<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>uNisA &#187; kabar negeri</title>
	<atom:link href="http://blog.unisa81.net/category/kabar-negeri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.unisa81.net</link>
	<description>... being a wiFe, a Mom</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 03:31:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mentawai dan Merapi Bergelora</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2010/11/05/mentawai-dan-merapi-bergelora/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2010/11/05/mentawai-dan-merapi-bergelora/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 06:22:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kabar negeri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini sedang terjadi 2 bencana alam skala besar di Indonesia, yaitu Tsunami di Kepulauan Mentawai (sumbar) dan Letusan Gunung merapi di Jogjakarta. Bulan lalu juga terjadi banjir bandang di Wasior Irian Jaya yang menewaskan ratusan orang.
Tsunami mentawai terjadi Senin 25 Oktober 2010. Hari itu di Jakarta juga lagi heboh dilanda banjir dan muaceeeeeeeeeeeet luar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini sedang terjadi 2 bencana alam skala besar di Indonesia, yaitu Tsunami di Kepulauan Mentawai (sumbar) dan Letusan Gunung merapi di Jogjakarta. Bulan lalu juga terjadi banjir bandang di Wasior Irian Jaya yang menewaskan ratusan orang.</p>
<p>Tsunami mentawai terjadi Senin 25 Oktober 2010. Hari itu di Jakarta juga lagi heboh dilanda banjir dan muaceeeeeeeeeeeet luar biasa. Saya yang bekerja di Thamrin dan ngontrak di daerah Karet (jarak sekitar 4-5km), keluar kantor pukul 6 baru sampai di rumah pukul 9, karena di tengah jalan saya memutuskan turun di Sarinah dan nunggu sampai keadaan lebih baik. Tak sedikit commuter yang menghabiskan waktu 7 jam bahkan belasan jam di jalan. Speechless banget ama kondisi Jkt <img src='http://blog.unisa81.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Mentawai</strong></p>
<p>Tsunami di  Mentawai (yang diawali gempa 7.2 SR) memporakporandakan pesisir2 kepulauan daerah tsb. Sedih ngebayangin daerah terisolir kayak Mentawai dapat musibah sedahsyat itu. Sebenarnya hal ini ga terlalu mengejutkan, mengingat pesisir barat Sumbar (including Padang &#8211; my hometown) memang sudah diprediksikan akan kembali dan kembali dihantam gempa dahsyat setelah gempa Padang 30 September 2009 tahun lalu (7.6 SR) yang menewaskan ribuan orang dan meluluhlantakkan Kota Padang. Tapi ketika bencana itu terjadi lagi, sungguh masih nyeri sekali rasa hati ini <img src='http://blog.unisa81.net/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> . Ya Allah, beri mereka kesabaran dan kekuatan</p>
<p>Duka di Mentawai juga diwarnai oleh pro-kontra masyarakat terkait berangkatnya Bp Gubernur Sumbar (Irwan Prayitno &#8211; asal PKS) ke Jerman untuk beberapa tujuan tertentu. Riak protes muncul di masyarakat, begitu juga riak pembelaan thdp Beliau. Terkait hal ini saya sependapat dengan Bpk Tifatul Sembiring yang pernah menulis begini di twitter-nya : &#8220;Tujuan Pak Gubernur adalah u/ kebaikan sumbar, tp saya sangat setuju timingnya kurang tepat, sy akan sampaikan masukan tweeps budiman pd ybs&#8221; ditulis tgl 4 Nov.</p>
<p><strong>Merapi</strong></p>
<p>Sehari setelah tsunami Mentawai, tepatnya selasa 26 Oktober 2010 Gunung Merapai (DIY) yang dari tahun 2006 telah menunjukkan tanda2 aktifnya, memuntahkan wedhus gembel dan menelan korban 20-an orang, diantaranya Mbah Maridjan. Sampai hari ini (5 November 2010) aktifitas Gunung Merapi makin menjadi-jadi. Zona bahaya mulai makin melebar, dari 10km, 15 km bahkan 20km. Update berita terbaru makin memiriskan hati, Wedhus Gembel kembali menelan korban jiwa para penduduk di daerah yang terletak 16km dari Merapi. Sungguh di luar dugaan.</p>
<p>Tentunya penduduk2 di daerah ini tidak siap didatangi wedhus gembel karena wilayah tempat tinggal mereka (yaitu &gt; 15km dari puncak merapi) tadinya dikatakan zona aman. Foto-foto pengungsi di tempat pengungsian pun sungguh memiriskan hati. Balita, orang tua, anak2, numpuk2 jadi 1. Jumlah mereka ga tanggung2, udah ribuan (atau jangan2 belasan ribu). Ya Allah, beri mereka kekuatan dan kesabaran. Saya ga kebayang bagaimana meyakinkan cukupnya konsumsi dan akomodasi bagi belasan ribu orang yg ga punya tempat tinggal. Yaa Rabbi, sayangi mereka&#8230;</p>
<p>Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka? Do&#8217;a saja tidak cukup, kawan. Mari hulurkan tangan, beri bantuan materi, logistik, uang dst. Saya terus memantau perkembangan berita ini terutama dari twitter, karena cukup nyaman baca twitter dari blackberry, apalagi situs2 berita juga rata2 sudah punya account twitter yg bisa di follow.</p>
<p>Ini salah satu link yang menyebut ttg penyaluran bantuan : Donasi cash bisa ke <a href="http://www.accessibletwitter.com/app/user.php?uid=actforhumanity">@actforhumanity</a> BCA # 6760302021, MANDIRI # 1280004723620, PERMATA SYARIAH # 0970613048 a/n Aksi Cepat Tanggap</p>
<p>Ayo kawan, mari hulurkan tangan kita. Sesedikit apapun pasti sangat berarti bagi mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2010/11/05/mentawai-dan-merapi-bergelora/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hafidz dan Hanif Liburan di Padang</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2010/10/20/hafidz-dan-hanif-liburan-di-padang/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2010/10/20/hafidz-dan-hanif-liburan-di-padang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 06:46:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[[keluarga] Hafidz]]></category>
		<category><![CDATA[[keluarga] Hanif]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Mumpung ada waktu luang, mari kita ngeblog perkembangan Hafidz dan Hanif&#8230;
Minggu lalu Bundo berkesempatan mengajak anak-anak liburan ke kampung halaman Bundo nun jauh di kota Padang. Usia Hanif yang 1 tahun kurang 1 minggu dan Hafidz 2 tahun 7 bulan Bundo anggap cukup ok untuk diajak bepergian naik pesawat terbang ke Kota Padang selama 1 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mumpung ada waktu luang, mari kita ngeblog perkembangan Hafidz dan Hanif&#8230;</p>
<p>Minggu lalu Bundo berkesempatan mengajak anak-anak liburan ke kampung halaman Bundo nun jauh di kota Padang. Usia Hanif yang 1 tahun kurang 1 minggu dan Hafidz 2 tahun 7 bulan Bundo anggap cukup ok untuk diajak bepergian naik pesawat terbang ke Kota Padang selama 1 minggu. Uwak dan Ibu juga ikutan dooonk <img src='http://blog.unisa81.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Diawali delay pesawat 6,5 jam</strong><br />
Semuanya antusias liburan kali ini, kecuali Uwak yg nampaknya takut naik pesawat terbang dan takut kepanasan di Padang <img src='http://blog.unisa81.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> . Sayangnya awal perjalanan kami cukup mengecewakan akibat pesawat Batav*a yang kami tumpangi ditunda keberangkatannya dari jam 10.50 menjadi 17.30 dengan alasan yang kurang bisa diterima (akhirnya manajer nya didemo banyak orang). Bayangkaaaaaaaan! Sejak itu juga Bundo berjanji ga akan naik pesawat itu lagi&#8230; Jaman masih kuliah dulu Bundo pernah beli tiket pesawat Merpati ke Batam dan tiba2 tiket Bundo dinyatakan invalid. Setelah Bundo protes ke kantornya, bundo bukannya diganti tiket pesawat lain ke Batam namun langsung ke Singapura. Bandingkan dengan Bata**a yang jangankan mindahin kita ke pesawat lain dan menerbangkan segera, makan siang aja baru dapet di atas jam 2&#8230;. Yah, semua ini harus diambil hikmahnya <img src='http://blog.unisa81.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Disambut keluarga besar</strong><br />
Kami tiba di Padang jam 8 malam dan disambut keluarga besar dengan antusias, apalagi Bundo semenjak menikah 3.5 thn yang lalu belum pernah pulang kampung. Hafidz dan Hanif langsung jadi idola sepupu2 Bundo yang rata2 juga masih anak2 (yang paling kecil 4thn umurnya). Hafidz sangat bahagia bertemu banyak kawan baru, walau masih kesulitan manggil mereka etek (tante/paman), lupa2 terus dan ujung2nya manggil &#8216;kakak&#8217;. Hanif agak rewel, mungkin karena kepanasan dan karena ASI Bundo yang mendadak turun drastis selama di Padang&#8230;.</p>
<p><strong>Di rumah Saja</strong><br />
Waktu liburan 1 minggu penuh nyaris kami habiskan di rumah saja. Selain karena ibu lagi sibuk ngurusin masalah pensiun, juga ada larangan dari nenek-kakek dan bbrp tante untuk membawa Hafidz dan Hanif perjalanan jauh ke luar kota Padang dengan berbagai alasan. Ya udah, Bundo mah ikuuuut aja, karena ga mau juga melanggar larangan dari keluarga. Toh tujuan utama Bundo pulang kan melepas kangen dengan keluarga besar <img src='http://blog.unisa81.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bundo juga melepas rindu dengan kuliner di kampung, makan sate padang ala kakek-nenek yang lezat itu sepuas2nyaaa&#8230; juga cemilan2 kampung yang unik. Kami juga mendatangi rumah ceklok di tengah sawah dan menikmati sejuknya suasana di sana dibandingkan rumah nenek yang puanaaaaassss pol !</p>
<p><strong>Beratnya perpisahan<br />
</strong>Waktu 1 minggu ternyata singkaaaaaaaat banget. Tahu2 udah minggu subuh dan kami harus pulang lagi ke Jakarta. Beraaaaaaaaaaaaat sekali rasanya meninggalkan kampung ini. Rasanya kangen kepada keluarga belum pulih sedikitpun. Terutama kepada kakek dan nenek bundo yang udah tuaaaaaaaa banget. Kakek usianya udah hampir 90 tahun, dan nenek udah di atas 70 tahun. Untuk pertama kalinya kakek maksa ikut nganterin ke Bandara dan untuk pertama kalinya juga Bundo menangis dihadapan kakek dan nenek di bandara. Sediiiiiiiiiiiiiiiiiih sekali rasanya berpisah lagi dengan mereka..</p>
<p>Wahai kakek dan nenek, doakan kita sama2 masih diberi kesempatan umur untuk berjumpa kembali yaaaa <img src='http://blog.unisa81.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Hafidz dan Hanif belum begitu mengerti perpisahan, tapi sepupu2 Bundo di kampung sangat sedih berpisah dengan duo cilik ini&#8230; Yah, semoga kita ada kesempatan berjumpa lagi ya, wahai adik2ku <img src='http://blog.unisa81.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bundo akhir2 ini juga kuatir dengan isu &#8216;gempa besar dan tsunami&#8217; yang katanya akan melanda kota Padang. Bundo udah liat sendiri sisa2 penderitaan Bangunan dan Penduduk Kota Padang akibat Gempa Besar 30 sept 2009 silam, dan Bundo ga kebayang jika itu terjadi lagi&#8230;</p>
<p>Salah satu hikmah spiritual perjalanan ke Padang minggu lalu kita jadi semakin merasakan besarnya kekuasaan Allah dan betapa ga berartinya diri dan kekuatan kita ini di hadapan Allah&#8230;</p>
<p>Wahai ranah na diapik gunung marapi jo singgalang, disinan denai tinggakan sanak sudaro. Disinan denai ukia cinto denai ka Ranah minang&#8230; Cinto nan sabana indak bisa dilukiskan&#8230; Walau denai jauah marantau namun kampuang tetap nan paliang dirindukan..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2010/10/20/hafidz-dan-hanif-liburan-di-padang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Duka di Ranah Minang</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2009/10/05/duka-di-ranah-minang/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2009/10/05/duka-di-ranah-minang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 06:47:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[kabar negeri]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2009/10/05/duka-di-ranah-minang/</guid>
		<description><![CDATA[Duka, duka dan duka menggantung di langit dan menaungi wajah-wajah yang masih terpana dalam kekagetan di sana, di ranah minang tercinta. Tangan inipun rasanya tak mampu mencoba memetakan tentang apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan tentang satu episode yang menggayut di sana, di ranah minang tercinta.
Ngeri, jeri.
Hilang kata.
30 September 2009, selamanya akan menorehkan kisah sedih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Duka, duka dan duka menggantung di langit dan menaungi wajah-wajah yang masih terpana dalam kekagetan di sana, di ranah minang tercinta. Tangan inipun rasanya tak mampu mencoba memetakan tentang apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan tentang satu episode yang menggayut di sana, di ranah minang tercinta.<br />
Ngeri, jeri.<br />
Hilang kata.</p>
<p>30 September 2009, selamanya akan menorehkan kisah sedih yang begitu memilukan untuk ranah  minang dan segenap penghuninya. Gempa bumi dengan kekuatan 7,6 SR telah mengoyak-ngoyak dan menghancurkan negeri tercinta dengan dampak yang sulit diungkapkan. Pilu rasanya menyaksikan kota Padang, kota yang begitu aku kenal, terkoyak-koyak, hancur lebur, luluh lantak, dengan deraian air mata duka dimana-mana. Hampir semua bangunan bertingkat mengalami kerusakan, mulai dari sedikit runtuh, rusak parah sampai nyaris rata dengan tanah. Ratusan korban berjatuhan dan diyakini masih ada ratusan lagi yang masih tertimbun. Sudut-sudut kota yang kukenal dari kecil, tak akan pernah sama lagi. Gempa ini tak pandang bulu, mulai dari hotel, rumah, ruko, universitas, sampai pusat bimbingan belajar yang sedang dipadati siswa-siswa SD dan SMP. Anak-anak imut yang sedang serius menuntut ilmu. Ya Rabb, bagaimana meleraikan duka yang begini hebat terutama untuk pihak-pihak yang ditinggalkan keluarga tercinta selamanya.</p>
<p>Tak hanya kota Padang, tapi juga begitu banyak kota-kota lain di sekitarnya. Bahkan di Kabupaten Pariaman, 3 dusun hendak dijadikan kuburan massal, karena gempa yang kemudian disusul hujan lebat dan tanah longsor di sana telah menyulap dusun yang tentram menjadi sebuah tanah lapang basah yang menimbun ratusan jiwa di bawahnya. Ya Rabb, bagaimana meleraikan duka yang begini hebat terutama untuk pihak-pihak yang ditinggalkan keluarga tercinta selamanya. Kadang tak hanya 1 orang, tapi bisa 3, 6 bahkan sekaligus ditinggalkan 15 kerabat keluarga untuk selamanya. Bagaimana menguatkan hati menghadapi duka yang demikian hebat.</p>
<p>Kehancuran yang sama juga dialami daerah-daerah lainnya merata hampir di seluruh Sumatera Barat bahkan sampai ke jambi. Duhai Dzat yang menggenggam jiwa-jiwa kami, tolonglah beri ketabahan pada saudara-saudara kami, berilah kesabaran yang berlipat ganda, keikhlasan yang berlapis-lapis, agar kaki-kaki kami yang sangat lemah ini masih mampu terus melangkah menyongsong perjalanan berikutnya demi menggapai cintaMu.</p>
<p>Air mata ini rasanya tak henti-henti mengalir menyaksikan setiap pemberitaan di televisi. Tuhan, deraikanlah duka di hati saudara-saudara kami di sana. Duka yang sungguh tak terperikan rasanya. Perasaan gundah, cemas dan gelisah yang sempat saya rasakan 18 jam lamanya karena tak mampu menghubungi satupun keluarga besar di Padang rasanya tak ada  apa-apanya deibandingkan penderitaan ribuan orang lainnya yang benar-benar kehilangan keluarganya. Keluarga besar kami di Lubuk Minturun Padang Alhamdulillah semuanya selamat. Saya baru bisa menghubungi mereka sekitar jam 12 siang, 1 oktober 2009, berkat XL yang dipakai ibu (provider lain benar-benar mati total). Beberapa rumah keluarga kami ada yang hancur separuhnya, bahkan ada yang hancur berat sampai tidak bisa lagi ditempati sehingga mereka mendirikan tenda di depan rumah. Namun posisi rumah-rumah keludarga yang semuanya berdekatan sangat memungkinkan seluruh keluarga besar untuk bahu membahu saling membantu. Seorang paman saya mengalami cedera di kaki karena kebetulan sedang menghadiri penataran di pusat kota Padang. Beliau baru bisa ditemukan jam 12 malam dan diangkut pulang dengan cedera di kaki.  Dua orang sepupu saya (SMP dan kuliah) sempat tidak diketahui kabar beritanya sampai tgl 1 oktober siang. Alhamdulillah mereka berdua selamat. Kami luar biasa cemas karena salah satu pusat bimbingan belajar yang runtuh adalah tempat bimbel yang biasa mereka hadiri.</p>
<p>Sampai hari ini (5 oktober 2009), diyakini masih terdapat ratusan korban yang tertimbun di balik puluhan puing-puing bangunan di kota Padang dan di seluruh kota-kota yang terkena dampak gempa serta longsor yang menyertainya. Ribuan orang masih gelisah menunggu kepastian kabar sanak saudaranya. Banyak terdengar cerita-cerita yang menakjubkan mengenai orang-orang yang selamat dari gempa, namun tentunya jauh lebih banyak kisah-kisah yang memilukan.</p>
<p>Diyakini juga bahwa korban yang berjatuhan (terutama yang tertimpa runtuhan gedung) banyak yang meninggal karena terlambat mendapat pertolongan. Contohnya anak-anak yang tertimbun di bawah reruntuhan gedung bimbel kabarnya di malam pertama gempa masih terdengar merintih-rintih, menangis, minta tolong, minta makanan dst dst. Namun warga sekitar tak mampu melakukan apa-apa karena tanpa alat berat tak ada hal yang mampu dilakukan. Akhirnya mereka satu persatu meninggal dunia karena proses evakuasi baru dapat dilakukan lama setelahnya. Demikian juga di gedung-gedung lainnya. Beberapa jam pertama masih banyak permintaan tolong bahkan korban-korban yang saling berkomunikasi di bawah reruntuhan. Namun lama-kelamaan satu persatu dari mereka tak dapat bertahan. Sedikit yang bertahan dan diselamatkan 2 hari kemudian, membagi kisahnya kepada media masa.</p>
<p>Yang tak kalah menyedihkan adalah daerah-daerah terisolir ataupun daerah-daerah yang mendadak menjadi terisolir akibat gempa ini, sampai beberapa hari setelah kejadian tetap tak terjamah oleh bantuan medis maupun relawan.</p>
<p>Namun di tengah-tengah suasana duka ini ternyata masih bergentayangan oknum-oknum dengan prilaku yang memuakkan. Di antaranya adalah maskapa-maskapai penerbangan yang dengan semena-mena mematok harga tiket sampai berlipat-lipat walaupun sudah ada himbauan dari pemerintah untuk tidak melakukan hal tsb (well, himbauan tanpa sanksi memang tak akan pernah mempan di negeri kita ini). Biadab, sungguh !</p>
<p>Tuhan,<br />
Duka, duka dan duka menggantung di langit dan menaungi wajah-wajah yang masih terpana dalam  kekagetan di sana, di ranah minang tercinta. Tangan inipun rasanya tak mampu mencoba memetakan tentang apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan tentang satu episode yang menggayut di sana, di ranah minang tercinta.<br />
Ngeri, jeri.<br />
Hilang kata.</p>
<p>Tuhan&#8230;.<br />
Gunung gunung belumlah di hamburkan…<br />
Bintang bintang belumlah berjatuhan…<br />
Lautan belumlah sempurna meluap..<br />
Matahari belumlah digulung…</p>
<p>Langit belumlah terbelah…<br />
Bumi belumlah memuntahkan semua isinya…<br />
Belum… belum diguncangkan dengan sempurna<br />
Ketika seharusnya saat itu benar benar tiba…</p>
<p>Belum.. belum apa apa…<br />
Dibanding hari yang Kau janjikan<br />
Tapi kami sudah menggigil begini hebat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2009/10/05/duka-di-ranah-minang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejak Kapan Baju Adat Minangkabau Ketat Menerawang?</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2009/04/13/sejak-kapan-baju-minang-ketat-menerawang/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2009/04/13/sejak-kapan-baju-minang-ketat-menerawang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 03:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[minangkabau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2009/04/13/itu-bukan-baju-adat-minangkabau-kok/</guid>
		<description><![CDATA[Pada kesempatan ini saya ingin ikut menyuarakan unek-unek dunsanak, uni-uni dan kawan-kawan di milis wanira (wanita minang perantauan) tentang baju Adat Pengantin MinangKabau yang akhir-akhir ini makin mengalami modifikasi yang membuat &#8216;mato kalimpanan&#8217; (kelilipan-red).
Baju-baju adat MinangKabau yang kami pahami biasanya adalah semacam baju kurung yang longgar (tidak ketat), tebal (tidak transparan, tidak menerawang, tidak tembus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada kesempatan ini saya ingin ikut menyuarakan unek-unek dunsanak, uni-uni dan kawan-kawan di milis wanira (wanita minang perantauan) tentang baju Adat Pengantin MinangKabau yang akhir-akhir ini makin mengalami modifikasi yang membuat &#8216;mato kalimpanan&#8217; (kelilipan-red).</p>
<p>Baju-baju adat MinangKabau yang kami pahami biasanya adalah semacam baju kurung yang longgar (tidak ketat), tebal (tidak transparan, tidak menerawang, tidak tembus pandang), sopan, tertutup mulai dari leher sampai ke mata kaki dan dihiasi dengan <span id="more-187"></span>tutup kepala yang bentuknya beraneka ragam sesuai dengan daerah asal yang lebih spesifik.</p>
<p>Khusus untuk baju penganten wanita, kami mengenal 2 jenis pakaian :<br />
1. Pakaian adat minang standar, yaitu baju kurung dan kain yang dilengkapi dengan suntiang, yaitu semacam hiasan kepala yang menyerupai kipas &#8211; seperti pada gambar terlampir.</p>
<p><img width="168" src="http://blog.unisa81.net/jpeg/Pengantinpadang.jpg" height="256" style="width: 168px; height: 256px" /><br />
2. Pakaian adat minang Koto Gadang, yaitu baju kurung dan kain yang tidak dilengkapi dengan suntiang namun dilengkapi dengan selendang yang disampirkan di kepala.</p>
<p>Note : jika ada pembaca yang lebih paham, mohon dikoreksi ya, mengenai pakem baju penganten di atas.</p>
<p>Demikian juga halnya denagn warna, sepemahaman saya baju adat MinangKabau punya warna-warna pakem yang menjadi ciri khasnya.</p>
<p>Oleh karena baju adat minangkabau yang cenderung tertutup, longgar dan tidak transparan ini, maka sangat mudah memadukannya dengan jilbab tanpa menghilangkan unsur budaya aslinya. Waktu saya bergabung dengan Unit Kesenian Minangkabau Institut Teknologi Bandung (UKM-ITB) tahun 1999-2000 untuk setiap kegiatan yang dilakukan yang menggunakan baju adat (baik itu pagelaran seni, penampilan di acara baralek alias perhelatan) hampir selalu dipadukan dengan jilbab. Setahu saya, sampai sekarangpun masih begitu.</p>
<p>Namun akhir-akhir ini gerah juga memperhatikan modifikasi baju pengantin minang yang dibuat jadi super duper modern. Ciri khas MinangKabau yang masih melekat erat satu-satunya tinggal ‘suntiang’ di kepala, baju dan kain yang melekat di badan sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memerihkan mata. Bajunya lebih menyerupai kebaya modern, yang super ketat, kebanyakan transparan dan dengan belahan di bagian dada yang super rendah (ambooi deh, sejak kapan baju minang pake belahan di bagian dada).</p>
<p>Contohnya baju pengantin yang dipakai oleh BCL dan Nirina Zubir. Yah, terserah sih, namanya juga public fugure tentunya punya kebutuhan dan tuntutan yang berbeda dan sejuta alasan lainnya blablabla pyarpyarbum&#8230; Tserah dah! Kagak ngarti lah awak.</p>
<p>Tapi sebagai seorang generasi MinangKabau yang masih sangat peduli dengan keelokan budaya Minang, satu saja pesan awak buat  para pemakai baju-baju ‘modern’ itu. Please, Tolong jangan katakan itu Baju adat Minangkabau (mambana Ha…). Katakan saja yang kalian pakai adalah baju campur-campur antara adat anu, adat ini, kreasi modern gabruk-gubrak serta dipadupadankan dengan budaya ano ito blablabla pyahpyahbruk jger. Pliiss ya, jangan bilang itu baju minangkabau. Kagak rela awak! Kagak rela !<br />
 </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2009/04/13/sejak-kapan-baju-minang-ketat-menerawang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cukup satu kali contreng!</title>
		<link>http://blog.unisa81.net/2009/03/30/cukup-satu-kali-contreng/</link>
		<comments>http://blog.unisa81.net/2009/03/30/cukup-satu-kali-contreng/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 03:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>unisa81</dc:creator>
				<category><![CDATA[kabar negeri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.unisa81.net/2009/03/30/cukup-satu-kali-contreng/</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini situasi politik Indonesia Raya yang sedang memanaaaazzzzz :
- TV dipenuhi oleh iklan-iklan partai politik yang penuh janji-janji surga. Yaaah gpp sieh, namanya juga kampanye. Boleh lah kita lihat kepiawaian partai-partai ini dalam &#8216;mencari hati&#8217; masyarakat. Namun sekarang mulai ada trend &#8216;menjelekkan-yang-lain-namun-tidak-menyodorkan-solusi-yang-cerdas&#8217;. 
-  Kota Jakartah (mungkin seluruh kota di Indonesia) pinuuuuuh dengan tongkrongan poster-poster caleg partai ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini situasi politik Indonesia Raya yang sedang memanaaaazzzzz :</p>
<p>- TV dipenuhi oleh iklan-iklan partai politik yang penuh janji-janji surga. Yaaah gpp sieh, namanya juga kampanye. Boleh lah kita lihat kepiawaian partai-partai ini dalam &#8216;mencari hati&#8217; masyarakat. Namun sekarang mulai ada trend &#8216;menjelekkan-yang-lain-namun-tidak-menyodorkan-solusi-yang-cerdas&#8217;. </p>
<p>-  Kota Jakartah (mungkin seluruh kota di Indonesia) pinuuuuuh dengan tongkrongan poster-poster caleg partai ini dan itu. Pusing liatnya dan terus terang merusak pemandangan. Lihat di sini (<a href="http://janganbikinmalu2009.com/web/galeri.php">http://janganbikinmalu2009.com/web/galeri.php</a>). Model posternya bener-bener muaceem muaceeeem, dari yang bagus (jarang sih), menggelikan, bikin sesek napas, bisa bikin ketawa terpingkal-pingkal (ketawa miris) sampai yang membuat kita mengelus dada saking prihatinnyo. Ondeh.. ondeh&#8230; . Baiklah, baiklah, ini memang bagian dari proses Demokrasi. Namun kadang terpikir, sayang juga yah uangnya&#8230;hiks hiks</p>
<p>- Saluran-saluran TV  (kecuali saluran-saluran TV yang mengkhusukan diri untuk muter sinetron dari pagi ampe pagi lagi, isi sinetronnya mulai dari hantu ini, hantu itu, cinta anu, cinta itu &#8211; Ga mendidik!!) berlomba-lomba menayangkan acara-acara mulai dari ulasan pemilu (bagus sih,nambah wawasan), sampai debat partai yang kadang-kadang (sering, tepatnya) bukan bertujuan mencari sebuah pemikiran konkrit yang inovatif (naon&#8230;ieu) namun cuma cakar-cakaran, saling jelek-jelekin sampai saling membeberkan aib. Nauzubilah. Baiklah.. baiklah, mungkin memang ini bagian dari demokrasi, tapi kok mahal banget ya implikasinya secara moral. Apalagi kalau menyaksikan sesama partai islam saling &#8216;adu-jotos&#8217; di acara debat yang ditonton oleh jutaan pemirsa, saling menjatuhkan metoda masing-masing, saling serang, saling ini itu blablabla. Sediiiiiiiiiiiiiih buanget. Tak rela rasanya mereka-mereka yang berdebat di sana itu jadi representatif umat islam. teganyateganyateganyateganya&#8230;. Miriiiiiiizz&#8230;</p>
<p>- Pun acara &#8216;uji caleg&#8217; di TV-TV yang menampilkan caleg-caleg yang bener-bener muaceeem muaceeem. Profesinya macem-macem, mulai dari akademisi, artis, pelawak, dukun (ini beneran!), tukang sate (kakek awak bisa ikutan juga doooonk!), tukang jus dst dst. Tapi yang paling penting isi kepala alias pemikirannya. Mulai dari yang cerdas (te o pe daaah), yang ga pernah nyambung antara pertanyaan panelis dan jawabannya, yang ngotot, yang kasar, yang setiap paragraf ucapannya pasti bawa-bawa ayat al-Quran walau ga ada hubungannya dengan pertanyaan panelis, yang cengengesan serasa di kafe gaoool, yang curhat, yang gelagapan, yang gemeteran ampe ga bisa bicara dst dst.</p>
<p>- Pun ketika stasiun-stasiun TV itu kembali menayangkan acara &#8216;wawancara eksklusif&#8217; dengan caleg-caleg tersebut. Yang diundang pun cem macem, mulai dari artis-artis, PKL, dst dst. Kembali rata-rata dari mereka membuka aibnya sendiri. Yang cengengesan teteeuup aja cengengesan (duh, aku ampe antipati ama partai yang nyalonin wanitah satu ini), yang kurang wawasan teteeeup aja kurang (sampe istilah-istilah umum di pemerintahan jug ga tahu, dan ga ingin mencari tahu). Ketika ditanya alasan jadi caleg juga cem macem. Mulai dari alasan-alasan yang kalau ditulis ulang serasa &#8216;part-of-pelajaran-PMP-PPKN-atau-kewiraan&#8217;, teoriiiiiiiiiii semua, sampe yang dengan malu-malu bilang gini &#8220;Abisnya, saya liat anggota dewan itu kaya-kaya sih ya, saya kan juga pingin kaya&#8221;. Ondeh..ondeh?? inikah dia calon pemimpin awak di dewan yang terhormat kelak? atau representasi rakyat? Sungguh tak rela tak rela ku tak rela.</p>
<p>Masih banyaaak sebenernya ganjelan-ganjelan di hati inih. Nantilah di edit dan ditambah-tambah lagi seiring berlalunya waktu.</p>
<p>Yang jelas, nanti tanggal 9 april, jangan lupa contreng. Contreng lah caleg yang berkualitas. Cukup 1 kali contreng! Walaupun hanya satu suara, pasti ada artinya.  Pesimis? sering&#8230; Tak rela rasanya suara ini hangus, walaupun cuma secuil&#8230; memberikan kontribusi untuk Indonesia yang lebih baik&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.unisa81.net/2009/03/30/cukup-satu-kali-contreng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

