatan.<br />
Dan memberikan yang lebih baik, yaitu manisnya iman.</p>
<p></em>Sebuah nasihat bagi diriku dan ukhtifillah…</p>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2008/06/22/jangan-menyerah-saudariku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Do&#8217;a Berbuka Puasa</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2007/09/14/doa-berbuka-puasa/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2007/09/14/doa-berbuka-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Sep 2007 03:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[dienul islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2007/09/14/doa-berbuka-puasa/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : Copy paste
Hadits dha’if tentang doa berbuka puasa :
Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasannya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan, “Allahumma laka shumtu wa bika amantu …” (HR Abu Dawud no. 2358, Baihaqi 4/239 dan lainnya)
Hadits tersebut di atas dikatakan mursal karena Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber : Copy paste</p>
<p>Hadits dha’if tentang doa berbuka puasa :<br />
Dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasannya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan, “Allahumma laka shumtu wa bika amantu …” (HR Abu Dawud no. 2358, Baihaqi 4/239 dan lainnya)</p>
<p>Hadits tersebut di atas dikatakan mursal karena Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabi’in bukan seorang sahabat, jadi ada sanadnya yang terputus antara sahabat dan tabi’in sehingga haditsnya dikategorikan dha’if.</p>
<p>Sementara itu hadits yang hasan tentang doa berbuka puasa adalah sebagai berikut :<br />
Doa yang biasa diucapkan Rasulullah SAW ketika berbuka puasa, “DzaHabazh zhuma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah” yang artinya “Telah hilang rasa haus dan urat &#8211; urat telah basah serta pahala telah ditetapkan, insya Allah” (HR. Abu Dawud no. 2357, Ad Daraquthni III/1401 no. 2247, dan Al Hakim no. 1/422, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Irwaa-ul Ghaliil no. 920)</p>
<p>Referensi:<br />
1. Al Masaa-il, Abdul Hakim bin Amir Abdat, Darul Qalam, Jakarta, Cetakan Kedua, Tahun 2004 M.<br />
2. Adab Harian Muslim Teladan, Abdul Hamid bin Abdurrahman As Suhaibani, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Januari 2005 M, hal. 184-185.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2007/09/14/doa-berbuka-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TARJIH -Qadha’ dan Fidyah untuk Hamil dan Murdhi’</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2007/09/03/tarjih-qadha%e2%80%99-dan-fidyah-untuk-hamil-dan-murdhi%e2%80%99/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2007/09/03/tarjih-qadha%e2%80%99-dan-fidyah-untuk-hamil-dan-murdhi%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 03:58:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[dienul islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2007/09/03/tarjih-qadha%e2%80%99-dan-fidyah-untuk-hamil-dan-murdhi%e2%80%99/</guid>
		<description><![CDATA[sumber:http://salafyitb.wordpress.com/2006/12/08/tarjih-qadha-dan-fidyah-untuk-hamil-dan-murdhi/
Penulis : Abu Ishaq Umar Munawwir
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’d:
Saya mencoba menulis apa yang bisa ditulis pagi ini, dalam body message agar tidak terkesan formal. Jadi ya bersabarlah kalu dirasa panjang. Nomor hadits tidak ditulis lengkap dan nukilan yang ada tidak disebut detail di halaman berapa, tapi kalau bukunya insya Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sumber:http://salafyitb.wordpress.com/2006/12/08/tarjih-qadha-dan-fidyah-untuk-hamil-dan-murdhi/<br />
<strong>Penulis : Abu Ishaq Umar Munawwir</strong></p>
<p>Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh<br />
Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’d:</p>
<p>Saya mencoba menulis apa yang bisa ditulis pagi ini, dalam body message agar tidak terkesan formal. Jadi ya bersabarlah kalu dirasa panjang. Nomor hadits tidak ditulis lengkap dan nukilan yang ada tidak disebut detail di halaman berapa, tapi kalau bukunya insya Allah disebutlah judul dan penulisnya. Alasan nya, agar ikhwan sekalian meneruskan pembahasan untuk mendapatkan semuanya itu. (Padahal sebenarnya sih karena tidak ingat ….he he he…pokonamah yang terbersit ditulis weh..)</p>
<p>Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Untuk soal dan contoh kasus insya Allah saya jawab juga di sini kalau waktunya cukup. Kalau tidak ya mungkin agak sorean lah insya Allah, atau habis Jum’atan kalau tidak ada kerjaan.</p>
<p>Sekedar mengingatkan, Ibnu Katsir di Muqaddimah tafsirnya mengatakan bahwa tidak sepantasnya kita menyebutkan ikhtilaf dan aqwal para ulama tapi kita kemudian tidak memberikan tarjihnya.</p>
<p>Jadi, mari kita sama-sama belajar untuk itu. Kalau tidak bisa tarjih, ya cukup katakan menurut yang saya tahu berdasarkan pendapat ulama anu begini jadi kita harus begini. Adapun kalau pendapat lain saya tidak tahu. Cukup tanpa menyebutkan ada A, B, C dst tapi kemudian tidak menyodorkan tarjih atau mana yang rajihnya.<br />
Kedua, Al-Ustadz Abdul Hakim Abdat kerap mengingatkan kita untuk melakukan bahts. Tidak berhenti sampai apa kata Syaikh, namun terus menelusuri apa dibalik itu sehingga Syaikh bisa berkesimpulan seperti itu. Alasannya, jika kita berhenti sampai pada apa kata Syaikh, maka begitu Syaikh meninggal ilmu akan terputus bersamanya dan anak-anak kita hanya akan mewarisi kesimpulannya bukan dasarnya sehinga ketika kelak muncul hal serupa tapi tak sama seiring perkembangan peradaban manusa, kebingungan lah yang ada. Wal ‘iyadzu billah.</p>
<p>Adapun berkenaan dengan mana yang rajih bagi hamil dan murdhi’ apakah (1) qadha atau (2) fidyah atau (3) qadha dan fidyah?<span id="more-91"></span></p>
<p>Fabillahi ta’ala nasta’in, Abu Ishaq mengatakan:</p>
<p>Ada ikhtilaf di kalangan para ulama berkenaan dengan permasalahan ini. Pendapat yang mu’tabar terbagi kedalam tiga:</p>
<p>(1) Wanita yang hamil dan murdhi’ (menyusui) boleh tidak berpuasa dan jika demikian mereka wajib qadha saja</p>
<p>(2) Wanita yang hamil dan murdhi’ boleh tidak berpuasa dan jika demikian mereka wajib membayar fidyah saja tanpa qadha</p>
<p>(3) Orang yang hamil dan murdhi’ boleh tidak berpuasa dan jika demikian mereka wajib qadha dan membayar fidyah</p>
<p>Al-Jashshash dalam kitabnya Ahkamul Qur’an membawakan hal ini dengan menyebutkan siapa shahabat yang berpendapat demikian. Ali bin Abi Thalib untuk (1), Ibnu Abbas untuk (2) dan Ibnu Umar untuk (3).</p>
<p>Namun demikian, kita tentu harus melihat dan menelusuri kebenarannya berdasarkan riwayat-riwayat yang sampai kepada kita. Apakah memang demikian?</p>
<p>Mari kita mulai pembahasan dari ayat yang ada:</p>
<p>(1) Allah berfirman: “Dan bagi orang yang tidak mampu berpuasa, maka (ia membayar) fidyah (dengan cara) memberi makan orang miskin” (Al-Baqarah: 184)</p>
<p>Pada awal mula diperintahkannya puasa seperti dalam ayat 183-184 ini, orang diberi kebebasan memilih, kalau mau berpuasa silakan kalau tidak berarti harus memberi makan orang miskin sebagai gantinya (lihat Tafsir Ibnu Katsir). Namun demikian, hukum yang terkadung di ayat 184 ini kemudian dimansukh dengan ayat berikutnya (185) yang mengatakan: “Siapapun yang mendapati bulan (Ramadhan) maka ia harus berpuasa.” Silakan lihat penjelasan mansukhnya ayat 184 oleh ayat 185 ini di buku Shifat Shoum Nabi oleh Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilali.</p>
<p>(2) Allah berfirman: “Maka barangsiapa yang sakit atau sedang safar, (dia boleh tidak berpuasa) dan membayarnya di hari yang lain. Allah mengendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (Al-Baqarah: 185)</p>
<p>Berdasarkan kedua ayat ini maka disimpulkan bahwa semua kaum muslimin wajib berpuasa, dan keringanan untuk tidak berpuasa hanya berlaku bagi orang yang sakit dan orang yang dalam keadaan safar. Dan sebagai kompensasinya, mereka harus membayarnya di hari lain (qadha’).</p>
<p>Namun kesimpulan ini terlalu dini, karena ada riwayat Abu Dawud dan Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas dan Mu’adz bin Jabbal, bahwa hukum “bagi yang tidak mampu maka (ia membayar) fidyah kepada orang miskin” tetap berlaku, hanya berlakunya itu adalah bagi pria yang sudah tua, wanita yang sudah tua serta wanita hamil dan murdhi’. Kedua riwayat ini shahih adanya.</p>
<p>Dengan demikian, maka kesimpulan lanjutannya adalah:</p>
<p>Semua kaum muslimin yang mendapati bulan ramadhan wajib berpuasa. Kewajiban ini dikecualikan bagi:</p>
<p>- Musafir dan orang sakit, keduanya boleh tidak berpusa tetapi harus menggantinya di lain hari (qadha).</p>
<p>- Orang tua, wanita hamil dan menyusui (murdhi’), mereka boleh tidak berpuasa tetapi harus menggantinya dengan cara memberi makan orang miskin sejumlah harinya (fidyah).</p>
<p>Sampai disini jelas lah permasalahan.</p>
<p>Namun jika demikian kesimpulannya, kenapa ada pendapat yang mengatakan harus qadha -baik menyendiri hanya qadha ataupun dibarengi dengan fidyah- ?</p>
<p>Jawabnya, qadha dan fidyah adalah ibadah, dan al-aslu fil ‘ibadati at-tauqifiyyah. Jadi, mana dalilnya kalu qadho ikut berperan dalam bolehnya wanit hamil dan murdhi untuk tidak berpuasa? Kalau memang ada dalil tentu kita nyatakan demikian, kalau tidak ada dalil berarti kembali pada kesimpulan di atas.</p>
<p>Mereka yang berpendapat qadha sangat bertanggung jawab, apa yang diyakini berpijak pada dalil sebagi berikut:</p>
<p>Hadits riwayat An-Nasa’i dari Anas bin Malik: “Sesungguhnya Allah mengangkat (kewajiban) dari musafir setengah sholat dan dari wanita hamil serta menyusui (kewajiban) puasa.”</p>
<p>Hadits ini shohih adanya. Hadits ini juga merupakan dalil bahwa wanita hamil dan menyusui mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa.</p>
<p>Dari hadits ini, mereka beristidlal bahwa posisi musafir dan wanita hamil serta menyusui ini sama karena adanya dilalah iqtiran di sana yaitu dan . Dengan demikian maka kompensasinya sama yaitu harus mengganti di lain hari karena musafir apabila tidak berpuasa ia harus menggantinya di lain hari (qadha).</p>
<p>Mereka juga menggunakan qiyas dengan orang sakit. Oleh karena orang sakit apabila tidak berpuasa harus menggantinya di lain hari (qadha’), maka demikian juga halnya dengan wanita hamil dan menyusui.</p>
<p>Dengan demikian, jelaslah dalil/alasan pendapat tentang wajibnya qadha’ bagi wanita hamil dan menyusui.</p>
<p>Lalu pendapat ketiga bagaimana, yaitu tentang wajibnya qadha dan fidyah? Ini lebih mudah, mereka mencoba menggabungkan kedua pendapat di atas. Dan ini benar. Dalam arti, ketika kita menjumpai seolah ada beberapa dalil/pendapat yang terkesan bertentangan, solusi pertamanya adalah kita coba thariqatul jam’i, kita coba gabungkan. Kalau ternyata tidak bisa karena memang jelas kontradiksinya dalam kondisi bagaimanapun baru kita lakukan tarjih (adu unggul).</p>
<p>Penggabungan ini dirinci dalam beberapa kondisi. Namun apapun kondisinya itu semuanya berpulang pada benar tidaknya istidlal tentang wajibnya qadha bagi wanita hamil dan menyusui tersebut. Jika benar, maka pendapat penggabungan itu mungkin lebih tepat. Jika ternyata tidak, maka kita kembali ke semula, yaitu hanya fidyah.</p>
<p>Berarti masalahnya, benarkah istidlal mereka yang berpendapat wajibnya qadha?</p>
<p>Jawabnya, dengan istidlal seperti tersebut di atas, maka konsekuensinya mereka harus membuktikan bahwa semua riwayat Abu Dawud, Baihaqy, dan Daruqhutni tentang membayar fidyah itu adalah dho’if / lemah. Kenapa? Karena istidlal ini kontradiksi dengan kedua riwayat itu, yakni dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sekiranya riwayat-riwayat ini memang dho’if, tentu yang rajih adalah pendapat wajibnya qadha, sebab qiyas dengan orang sakit adalah benar dan dilalah iqtiran dengan musafir juga jelas.</p>
<p>Namun ternyata tidak demikian kenyataanya. Semua riwayat itu shahih, dan jelas bertentangan dengan istidlal mereka yang mengatakan wajibnya qadha.</p>
<p>Perincinnya:</p>
<p>(1) Riwayat Abu Dawud dari Ibnu Abbas: “Telah tetap bagi laki-laki dan wanita yang sudah lanjut usia dan tidak mampu berpuasa, serta wanita yang hamil dan menyusui jika khawatir keadaan keduanya, untuk berbuka dan memberi makan orang miskin setiap harinya”.</p>
<p>(2) Riwayat Ad-Daruquthni dari Ibnu Umar:</p>
<p>“Seorang wanita hamil dan menyusui boleh berbuka dan tidak mengqadha”.</p>
<p>“Berbukalah dan berilah makan orang miskin setiap harinya dan tidak perlu mengqadha.”</p>
<p>Dalam jalan lain dikatakan bahwa anak perempuan Ibnu Umar adalah istri seorang Quraisy, dan sedang hamil. Dia merasa kehausan ketika puasa Ramadhan, maka Ibnu Umar pun menyuruhnya berbuka dan memberi makan seorang miskin.</p>
<p>(3) Riwayat Al-Baihaqi dari Ibnu Umar bahwa beliau ditanya tentang wanita hamil yang khawatir akan kandungannya: “Berbuka dan gantinya memberi makan satu mud gandum setiap harinya kepada seorang miskin.”</p>
<p>Pembahasannya:</p>
<p>Hadits Anas bin Malik tentang diangkatnya kewajiban setengah sholat dari musafir dan kewajiban puasa bagi wanita hamil dan menyusui adalah umum. Perlu perincian dan tafshil. Dan ini dibuktikan dengan adanya hadits yang merinci sholat apa yang diqashar tersebut dan mana yang tidak, tidak bisa berlaku mutlak bahwa semua sholat dipotong setengah. Demikian juga dalam hal pemotongannya, apakah jumlah raka’at atau di rukunnya. Karenanya riwayat perinci harus dibawa kemari.</p>
<p>Demikian juga halnya dengan wanita hamil dan menyusui. Hadits ini menerangkan tentang diangkatnya kewajiban berpuasa dan tidak mutlak dalam arti tidak ada kompensasi. Karenanya hadits Ibnu Umar dan Ibnu Abbas di atas harus dijadikan sebagai bayan/perinci dari hadits Anas bin Malik ini. Dengan demikian, dilalah iqtiran di hadits Anas bin Malik tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menyamakan kompensasi tidak berpuasanya yaitu qadha karena ada riwayat-riwayat yang merinci kompensasi untuk si wanita hamil dan menyusui tersebut.</p>
<p>Dengan demikian, maka jelaslah bahwa pendapat wajibnya qadha dengan istidlal seperti tersebut di atas adalah tidak tepat, kecuali –sekali lagi kecuali- kalau riwayat-riwayat perinci tersebut tidak shohih alias dho’if.</p>
<p>Adapun qiyas dengan orang sakit, tidak bisa dilakukan karena telah datang riwayat yang jelas dan menerangkan tentang kedudukan dan kondisi wanita hamil dan menyusui ini. Sekali lagi juga, jika semua riwayat itu dlo’if tentu qiyas ini benar adanya. Dan segera kita katakan bahwa yang wajib adalah qadha’.</p>
<p>Dengan demikian, tampaklah cahaya terang bagi kita dan jernihlah segala kekeruhan yang ada, walhamdulillah, bahwa yang rajih berdasarkan dalil-dalil yang ada adalah bagi wanita hamil dan menyusui diberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan mereka harus menggantinya dengan membayar fidyah kepada orang miskin sejumlah hari di mana mereka tidak berpuasa. Tidak ada kewajiban qadha’ bagi mereka karena tidak ada dalil yang mendasarinya.</p>
<p>Hadits Ibnu Umar di atas juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan apakah wanita hamil berbuka karena khawatir terhadap dirinya atau anaknya atau keduanya, semuanya sama cukup dengan membayar fidyah.</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lam</p>
<p>Petamburan, 28 Sya’ban 1427</p>
<p>Abu Ishaq As-Sundawy</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2007/09/03/tarjih-qadha%e2%80%99-dan-fidyah-untuk-hamil-dan-murdhi%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sifat Wudhu’  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2007/06/21/sifat-wudhu%e2%80%99-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-salam/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2007/06/21/sifat-wudhu%e2%80%99-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-salam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jun 2007 01:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[dienul islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2007/06/21/sifat-wudhu%e2%80%99-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-salam/</guid>
		<description><![CDATA[
Source: http://ummusalma.wordpress.com/2007/04/09/sifat-wudhu-nabi/

Secara syri’at wudhu’ ialah menggunakan air yang suci untuk mencuci anggota-anggota tertentu yang sudah diterangkan dan disyari’at kan Allah swt. 
Allah memerintahkan:Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan , kedua mata-kaki (Al-Maaidah:6).Allah tidak akan menerima shalat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0pt"><span style="font-weight: normal; font-size: 11pt"><font face="Times New Roman"><strong><br />
</strong></font></span><span style="font-weight: normal; font-size: 11pt"><font face="Times New Roman"><strong>Source: </strong><a href="http://ummusalma.wordpress.com/2007/04/09/sifat-wudhu-nabi/"><strong>http://ummusalma.wordpress.com/2007/04/09/sifat-wudhu-nabi/</strong></a><br />
</font></span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Secara syri’at wudhu’ ialah menggunakan air yang suci untuk mencuci anggota-anggota tertentu yang sudah diterangkan dan disyari’at kan Allah swt. </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Allah memerintahkan:</span><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan , kedua mata-kaki</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"> (Al-Maaidah:6).</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Allah tidak akan menerima shalat seseorang sebelum ia berwudhu’ (<em><span style="font-family: Arial">HSR. Bukhari di Fathul Baari, </span></em>I/206; Muslim, no.255 dan imam lainnya).</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Rasulullah juga mengatakan bahwa wudhu’ merupakan kunci diterimanya shalat. (<em><span style="font-family: Arial">HSR. Abu Dawud, no. 60</span></em>).</span><span id="more-105"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Utsman bin Affan ra berkata: “Barangsiapa berwudhu’ seperti yang dicontohkan Rasulullah saw, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju masjid dan shalatnya sebagai tambahan pahala baginya” <em><span style="font-family: Arial">(HSR. Muslim, I/142, lihat Syarah Muslim, III/13)</span></em>.</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Rasulullah saw bersabda:<span id="more-72"></span> “Barangsiapa menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia pergi mengerjakan shalat wajib bersama orang-orang dengan berjama’ah atau di masjid (berjama’ah), niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya” <em><span style="font-family: Arial">(HSR. Muslim, I//44,</span></em> lihat <em><span style="font-family: Arial">Mukhtashar Shahih Muslim,</span></em> no. 132).</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Maka wajiblah bagi segenap kaum muslimin untuk mencontoh Rasulullah saw dalam segala hal, lebih-lebih dalam berwudhu’. Al-Hujjah kali ini memaparkan secara ringkas tentang tatacara wudhu’ Rasulullah saw melakukan wudhu’:</span></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"></span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">1. Memulai wudhu’ dengan niat<br />
</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Niat artinya menyengaha dengan kesungguhan hati untuk mengerjakan wudhu’ karena melaksanakan perintah Allah swt dan mengikuti perintah Rasul-Nya saw.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Ibnu Taimiyah berkata: “Menurut kesepakatan para imam kaum muslimin, tempat niat itu di hati bukan lisan dalam semua masalah ibadah, baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, memerdekakan budak, berjihad dan lainnya. Karena niat adalah kesengajaan dan kesungguhan dalam hati. (<em><span style="font-family: Arial">Majmu’atu ar-Rasaaili al-Kubra,</span></em> I/243)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Rasulullah saw menerangkan bahwa segala perbuatan tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya… <em><span style="font-family: Arial">(HSR. Bukhari dalam Fathul Baary, 1:9; Muslim, 6:48)</span></em>.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"><br />
<strong><span style="font-family: Arial"><br />
2. Tasmiyah (membaca bismillah)</span></strong><br />
</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Beliau memerintahkan membaca bismillah saat memulai wudhu’. Beliau bersabda:</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Tidak sah/sempurna wudhu’ sesorang jika tidak menyebut nama Allah, (yakni bismillah) <em><span style="font-family: Arial">(HR. Ibnu Majah, 339; Tirmidzi, 26; Abu Dawud, 101. Hadits ini Shahih,</span></em> lihat <em><span style="font-family: Arial">Shahih Jami’u ash-Shaghir,</span></em> no. 744).</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Abu Bakar, Hasan Al-Bashri dan Ishak bin Raahawaih mewajibkan membaca bismillah saat berwudhu’.<br />
Pendapat ini diikuti pula oleh Imam Ahmad, Ibnu Qudamah serta imam-imam yang lain, dengan berpegang pada hadits dari Anas tentang perintah Rasulullah untuk membaca bismillah saat berwudhu’. Rasulullah saw bersabda: <em><span style="font-family: Arial">“Berwudhu’lah kalian dengan membaca bismillah!” (HSR. Bukhari, I: 236, Muslim, 8: 441 dan Nasa’i, no. 78)</span></em></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Dengan ucapan Rasulullah saw: <em><span style="font-family: Arial">”Berwudhu’lah kalian dengan membaca bismillah” </span></em>maka wajiblah <em><span style="font-family: Arial">tasmiyah</span></em> itu. Adapun bagi orang yang lupa hendaknya dia membaca bismillah ketika dia ingat. Wallahu a’lam.<br />
</span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"><br />
<strong><span style="font-family: Arial">3. Mencuci kedua telapak tangan</span></strong></span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"><br />
</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Bahwa Rasulullah saw mencuci kedua telapak tangan saat berwudhu’ sebanyak tiga kali. Rasulullah saw juga membolehkan mengambil air dari bejancdengan telapak tangan lalu mencuci kedua telapak tangan itu. Tetapi Rasulullah melarang bagi orang yang bangan tidur mencelupkan tangannya ke dalam bejana kecuali setelah mencucinya. <em><span style="font-family: Arial">(HR. Bukhari-Muslim)<br />
</span></em></span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"><br />
<strong><span style="font-family: Arial">4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung</span></strong></span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"><br />
</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Yaitu mengambil air sepenuh telapak tangan kanan lalu memasukkan air kedalam hidung dengan cara menghirupnya dengan sekali nafas sampai air itu masuk ke dalam hidung yang paling ujung, kemudian menyemburkannya dengan cara memencet hidung dengan tangan kiri.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Beliau melakukan perbuatan ini dengan tiga kali cidukan air. <em><span style="font-family: Arial">(HR. Bukhari-Muslim. Abu Dawud no. 140)</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini ada penunjukkan yang jelas bagi pendapat yang shahih dan terpilih, yaitu bahwasanya berkumur dengan menghirup air ke hidung dari tiga cidukan dan setiap cidukan ia berkumur dan menghirup air ke hidung, adalah sunnah. <em><span style="font-family: Arial">(Syarah Muslim, 3/122)</span></em>.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Demikian pula Rasulullah saw menganjurkan untuk bersungguh-sungguh menghirup air ke hidung, kecuali dalam keadaan berpuasa, berdasarkan hadits Laqith bin Shabrah. <em><span style="font-family: Arial">(HR. Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no. 38, Nasa’i )<br />
</span></em></span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"><br />
<strong><span style="font-family: Arial">5. Membasuh muka sambil menyela-nyela jenggot.</span></strong></span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"><br />
</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Yakni mengalirkan air keseluruh bagian muka. Batas muka itu adalah dari tumbuhnya rambut di kening sampai jenggot dan dagu, dan kedua pipi hingga pinggir telinga. Sedangkan Allah memerintahkan kita:</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">”<em><span style="font-family: Arial">Dan basuhlah muka-muka kamu.”</span></em> (Al-Maidah: 6)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Humran bin Abaan, bahwa cara Nabi saw membasuh mukanya saat wudhu’ sebanyak tiga kali”. (HR Bukhari, I/48), <em><span style="font-family: Arial">Fathul Bari,</span></em> I/259. no.159 dan Muslim I/14)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Setalah Nabi saw membasuh mukanya beliau mengambil seciduk air lagi (di telapak tangan), kemudian dimasukkannya ke bawah dagunya, lalu ia menyela-nyela jenggotnya, dan beliau bersabda bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah swt. <em><span style="font-family: Arial">(HR. Tirmidzi no.31, Abu Dawud, no. 145; Baihaqi, I/154 dan Hakim, I/149, Shahih Jaami’u ash-Shaghir no. 4572).</span></em></span></p>
<p></span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">6. Membasuh kedua tangan sampai siku<br />
</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Menyiram air pada tangan sampai membasahi kedua siku, Allah swt berfirman:</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">”<em><span style="font-family: Arial">Dan bashlah tangan-tanganmu sampai siku” </span></em>(Al-Maaidah: 6)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">Rasulullah membasuh tangannya yang kanan sampai melewati sikunya, dilakukan tiga kali, dan yang kiri demikian pula, Rasulullah mengalirkan air dari sikunya <em><span style="font-family: Arial">(Bukhari-Muslim, HR. Daraquthni, I/15, Baihaqz, I/56)</span></em></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">Rasulullah juga menyarankan agar melebihkan basuhan air dari batas wudhu’ pada wajah, tangan dan kaki agar kecemerlangan bagian-bagian itu lebih panjang dan cemerlang pada hari kiamat (HR. Muslim I/149)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">7. Mengusap kepada, telinga dan sorban</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES"><br />
</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">Mengusap kepala, haruslah dibedakan dengan mengusap dahi atau sebagian kepala. Sebab Allah swt memerintahkan:</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">”<em><span style="font-family: Arial">Dan usaplah kepala-kepala kalian…”</span></em> (Al-Maidah: 6).</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">Rasulullah mencontohkan tentang caranya mengusap kepala, yaitu dengan kedua telapak tangannya yang telah dibasahkan dengan air, lalu ia menjalankan kedua tangannya mulai dari bagian depan kepalanya ke belakangnya tengkuknya kemudian mengambalikan lagi ke depan kepalanya. <em><span style="font-family: Arial">(HSR. Bukhari, Muslim, no. 235 dan Tirmidzi no. 28 lih. Fathul Baari, I/251)</span></em></span></p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">Setelah itu tanpa mengambil air baru Rasulullah langsung mengusap kedua telingannya. Dengan cara memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga, kemudian ibu jari mengusap-usap kedua daun telinga. Karena Rasulullah bersabda: <em><span style="font-family: Arial">”Dua telinga itu termasuk kepala.”</span></em> <em><span style="font-family: Arial">(HSR. Tirmidzi, no. 37, Ibnu Majah,</span></em> no. 442 dan 444, Abu Dawud no. 134 dan 135, Nasa’i no. 140)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">Syaikh Al-Albani dalam <em><span style="font-family: Arial">Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah</span></em>, no. 995 mengatakan: “Tidak terdapat di dalam sunnah (hadits-hadits nabi saw) yang mewajibkan mengambil air baru untuk mengusap dua telinga. Keduanya diusap dengan sisa air dari mengusap kepala berdasarkan hadits Rubayyi’:</span><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">Bahwasanya Nabi saw mengusap kepalanya dengan air sisa yang ada di tangannya.</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES"> (HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad hasan)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">Dalam mengusap kepala Rasulullah melakukannya satu kali, bukan dua kali dan bukan tiga kali. Berkata Ali bin Abi Thalib ra : “Aku melihat Nabi saw mengusap kepalanya satu kali. (lihat _Shahih Abu Dawud, no. 106). Kata Rubayyi bin Muawwidz: “Aku pernah melihat Rasulullah saw berwudhu’, lalu ia mengusap kepalanya yaitu mengusap bagian depan dan belakang darinya, kedua pelipisnya, dan kedua telinganya satu kali.“ (HSR Tirmidzi, no. 34 dan <em><span style="font-family: Arial">Shahih Tirmidzi</span></em> no. 31)</span></p>
<p></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">Rasulullah saw juga mencontohkan bahwa bagi orang yang memakai sorban atau sepatu maka dibolehkan untuk tidak membukanya saat berwudhu’, cukup dengan menyapu diatasnya, <em><span style="font-family: Arial">(HSR. Bukhari dalam Fathul Baari I/266 dan selainnya)</span></em> asal saja sorban dan sepatunya itu dipakai saat shalat, serta tidak bernajis.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES">Adapun peci/kopiah/songkok bukan termasuk sorban, sebagaimana dijelaskan oleh para Imam dan tidak boleh diusap diatasnya saat berwudhu’ seperti layaknya sorban.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="ES"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Alasannya karena:<br />
</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><span>1.<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">       </span></span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Peci/kopiah/songkok diluar kebiasaan dan juga tidak menutupi seluruh kepala.<br />
</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"><span>2.<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">       </span></span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Tidak ada kesulitan bagi seseorang untuk melepaskannya. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Adapun Kerudung, jilbab bagi wanita, maka dibolehkan untuk mengusap diatasnya, karena ummu Salamah (salah satu isteri Nabi) pernah mengusap jilbabnya, hal ini disebutkan oleh Ibnu Mundzir. <em><span style="font-family: Arial">(Lihat al-Mughni</span></em>, I/312 atau I/383-384).</span></p>
<p></span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">8. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki<br />
</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Allah swt berfirman: <em><span style="font-family: Arial">”Dan basuhlah kaki-kakimu hingga dua mata kaki”</span></em> (Al-Maidah: 6)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial">Rasulullah menyuruh umatnya agar berhati-hati dalam membasuh kaki, karena kaki yang tidak sempurna cara membasuhnya akan terkena ancaman neraka, sebagaimana beliau mengistilahkannya dengan <em><span style="font-family: Arial">tumit-tumit neraka</span></em>. Beliau memerintahkan agar membasuh kaki sampai kena mata kaki bahkan beliau mencontohkan sampai membasahi betisnya. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Beliau mendahulukan kaki kanan dibasuh hingga tiga kali kemudian kaki kiri juga demikian.</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Saat membasuh kaki Rasulullah menggosok-gosokan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki. <em><span style="font-family: Arial">(HSR. Bukhari; Fathul Baari, I/232 dan Muslim, I/149, 3/128)</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Imam Nawai di dalam <em><span style="font-family: Arial">Syarh Muslim</span></em> berkata. “Maksud Imam Muslim berdalil dari hadits ini menunjukkan wajibnya membasuh kedua kaki, serta tidak cukup jika dengan cara mengusap saja.”</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Sedangkan pendapat menyela-nyela jari kaki dengan jari kelingking tidak ada keterangan di dalam hadits. Ini hanyalah pendapat dari Imam Ghazali karena ia mengqiyaskannya dengan istinja’.</span></p>
<p></span><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Rasulullah saw bersabda: “…barangsiapa diantara kalian yang sanggup, maka hendaklahnya ia memanjangkan kecermerlangan muka, dua tangan dan kakinya.” (HSR. Muslim, 1/149 atau Syarah Shahih Muslim no. 246)</span></em><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"></span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">9. Tertib<br />
</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Semua tatacara wudhu’ tersebut dilakukan dengan tertib (berurutan) muwalat (menyegerakan dengan basuhan berikutnya) dan disunahkan tayaamun (mendahulukan yang kanan atas yang kiri) [Bukhari-Muslim]</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Dalam penggunaan air hendaknya secukupnya dan tidak berlebihan, sebab Rasulullah pernah mengerjakan dengan sekali basuhan, dua kali basuhan atau tiga kali basuhan [Bukhari]</span></p>
<p></span></em><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">10. Berdoa<br />
</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"></span><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">Yakni membaca do’a yang diajarkan Nabi saw:</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"></span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"><br />
</span></strong><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">“Asyahdu anlaa ilaa ha illalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abdullahi wa rasuulahu. Allahummaj ‘alni minattawwabiina waja’alni minal mutathohhiriin </span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI">(HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial" lang="FI"><font face="Times New Roman"><span style="font-size: 10pt" lang="FI">Dan ada beberapa bacaan lain yang diriwayatkan dari Nabi saw.</span><span lang="FI"></span></font><font face="Times New Roman"><span style="font-size: 10pt">Semoga tulisan ini menjadi risalah dalam berwudhu’ yang benar serta merupakan pedoman kita sehari-hari<br />
</span></font><font face="Times New Roman"><strong><u><span style="font-size: 10pt">Maraji’:<br />
</span></u></strong></font><font face="Times New Roman"><span>1.<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">      </span></span><span style="font-size: 10pt">Sifat Wudhu’ Nabi saw, Syaikh Fadh asy Syuwaib.<br />
</span></font><font face="Times New Roman"><span>2.<span style="font: 7pt 'Times New Roman'">      </span></span><span style="font-size: 10pt">At-Tadzkirah, Syaikh Ali Hasan al-Halabi al-Atsari </span><br />
<span style="font-size: 7.5pt">Al-Hujjah Risalah No: 27 / Thn IV / 1422H</span></font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2007/06/21/sifat-wudhu%e2%80%99-nabi-shallallahu-%e2%80%98alaihi-wa-salam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adab Shalat Tarawih Bagi Wanita</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2006/09/20/adab-shalat-tarawih-bagi-wanita/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2006/09/20/adab-shalat-tarawih-bagi-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Sep 2006 10:51:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[dienul islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2006/09/20/adab-shalat-tarawih-bagi-wanita/</guid>
		<description><![CDATA[arsip: http://unisa.f2o.org/artikel.php?view=75
Ada seorang wanita shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, namanya Ummu Humaid ingin mengikuti shalat bersama Rasul Shalallaahu alaihi wasalam di masjid Nabi, maka Rasulullah memberikan jawaban yang begitu indah dan berkesan, yang artinya, &#8220;Sungguh aku tahu, bahwa engkau senang shalat bersamaku, padahal shalatmu di dalam kamar lebih baik dari pada shalatmu di rumah, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman" size="3">arsip: </font><a href="http://unisa.f2o.org/artikel.php?view=75"><font face="Times New Roman" size="3">http://unisa.f2o.org/artikel.php?view=75</font></a><br />
<font size="3"><font face="Times New Roman">Ada seorang wanita shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, namanya Ummu Humaid ingin mengikuti shalat bersama Rasul Shalallaahu alaihi wasalam di masjid Nabi, maka Rasulullah memberikan jawaban yang begitu indah dan berkesan, yang artinya, <em>&#8220;Sungguh aku tahu, bahwa engkau senang shalat bersamaku, padahal shalatmu di dalam kamar lebih baik dari pada shalatmu di rumah, dan shalatmu di dalam rumah lebih baik dari pada shalatmu di masjid kampungmu, dan shalatmu di masjid kampung lebih baik daripada shalatmu di masjidku ini.&#8221; </em>(HR. Ibnu Khuzaimah, di dalam shahihnya).<span id="more-43"></span><br />
</font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Hadits di atas barangkali memiliki korelasi yang erat dengan hadits lain riwayat Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah, dari Ibnu Mas&#8217;ud Radhiallaahu anhu dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,<em> &#8220;Sesungguhnya wanita adalah aurat, apabila dia keluar, maka syetan menghiasnya. Dan sedekat-dekatnya seorang wanita kepada Tuhannya adalah tatkala ia berada di bagian paling tersembunyi di rumahnya.&#8221;<br />
</em></font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Berdasarkan dua hadits di atas dapat diambil pengertian, bahwa pada dasarnya kondisi paling utama seorang wanita adalah tatkala berada di tempat yang paling tersembunyi, termasuk ketika melakukan shalat. Apabila seorang wanita ingin shalat berjama&#8217;ah -termasuk tarawih-, maka hendaknya memilih tempat tersendiri khusus untuk para wanita. Kalau mengharuskan shalat di masjid yang biasa digunakan shalat oleh kaum pria, maka hendaknya memperhatikan adab-adab dan aturan ketika menuju ke sana. Karena tidak selayaknya seseorang ingin mencari pahala, namun dalam waktu bersamaan melakukan perbuatan yang dimurkai oleh Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala.<br />
</font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Di antara adab-adab yang perlu diperhatikan oleh seorang wanita ketika akan mendatangi masjid (khusus-nya shalat tarawih) adalah sebagai berikut:<br />
</font></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman" size="3">Ikhlas</font></strong><br />
<font face="Times New Roman" size="3">Hendaknya ketika berangkat ke masjid benar-benar ikhlas karena Allah. Bukan karena ingin bertemu dengan para wanita atau ibu-ibu yang lain, bukan karena ingin mendengarkan bacaan Imam, atau karena ikut-ikutan temannya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala, (lihat di dalam surat al-Bayyinah ayat 5).<br />
Dan juga sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang artinya,<br />
<em>&#8220;Barang siapa mendatangi masjid untuk tujuan tertentu, maka itulah yang menjadi bagiannya.&#8221;</em> (HR. Abu Daud)</font><font face="Times New Roman" size="3"> </font><font face="Times New Roman" size="3"><font size="3"><font face="Times New Roman"><strong>Meminta Izin<br />
</strong>Seorang wanita yang akan pergi ke masjid seharusnya meminta izin kepada ayah atau suaminya, berdasarkan hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu dia berkata, telah bersabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, artinya:<br />
<em>“Janganlah kalian melarang wanita untuk mendatangi masjid, bila mereka minta izin kepada kalian.&#8221;</em> (Shahih Muslim)<br />
</font></font></font><font face="Times New Roman" size="3"><font face="Times New Roman" size="3">Di dalam riwayat yang Muslim yang lain disebutkan</font><font size="3"><font face="Times New Roman"><em>, &#8220;Apabila istri kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, maka berilah mereka izin.&#8221;<br />
</em>Jika telah mendapatkan izin, silakan ke masjid, namun jika tidak diizinkan janganlah berangkat, karena taat terhadap suami lebih didahulukan daripada ibadah sunnah, demikian pula seorang putri jika tidak diizinkan ayahnya.<br />
</font></font></p>
<p></font><font size="3"><font face="Times New Roman">Selayaknya seorang suami jangan melarang istrinya pergi ke masjid, bila telah meminta izin dengan baik-baik, kecuali jika ada kondisi yang tidak mengizinkan, seperti bahaya atau gangguan di jalanan. Namun para wanita juga harus menyadari, bahwa shalat mereka di rumah adalah lebih utama, dan juga keluarnya mereka ke tempat umum justru terkadang menimbulkan fitnah atau dosa.<br />
</font></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman" size="3">Berhijab/Menutup Aurat</font></strong><br />
<font size="3"><font face="Times New Roman">Jangan sampai pergi ke masjid dalam kondisi tabarruj, yakni berdandan seronok, sengaja memancing perhatian, berpakaian ketat serta menampakkan perhiasan atau auratnya, sebab sekali lagi harus diingat, bahwa jika wanita keluar rumah, maka syetan menghiasnya, sehingga kelihatan menggoda dan menarik. Tabarruj adalah salah satu sifat wanita-wanita jahiliyyah yang tercela sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala , yang artinya:<br />
<em>“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu bertabarruj (berhias dan bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.”</em> (QS al-Ahzab: 33)<br />
</font></font><br />
<font size="3"><font face="Times New Roman"><strong>Syarat-syarat hijab</strong> adalah: Menutup seluruh tubuh, tidak membentuk lekuk tubuh, tidak pendek atau ketat, tidak transparan, bukan pakaian mewah untuk pamer, tidak mengikuti mode wanita kafir, tidak menyerupai pakaian laki laki dan tidak bercorak menyolok atau bergambar makhluk hidup.<br />
</font></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman" size="3">Tidak Memakai Parfum<br />
</font></strong><font size="3"><font face="Times New Roman">Parfum merupakan salah satu penyebab fitnah dan kerusakan, bila salah dalam mempergunakannya. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah melarang wanita yang menggunakan minyak wangi untuk menghadiri shalat Isya&#8217;, sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Muslim. Bukan sekedar itu saja, bahkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam memberikan peringatan lebih keras lagi dalam hal ini, sebagaimana sabda beliau Shalallaahu alaihi wasalam,<br />
<em>&#8220;Wanita mana saja yang menggunakan parfum lalu keluar ke masjid, maka shalatnya tidak di terima sebelum dia mandi.&#8221;</em> (HR. Al-Baihaqi).<br />
</font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Jika pergi ke masjid untuk ber-ibadah tidak boleh menggunakan parfum, maka apalagi jika perginya adalah ke tempat-tempat umum selain masjid, tentu lebih tidak boleh lagi!<br />
Berdandan, menampakkan kecantikan dan menggunakan parfum untuk dipamerkan kepada laki-laki lain adalah kebiasaan para pelacur. Maka seorang wanita muslimah yang terhormat tidak boleh meniru-niru tingkah mereka, karena sangat beresiko dan dapat menjerumuskannya ke dalam maksiat.<br />
</font></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman" size="3">Tidak Berkhalwat</font></strong><br />
<font size="3"><font face="Times New Roman">Yakni tidak boleh jalan berduaan dengan laki-laki lain (bukan mahram) baik itu berjalan kaki maupun berduaan di dalam mobil, entah itu teman, tetangga atau sopir pribadi sekalipun. Berdasarkan kepada hadits nabi Shalallaahu alaihi wasalam, <em>&#8220;Jangan sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali wanita tersebut disertai mahramnya.&#8221;</em> (HR. Muslim dari Ibnu Abbas)<br />
Di dalam riwayat lain disebutkan, bahwa jika seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, maka pihak ke tiganya adalah syetan.<br />
</font></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman" size="3">Merendahkan Suara</font></strong><br />
<font size="3"><font face="Times New Roman">Secara umum bukan hanya wanita saja yang diperintahkan untuk meren-dahkan suara dan tidak mengeraskannya, apalagi di dalam masjid. Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala telah berfirman, yang artinya:<br />
<em>“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguh-nya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. 31:19)<br />
</em></font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Dan bagi wanita, masalah ini lebih ditekankan lagi, sehingga wanita apabila mengingatkan imam yang lupa atau salah cukup dengan menepukkan telapak tangan kanan ke punggung tangan kiri, bukan bertasbih (mengucap subhanallah). Hendaknya wanita menjaga suaranya di hadapan kaum laki-laki, karena tidak seluruh laki-laki hatinya sehat, di antara mereka ada yang hatinya sakit, dalam arti mudah tergoda dengan suara wanita.<br />
</font></font></p>
<p><font face="Times New Roman" size="3">Pembicaraan seorang wanita hanya dibolehkan di dalam hal-hal yang memang mengharuskan, seperti jual beli, memberikan persaksian, menjawab salam dan semisalnya. Ini pun harus diperhatikan, agar jangan sampai melembutkan suara, atau sengaja dibuat-buat supaya menarik. Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala telah berfirman, yang artinya:<br />
</font><font size="3"><font face="Times New Roman"><em>“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa.Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara, sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (QS. 33:32)<br />
</em>Jika wanita-wanita suci semisal istri Nabi masih diperintahkan untuk demikian, maka selayaknya para muslimah juga mencontoh mereka.<br />
</font></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman" size="3">Menundukkan Pandangan</font></strong><br />
<font size="3"><font face="Times New Roman">Para wanita hendaknya menundukkan pandangan dari laki-laki lain yang bukan mahram sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala, yang artinya:<br />
<em>“Katakanlah kepada wanita yang beriman, &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.” </em>(QS. An-Nuur: 31)<br />
</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">Pandangan mata, sebagaimana dikatakan Ibnul Qayyim adalah cerminan hati, jika seorang hamba dapat menundukkan pandangannya, maka ia akan dapat menundukkan syahwat dan segala kemauannya. Sebaliknya jika pandangan dibiarkan dengan bebas dan leluasa, maka syahwat akan menguasai-nya.<br />
</font></font></p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Jarirz pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tetang pandangan yang tidak di sengaja, maka beliau menjawab, &#8220;Palingkanlah pandanganmu.&#8221; (HR Ahmad)<br />
Dari Buraidah Radhiallaahu anhu, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah berkata kepada Ali Radhiallaahu anhu, &#8220;Wahai Ali jangan kau susul pandangan (pertama) dengan pandangan yang lain, karena untukmu han ya yang pertama, dan selebihnya bukan buatmu.&#8221; (HR. Ibnu Abdul Barr)<br />
</font></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman" size="3">Hindari Ikhtilath<br />
</font></strong><font size="3"><font face="Times New Roman">Jangan sampai terjadi ikhtilath (campur baur) laki-laki dan perempuan, baik ketika di jalan, ketika masuk masjid maupun ketika bubar dari masjid.<br />
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Baihaqi, dengan sanad hasan dari Hamzah bin Usaid dari ayahnya, bahwa dia mendengar Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda sedang beliau berada di luar masjid, dan kaum pria saat itu bercampur dengan kaum wanita di jalan, maka beliau pun bersabda kepada para wanita, &#8220;Menepilah kalian, sesungguhnya kalian tidak ada hak di tengah jalan, hendaklah kalian semua berjalaan di tepian.&#8221; (HR. Abu Daud dan Baihaqi). Maka seketika itu para wanita menepi ke tembok.<br />
Tidak Menelantarkan Anak-anak<br />
</font></font><br />
<font size="3"><font face="Times New Roman">Termasuk tanggung jawab terbesar seorang wanita (ibu) adalah mendidik dan mengawasi anak, dan kelak dia akan ditanya oleh Allah tentang tanggung jawab ini. Apabila kepergian seorang wanita ke masjid dengan menelantarkan anak-anak, seperti menyerahkan kepada pembantu yang kurang baik akhlaknya, atau menjadikan anak pergi leluasa bergaul dengan teman-teman yang buruk, maka hal itu tidak dibenarkan. Karena mencegah sesuatu yang buruk (terlan-tarnya anak) lebih di dahulukan daripada mencari manfaat (tarawih di masjid).<br />
</font></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman" size="3">Menjaga Adab di Masjid</font></strong><br />
<font size="3"><font face="Times New Roman">Masjid adalah rumah Allah dan tempat yang sangat mulia, ketika seseorang akan memasukinya, maka harus memperhatikan dan manjaga adab-adab ketika berada di dalamnya. Di antara yang perlu diperhatikan adalah:<br />
</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">- Menjaga kebersihan dan jangan sampai membuang kotoran di dalam masjid.<br />
</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">- Tidak mendatangi masjid ketika habis makan bawang (jengkol, petai dan semisalnya)<br />
</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">- Tidak meludah di masjid, jika terpaksa hendaknya meludah di tissu, sapu tangan atau pakaian, dan jangan meludah ke arah kiblat.<br />
</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">- Mengawasi anak-anak agar jangan merobek atau melempar-lempar mushhaf.<br />
</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">- Jangan memasukkan gambar-gambar makhluk bernyawa ke dalam masjid, baik berupa motif baju anak, mainan, majalah dan lain-lain.<br />
</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman">Demikian semoga bermanfaat bagi kita semuanya.<br />
</font></font><br />
<em><font size="3"><font face="Times New Roman">Diringkas dari: “Al-Muntaqa min Adab Shalat at-Tarawih Linnisaa”, Husain bin Ali asy Syaqrawi, kata sambutan dan koreksi Syaikh Abdullah Ibnu Jibrin.<br />
</font></font></em><font face="Times New Roman" size="3" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2006/09/20/adab-shalat-tarawih-bagi-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Qiyamulail [part 2]</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2006/09/07/qiyamulail-part-2/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2006/09/07/qiyamulail-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Sep 2006 01:59:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[dienul islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2006/09/07/qiyamulail-part-2/</guid>
		<description><![CDATA[part 1: http://blog.unisa81.net/2006/07/05/kiat-tahajud/
Hayuk!!!
berusaha keras.. 
sumber: milis
Qiyamul lail dapat dilakukan setelah shalat Isya dan dapat dilakukan sebelum atau setelah tidur, berikut dalil-dalilnya,
Dari Aisyah radhiyallaHu ‘anHa, dia berkata, &#8220;Rasulullah biasa mengerjakan shalat sebelas raka&#8217;at pada waktu antara selesai shalat ‘Isya sampai Shubuh sebanyak sebelas raka&#8217;at&#8221; (HR. Muslim no. 736)
Dari Abu Bashrah al Ghifari, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>part 1: <a href="http://blog.unisa81.net/2006/07/05/kiat-tahajud/">http://blog.unisa81.net/2006/07/05/kiat-tahajud/</a><br />
Hayuk!!!<br />
berusaha keras.. </p>
<p><u>sumber: milis</u></p>
<p>Qiyamul lail dapat dilakukan setelah shalat Isya dan dapat dilakukan sebelum atau setelah tidur, berikut dalil-dalilnya,</p>
<p>Dari Aisyah radhiyallaHu ‘anHa, dia berkata, &#8220;Rasulullah biasa mengerjakan shalat sebelas raka&#8217;at pada waktu antara selesai shalat ‘Isya sampai Shubuh sebanyak sebelas raka&#8217;at&#8221; (HR. Muslim no. 736)</p>
<p>Dari Abu Bashrah al Ghifari, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, &#8220;Sesungguhnya Allah telah menambah untuk kalian satu shalat, yaitu witir. Oleh karena itu, kerjakanlah ia diantara Isya sampai shalat Shubuh&#8221; (HR. Ahmad VI/7, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah no. 108)</p>
<p>Dari Jabir radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, &#8220;Barangsiapa khawatir tidak bangun di waktu malam, maka hendaklah dia mengerjakan shalat witir di awal waktunya. Dan barangsiapa yang berkeinginan hendak bangun di akhir malam maka hendaklah dia mengerjakan shalat witir di akhir malam, karena sesungguhnya shalat di akhir malam itu disaksikan (oleh para malaikat) dan demikian itu lebih baik&#8221; (HR. Muslim no. 755)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2006/09/07/qiyamulail-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

