Jangan sampai ada dan ketiadaan kita sama saja

Pagi ini dibuka dengan mendengarkan tausiyah Almarhumah Ustz Yoyoh Yusroh mengenai “Peranan Dakwah dalam keluarga”, jilid 1 dan jilid 2. Nemu di YouTube ^_^.

ada di  sini : http://www.youtube.com/watch?v=VeEjiHa9KkI 
dan di http://www.youtube.com/watch?v=B7-noGRqSMQ

Menyejukkan hati mendengarkannya. Meskipun sekarang mungkin cuma bisa menyimak, mendengar dan mengagumi.

Salah satu kalimat yang paling menohok adalah “Jangan sampai ada dan ketiadaan kita sama saja terhadap lingkungan”. Kalimat yang rasanya jauuuuh sekali di belakang. Kalimat yang justru menghadirkan rindu.
Rindu yang jauh…
Rindu yang sepi…

Hanif 2 Tahun

Hanif sayang,
hari ini tepat 2 tahun silam, engkau hadir Nak
dan sejak hari itu..
bersama abang Hafidz,
engkau menjelma menjadi dua sayap sempurna bagi hidup Bunda

Hanif sayang,
Do’a untukmu Nak, tak hanya di hari-hari spesial seperti hari ini
setiap memandang lelapmu
setiap menatap tawa dan sedihmu
setiap lintasan fikiran akan namamu
hadir pula do’a dan cinta yang melimpah-limpah

Nak Hanif, Nak Hafidz
kalian sungguh berjasa dalam hidup Bunda
sungguh istilah “cahaya mata” tak mampu wakili jasa kalian
sebab kalianlah Matahari jiwa ini
yang Allah hadirkan untuk senantiasa terangi hari ini, terangi hati ini

Sungguh Nak,
setiap pagi adalah sesal yang menggunung
karena harus tinggalkan kalian untuk ke kantor
saat wajah-wajah lucu kalian masih lelap
Bunda sudah beranjak laksanakan tugas
sambil memelas cintaNya
“Wahai Allah, tolong jaga matahariku…”
“Wahai Cahaya mata, maafkan bunda tak mampu 24 jam temani… ”

Nak Hafidz, Nak hanif,
Seletih apapun sepulang kerja, bunda selalu ingat bahwa
kalian tentu lebih letih lagi menunggu kehadiran Bunda…
seperti cerita Ibu dan Uwak bahwa
Setiap Adzan Magrib, Nak hafidz dan Nak hanif mulai rajin melongok ke jendela dan berkata
“Bunda belum pulang ya?”

Percayalah, di saat yang sama
Bunda sedang bersicepat mengatur langkah agar segera kita berjumpa

Dan tadi malam sungguh kejutan luar biasa ya,
ketika dengan lugu nya Bang Hafidz(3.5 thn) memberi kado istimewa
Hafalan Surat Al-Fatihah
untuk dek Hanif yang berulang tahun ke-2

Bagi Bunda itu sangat mengejutkan
Karena setiap malam kita belajar mengaji
bang Hafidz biasanya cuek, asyik menggambar, menyanyi dll
dan bunda tidak larang, asalkan masih mau luangkan waktu 15 menit mengaji bersama

Siapa sangka, dibalik sikap cueknya
Bang Hafidz ternyata diam-diam ikut ngapalin ^_^
Dan tadi malam juga janji akan ajarkan ke dek hanif :)

Selamat Milad ya Nak,
semoga Allah selalu lindungi Nak Hanif dan Nak Hafidz
semoga Allah sayangi kalian, dan tunjukkan kalian jalan yang lurus dan indah…

sekedar terkenang

Engkau mungkin sudah lupa
Episode singkat,
yang berbaur dengan jutaan lembar kisah

Bagiku,  mengingat itu selalu mampu
hadirkan musim semi.
Di tengah luka-luka

Siapa mengira,
justru mesjid itu harus kupandang setiap hari
dan papan pengumuman itu masih setia di sana
tempat kita pertama jumpa

Ribetnya naik KRL

Semenjak tinggal di Depok(sawangan), jarak antara rumah-kantor rasanya semakin jauh. Dari rumah kontrakan ke stasiun Depok Baru naik motor butuh waktu 16menit, sedangkan naik angkot bisa 40menit. Terutama karena jalan raya sawangan macetnya ampun-ampunan deh kalo pagi. Ketidaknyamanan belum berakhir di sana. Perjalanan di KRL Depok Baru sampe Gondangdia atau Dukuh atas sungguh menyiksa. Antara lain karena :

1. Tidak beroperasi lagi KRL express, sehingga jarak tempuh sangat lama. Mencapai 50 menit

2. Kepadatan yang sudah tidak manusiawi. Sakit banget rasanya badan ini

3. Stasiun yang harus dilewati dan disinggahi mencapai 15 stasiun. Kalo dari Bintaro ke Tanah Abang, jarak yang ditempuh hanya 5 stasiun dan rata2 penumpang turun di Palmerah atau Tanah Abang. Beda banget dengan KRL Depok, dimana di setiap stasiun wajib berhenti dan pasti ada penumpang yang naik maupun turun. Siksaan terbesar adalah mempersiapkan celah untuk penumpang2 yang bakal turun. Alamaaaak, remuk deh badan ini. Bayangin untuk napas aja sesak. Ini masih ditambahi dengan desakan2 penumpang yang nyari2 jalan turun, Ya punggung, ya dada, ngilu2 kena himpitan penumpang lain yang memberi jalan, sikut, barang2.. Ya Tuhaaaaan…

4. KRL depok tentunya selalu melwati Stasiun Manggarai. Dan mengingat Manggarai adalah stasiun transit, tak jarang ada masalah. Kadang kereta ngetem dulu menjelang pintu stasiun. Waktu ngetemnya bisa 15menit sendiri. Dan tak jarang juga dapet limpahan penumpang dari krl2 sebelumnya (seperti pagi ini).

Duh gusti. Miris banget negeri kita ini. Itu para pemangku2 kebijakan pada ngapain aja ya? Mbok ya sesekali turun gunung toh pak, bu. Apa tuan-tuan dan puan-puan harus menunggu adanya korban jiwa dulu sehingga baru mau memikirkan sedikit hal-hal yang bermanfaat bagi bangsa ini.

Dimana-mana yang namanya sebuah peradaban itu ya mengejar kemajuan. Waktu denger berita KRL express mau dihapusin aja rasanya udah sedih banget. Ya Tuhan, ga ngerti deh..

Niatnya, kalau rumah di ciputat udah laku, mau nabung dulu aja. Kumpulin sumber daya untuk nyari rumah di dekat Jakarta. Kalau KRL kayak gini terus, sungguh ga sanggup. 

Ongkos perjalanan yang sangat mahal (ditambah ojek dari stasiun ke kantor, karena ga ada kendaraan umum) + waktu tempuh yang lama banget + ketidaknyamanan yang menjadi-jadi –> membuatku harus berfikir 1000x deh kalau mau nyari rumah lagi…

Kala Subuh

Kala subuh telah bersinar , Daku datang untuk berdoa
Kala sang suria bersinar memancar , Daku datang sujud dan memuja

Hidupku pasrah kepada Mu
Ibadahku hanya untuk Mu
Ku sebut nama Mu, Allahhu Akbar

Ku harap pada Mu semata , Sebelum jasad menjadi tanah
Hapuskan segala dosa , Disengaja atau tiada

Tuhanku kumohon restu Mu , Perjuanganku hanya untuk Mu
Kusebut nama Mu Allahhu Akbar

Ku harap hidayah dari Mu , Dalam menempuh jalan hidupku
Cintaku hanya untuk Mu ,Kebahagiaan yang ku harapkan

Itu nasyid by Hijjaz. Salah satu nasyid favorit saya jaman kuliah. Melengkapi salah satu playlist favorit berisi nada-nada syahdu dari Hijjaz, Raihan, Saujana dan Rabbani.

Dan besok, pukul 03.30 pagi, aku dan anak-anak akan berangkat bertiga menuju Bandara. Kala Subuh baru menghilang, di pukul 06.00 pagi insyaAllah pesawat akan membawa kami bertiga ke Padang.
Semoga memang ini yang terbaik dari Allah.. Semoga perjalanan kami lancar…

Pahit sungguh, namun harus kami lalui.
Obat-obatan dari dokter juga biasanya pahit. Namun semua kepahitan itu tujuannya sama, yaitu sebagai ikhtiar menuju kesembuhan. Begitu juga hidup ini. Bedanya, terkadang dalam hidup kita harus menjadi dokter untuk diri sendiri. Meramu obatnya, menelannya meski pahit, karena berharap luka-luka sembuh atau setidaknya membaik. Kemudian tawakkal kepadaNya…

ya Allah, sembuhkan kami…. sayangi kami

Going Thirty

Tgl 3 september 2011, sekitar pukul 11 malam…
Ketika ngelonin Hanif yg lagi agak2 gelisah, tiba-tiba Nak Hafidz (3thn6bln) lari-lari ke kamar sambil nyodorin:
1. Laptop mainan
2. Boneka bola kaki
3. Kereta thomas
4. Lingkaran donat2an
5. Kubus abjad
sambil bilang: “bunda,ini buat bunda” setiap kali nyerahin benda2 itu satu persatu.

Aku tanya: “kok dikasih ke bunda,Nak?”
Dia jawab: “ini kado,ini kado semua,kado dari apis. Besok beli kue juga”
Aku tanya: “kado apa Nak?”
Dia jawab: “semuaaa kado ulang tahun Bundaa!”

What?? Subhanallah… Terharu plus ternganga. Masalahnya dari kemarin2 plus hari ini, demi Allah, tak satupun ada pembahasan ttg Ulang Tahun Bunda…

Bahkan rasanya semua orang lupa,saking banyaknya permasalahan akhir2 ini. Bahkan rasanya akupun nyaris ga ingat…

Lalu bagaimana dia bisa tahu? Ataukah sesungguhnya dia tidak benar2 mengerti,namun Allah menggerakkan badan dan mulut kecil itu untuk melakukan hal2 yang sungguh mengharukan.

Nak Hafidz, engkau sungguh hadiah yang luar biasa…

Setelah Hanif tidur,masih penasaran,lagi2 aku tanya Hafidz pelan2.
“Nak, ini semua kenapa dikasih ke Bunda?”
“Itu kado dari apis”
“Kado apa?”
“Ulang tahun Bunda. Besok apis belikan kue”
“Tapi,hafidz tau dari mana bunda ulang tahun?”
Hafidz cuma nyengir..trs cium tangan, peluk bantal, dan merem.

Anakku sayang, kalian bukan hanya ’sekedar’ Cahaya Mata. Namun kalian adalah matahari bagi jiwa bunda…

Semalam di Singapura

Kayak judul lagu ya :)

Semalam di Singapura rasanya benar-benar seperti obat penawar. Walaupun cuma semalam. Menyusuri jalanan-jalanan yang aku kenal, pojok-pojok penuh kenangan dan tempat-tempat yang menjadi saksi sejarah beberapa tahapan hidup. Seharian itu juga hati ini sedikit tercerahkan bahwa dulu pernah punya masa-masa yang sangat manis, bersama teman-teman yang sungguh menyejukkan. Dan sungguh aku mencintai mereka karena Allah. Karena keberadaan mereka pernah begitu memberi arti, bahkan setelah dipisahkan jarak dan waktu.

Bayangkan bahagianya hati ini bertemu mereka. jangankan berjumpa fisik, selama ini sekedar mengenang memori-memori lama atau sekedar saling berbalas kabar saja sudah begitu membahagiakan hati. Apalagi berjumpa mereka secara fisik. Memang benar bahwa persaudaraan itu tidak hanya terbatas pada ikatan darah.

Sore harinya alhamdulillah berkesempatan mengikuti acara bukber di KBRI, dan tak disangka-sangka jumpa banyak sekali sahabat di sana. Ada yang katanya sengaja datang ke KBRI karena ingin berjumpa. Subhanallah, pertemuan yang singkat namun sangat menyejukkan jiwa. Rasanya ingin menghentikan waktu.

Tak terasa sudah 11 tahun sejak hari pertama aku mengenal mereka, dan tentunya sudah banyak yang berubah. Ada yang udah pada repot dengan anak-anak masing-masing, dengan pasangan masing-masing, atau dengan kisah-kisah masing-masing. Senyum-senyum itu masih sama, pelukan hangat itu masih sama, bahkan binar mata, cara bicara dan joke-joke yang masih sama.

Rindu sekali..

Senyuman yang tersirat di bibirmu
Menjadi ingatan setiap waktu
Tanda kemesraan bersimpul padu
Kenangku di dalam doamu
Semoga… Tuhan berkatimu

Tak terasa malam menjelang, dan satu persatu kami harus saling pamit. Berat sekali rasanya, tapi memang kita tidak bisa terus-terusan tenggelam dalam nostalgia. Banyak sekali saling bertukar cerita, ada sedih ada bahagia. Di dalamnya insyaAllah terselip do’a do’a.

Sekitar pukul 10.30 PM Singapore time, tak terasa tinggal aku, my rumie semasa di hall 9 si penggemar Banmian serta bumil penggemar kucing yang jago masak. Kami ber-3 dulu pernah jadi juara-3 di Muslimah-Only-Competition unuk urusan tari menari, saat itu kami membawakan tari piring ^_^.

Kami susuri sepanjang jalan dari KBRI menuju bus-stop. Melanjutkan kembali kisah-kisah lama yang pernah ada. Semoga saja.. ya, semoga saja, bingkai kenanganini selalu menjadi pengikat hati-hati kami. Temans, engkau sungguh tak tergantikan…

Saat harus berpisah, dan mereka hilang dari pandangan, tiba2 syair nasyid Brothers, Do’a Perpisahan, berkumandang di telingaku :

Pertemuan kita di suatu hari
Menitikkan ukhuwah yang sejati
Bersyukurku kehadap Illahi
Di atas jalinan yang suci

Namun kini perpisahan yang terjadi
Dugaan yang menimpa diri
Bersabarlah diatas suratan
Kutetap pergi jua

Kan kuutuskan salam ingatanku
Dalam doa kudusku sepanjang waktu
Ya Alloh bantulah hamba-Mu

Mencari hidayah dari pada-Mu
Dalam mendidikan kesabaranku
Ya Alloh tabahkan hati hamba-Mu
Diatas perpisahan ini

Teman betapa pilunya hatiku
Menghadapi perpisahan ini
Pahit manis perjuangan
Telah kita rasa bersama
Semoga Allah meredhoi
Persahabatan dan perpisahan ini
Teruskan perjuangan

Kan kuutuskan salam ingatanku
Dalam doa kudusku sepanjang waktu
Ya Alloh bantulah hamba-Mu

Senyuman yang tersirat di bibirmu
Menjadi ingatan setiap waktu
Tanda kemesraan bersimpul padu
Kenangku di dalam doamu
Semoga… Tuhan berkatimu

Menoleh ke Belakang

Tahun ini, sungguh berat.
Menjelang usia 30 tahun, rasanya ujian begitu bertubi-tubi, terutama sejak bulan May 2011 ini. Bertubi-tubi dan menghantam dari segala sisi.
Dan semua yang dihantam adalah sisi-sisi terlemahku. Tidak hanya di satu titik tapi di banyak titik. Ada beberapa saat di dalam hidup ini ketika rasanya beban-beban itu tak tertanggungkan lagi.  Saat dimana bahu ini rasanya tak kuat lagi memikul semuanya. Sendirian.

Tempat ini kurasa ga banyak yang baca. Jadi tak ada salahnya juga rasanya sedikit melonggarkan beban fikiran di sini.

Dulu, rasanya, seberat apapun persoalan, aku selalu merasa yakin bahwa aku akan sanggup hadapi itu. Dan setiap hari aku merasa semakin kuat hadapi hidup ini. Selalu yakin akan ada jalan keluar. Barusan aku coba renungi masa lalu. Telaah persoalan-persoalan hidup. Dimana aku selalu bisa bangkit. Kenapa sekarang rasanya tidak bisa?

Ketika susah punya seragam baru pas SMA, aku cuek aja make baju-baju bekas dari orang tua muridnya Ibu. bahkan nama pemilik lamanya tak aku copot sebab kuatir bajunya sobek. Bagi beberapa temanku saat itu, ini adalah masalah. Bagiku tidak.  Make baju bekas kan ga’ dosa. Saat itu aku punya pandangan baru bahwa, hal-hal yang bagi orang terlihat sulit, ternyata saat kita jalani dengan lapang hati, insyaAllah ga berat. Maka lewatlah masa-masa SMA dengan seragam-seragam bekas. Rok-rok bekas yang harus dipeniti disana sini. Ada yang kependekan, kegombrongan. Baju-baju dengan label nama orang-orang yang tak aku kenal. Alhamdulillah tak mengurangi prestasi belajar.

Pun, ketika kuliah di Bandung. Saat uang kiriman dari kampung ternyata seringkali tak cukup. Alhamdulillah selalu banyak jalan keluar. Ketemu teman2 sekampung yang tak segan-segan minjemin duit. Dapet kos yang memungkinkan untuk jalan kaki ke kampus. Ketemu kontrakan sesama suku yang membolehkanku bergabung dengan sistem ’saweran uang masak’ yang sangaaat menghemat pengeluaran. maka hari2 kembali dijalani dengan gembira. setiap 1000 rupiah sungguh berharga kala itu. Subhanallah…

Kemudian Allah berikan aku rejeki untuk lanjutkan kuliah di Singapore dengan beasiswa penuh.  Sadar sekali bahwa itu semata karena kasih sayang Allah. Sebab jika mau jujur, banyaaak sekali yang lebih pintar kala itu, baik di atas kertas maupun secara praktek. Hanya kasih sayang Allah lah yang membuatku bisa terbang ke Singapura. KasihNya dan do’a-do’a ibunda. Maka kuhadapi kembali hari-hari seru di perantauan. Alhamdulillah selama di sana tak pernah lagi ada masalah keuangan. Mulai bisa tersenyum mengingat saat2 di Bandung, ketika uang kiriman tak kunjung datang padahal duit di kantong tinggal 5rb saja. Masa-masa bahagia  ketika bisa survive kala itu dengan seribu rupiah perhari…

Kemudian lulus kuliah. Masa-masa mencari kerja agak sulit. Cukup lama menganggur dan uang tabungan mulai habis. Maka suatu ketika aku pasrah untuk meninggalkan Singapura dan balik ke Indonesia. Kerja apapun sepanjang tidak merepotkan ortu dan bisa survive hidup mandiri. Ketika tiket pesawat sudah di tangan, sudah menuju bandara, sudah ikhlaskan diri ke Jakarta tanpa benar2 mengerti hendak kemana, tiba2 sebuah instansi di Singapura menelpon, mengabarkan bahwa aku diterima bekerja di sana. Maka kembalilah aku ke Singapura. Kembali aku rasakan kasih sayang Allah. Kembali aku merasakan bahwa tanpa Nya, sungguh diri ini lemah…

Kemudian episode-episode hidup silih berganti. Aku kembali berikhtiar untuk kembali ke Jakarta, diantaranya karena alasan-alasan emosional. Hijrah ke Jakarta di 2006 dan kembali lanjutkan babak-babak kehidupan seorang diri. Lingkungan baru, teman-teman baru, suasana kerja baru, suasana ibadah yang baru… Hidup sungguh penuh warna..

Kemudian menjadi istri, menjadi ibu… subhanallah..

Episode hidup kembali bergulir. Ada tawa, tangis, suka dan duka. Semuanya berganti-ganti. Namun persoalan apapun yang menerpa, rasanya selama ini tangan-tangan ini masih kuat menggenggamnya. Bahu-bahu ini masih kuat menopangnya. Kaki ini masih kuat menapakinya. Semua tarbiyah Allah selalu kurasakan sebagai bentuk kasih sayangNya untuk melecut, untuk menegur, untuk menempa. Menempa fisik ini agar semakin kuat, menempa hati ini agar semakin tegar dan menempa jiwa ini agar semakin kokoh.

Tapi,
baru kali ini , baru 3 bulan ini, aku benar2 belum bisa pahami ujian yang sedang Allah berikan. Baru kali ini rasanya lutut ini goyah, hati ini koyak, jiwa ini remuk. Dan sudah berbulan-bulan mencari jawaban, masih juga belum kutemukan penawarnya.

Aku masih tak paham, apakah ini ujian, teguran atau adzab. Aku masih tak mampu temukan penawarnya. Bahkan setelah berikhtiar menengok ke belakang, menggali obat-obat penawar, masih juga tak kutemukan cara membasuh hati, membebat luka, menyegarkan jiwa.

Lalu apa yang harus kulakukan, wahai Rabb yang menggenggam jiwaku…