sisa

sebenarnya, apakah masih ada ‘kita’ ?

Harap

Allahumma’jurna fi mushibatina wakhluf lana khairan minha…

Ya Allah pahalakan musibah kami & gantilah yang lebih baik darinya…

Ya Allah hadirkanlah ketenangan ke dalam jiwa kami, hilangkan perasaan was-was, takut dan putus asa dari hati kami….

Cobaan

Allah..
bertubi-tubi ujian yang kau turunkan akhir-akhir ini sungguh terasa berat.
Tak jarang rasanya terlalu susah hadapinya..

Aku juga tak mampu definisikan, apakah ini ujian, teguran atau jangan-jangan adzab? Termasuk kategori yang manakah ini?

Jika ini ujian, kumohon jangan engkau uji lagi lebih berat daripada ini. Engkau pasti Maha Tahu seberapa kuat lengan-lenganku menahan ini. Dan bahwa terkadang mulai terasa goyah.
Jika ini teguran, sungguh akan kuperdalam lagi muhasabah-muhasabah ini. Akan kutelaah lautan-lautan dosa ini. Celah-celah maksiat yang mana yang harus aku tinggalkan dan amalan-amalan apa yang telah aku lalaikan.
Jika ini adzab, sungguh aku mohon ampun. Aku tahu bahwa hanya Engkau yang tidak akan pernah menolak permohonan maaf, permohonan ampun dan sungkuran sujud…

Muslimah Hebat Itu Telah Tiada (ustdz Yoyoh)

Sabtu kemarin,  21 May 2011, Ustadzah Yoyoh Yusroh meninggal dunia. Penyebab meninggalnya adalah kecelakaan lalu lintas sepulang drai menghadiri wisuda anak tertuanya. Sedih sekali mendengar berita tersebut. Walaupun sama sekali belum pernah bertemu beliau, namun aku sering sekali mendengar kisah-kisah keteladanan dari Daiyah berputra 13 ini. Mulai dari sifatnya yang tawadhu, sederhana, tidak suka mengeluh, kepeduliannya terhadap sesama sampai metode pendidikannya terhadap anak-anaknya yang diantaranya telah sukses menghantarkan beberapa dari mereka menjadi Hafidz Qur’an seperti halnya beliau.

Aku malu mendengar cerita bahwa disela kesibukannya sebagai Daiyah dengan segudang amanah yang diembannya beliau masih sempat membaca minimal 3 juz Qur’an setiap harinya, beliau masih mampu menjaga hafalan Qur’an nya. Subhanallah. Jadi malu, baru punya anak 2, jangankan menambah hafalan, menjaga hafalan yang segelintir aja rasanya susah bener.

Nama beliau semakin harum setelah beliau meninggal. Begitu banyak tulisan-tulisan dan testimoni tentang jejak langkah yang telah beliau goreskan. Begitu banyak air mata haru melepas kepergian beliau. Ribuan orang yang tumpah ruah mengantar beliau ke tempat peristirahatan terakhir. Ribuan orang ingin ikut mensolatkan beliau dan sholat ghoib yang digelar di mana-mana.. Subhanallah… Betapa kualitas seseorang selama meninggal dapat dilihat dari suasana ketika beliau meninggal dunia.

Kita Telah Dewasa

Tulisan ini aku tulis di Tahun 2005. Di tahun pertama setelah graduation dari NTU.
Hari ini aku copy-kan ke sini. Sedikit mengobati kerinduan pada masa lalu..
Teman-teman… dimanapun kalian berada saat ini.. aku sungguh rindu..

 

 

Kita Telah Dewasa

‘ditulis di http://unisa.f2o.org , tahun 2005. Lebih dari 6 tahun silam

Kampus megah nan futuristik di pinggir barat negara pulau itu seolah terasing dari peradaban sekitarnya. Rerimbunan pohon pohon besar di kiri kanan jalan yang memanjang membatasi antara dunia luar dan lingkungan kampus memperdalam keterasingan itu. Kalau tidak ada papan besar di bibir jalan bertuliskan nama universitas tersebut dalam empat bahasa (Inggris,melayu,cina dan india), mungkin tak akan ada yang paham bahwa di ujungnya terbentang suatu komunitas intelek dilingkupi oleh sarana prasarana yang canggih bernuansa akademis, yang sedang berpacu dengan denyut denyut kemajuan zaman.

Aku masih mengingat dengan jelas di pertengahan tahun 2000. Ketika untuk pertama kalinya di sana bertemu wajah wajah manis, ceria, yang baru keluar dari bangku SMA. Semuanya mempunyai tutur tutur kata yang halus dan sopan. Berasal dari berbagai kota di Indonesia. Dan ada satu ikatan indah membuat kita punya banyak alasan untuk lebih sering bersama. Kita semua adalah muslimah. Muslimah, calon ibu, calon pemegang tanggung jawab sebagai madrasah pertama bagi anak anak kita kelak.

Pertemuan yang tinggi intensitas membuat kita semua begitu cepat menjadi dekat. Berada di perantauan dan menjadi muslim yang minoritas tiba tiba menimbulkan semangat berislam yang bertambah tambah. Mulai merasa malu ketika menyadari ada hal hal dasar yang belum kita ketahui tentang agama ini. Mulai merasa tertantang untuk berkenalan dan berinteraksi lebih jauh dengan syiar syiar islam.

Lalu kitapun mulai belajar perlahan lahan. Seperti bayi yang belajar merangkak. Sendirian. Tidak mengerti hendak berguru pada siapa. Cuma dengan bekal pelajaran2 agama dari SMA dan petualangan berselancar di dunia internet. Kita lah yg akan menentukan, ingin jadi lebih baik atau lebih buruk. Hari haripun dihabiskan tidak hanya untuk belajar ilmu dunia di kampus yang katanya salah satu yang terbaik yang pernah ada. Tapi juga mengejar bekal akhirat kesana kemari, kemanapun yang mungkin dan bisa diikuti. Terbata bata mengeja ilmu agama di negeri yang tidak menjadikan agama sebagai mata pelajaran wajib dari TK sampai tingkatan SMA.

Bulan bulan berlalu cepat. Jumlah kita yang cuma belasan tidak membuat semangat kita goyah. Perlahan mengukuhkan ukhuwah yang mulai berurat berakar. Satu persatu mulai mengerti tentang arti hijab. Saat itu kemanisan berislam terasa mengalir memenuhi rongga
rongga jiwa. Dan tiba tiba masing masing kita menjadi begitu iri dengan teman teman kita yang berkesempatan menuntut ilmu di tanah air. Dimana kesempatan untuk meraup ilmu akhirat sebanyak banyaknya bisa diperoleh begitu mudah. Tiba tiba barisan barisan ukhuwah teman teman muslimah di tanah air tampak begitu hebat di mata kita. Dan kitapun mulai menghibur diri, bahwa jumlah yang sedikit tidak melunturkan nyala semangat yang kita punya. Dan memang kita tetap (berusaha) bersemangat kesana kemari berombongan, bersama sama, mencuri curi waktu luang di sela sela kesibukan perkuliahan, untuk sekedar mengumpulkan ceceran ceceran hikmah dari orang orang di sekitar kita.

Lalu menjadi kejutan rutin setiap awal semester ada saja wajah wajah manis yang tiba tiba terbalut rapat busana muslimah. Air mata harupun mengalir menderas ketika memeluk wajah wajah yang terlihat semakin indah. Dan engkaupun makin mempesona wahai kawan. Di mata insan dan di hadapan DIA yang menggenggam setiap jiwa. Alhamdulillah arus modernisasi tidak membuat kita terlupa bahwa ada tujuan akhir yang akan kita capai kelak setelah melewati tahun tahun persinggahan di dunia. Tentu saja barisan ukhuwahlah yang membuat semua itu menjadi mungkin. Kontrol sosial berupa teguran teguran halus, pelukan yang menenangkan dan untaian untaian do’a

Aku tak akan mengatakan bahwa empat tahun berlalu cepat. Sungguh itu tidak cepat. Berbagai peristiwa telah terjalin merajut hari hari menapak usia. Rona rona kedewasaan mulai terpeta di wajah wajah manis dan ceria yang tiap hari ditemui. Tentu masih ingat bagaimana interaksi kita meniti hari hari menguntai mimpi di negeri ini. Bahwa tak sedikit konflik konflik hebat yang telah kita lewati, yang menguji kualitas pertemanan dan kedewasaan hati. Ketika masing masing kita berada ribuan mil dari orangtua dan sanak saudara, selain padaNya, tentulah kepada kawan kawan segala cerita, peluh, dan suka mengalir.

Banyak babak yang telah dilalui, hari hari berbagi cerita, suka, duka dan pelajaran-pelajaran berharga dalam hidup, telah kita lalui bersama. Kangen kangenan, curhat curhatan, diskusi diskusi seru, debat, bahkan konflik-konflik yang menguji kualitas diri, pernah kita lalui bersama, dan insyaAllah segalanya adalah bekal yang berharga untuk memasuki episode hidup yang berikutnya. Entah itu kita masih bersama nantinya atau sudah menemukan kehidupan masing-masing. Entah di negara yang sama ataupun terpisahkan laut dan benua. Tapi insyaAllah ikatan ini tidak kan terurai, karena tautan ini, tautan kasih dan hati, dan rahmat dari Allah.

Dipertemukan di kampus tercinta ini, adalah satu skenario Allah buat kita. Dan tentunya skenario yang kita jalani saat ini akan menjadi bekal berharga nantinya, insyaAllah.

Ketika saat saat perpisahan segera menjelang, masing masing kitapun mulai merasa khawatir. Terlalu indah ukhuwah ini, terlalu manis kenangan yang telah kita ukir bersama. Bagaimana cara menjaga kekokohan hati saat tiba tiba musti berpisah. Namun ternyata kekhawatiran itu tidak beralasan. Selalunya mengalir sms sms berisi kata kata rindu, kangen dan ingin bertemu. Pun ketika di antara kita mulai menemukan ketenangan yang berbeda beda dalam memahami islam. Sudut sudut bibir itu tetap tertarik ke atas dan mata mata itu tetap berbinar binar ketika bertemu. Akupun makin percaya bahwa kita benar benar sedang belajar dewasa.

Dan tanpa terasa, suatu malam aku ternyata sedang mendesign dua website pernikahan yang berbeda, dari beberapa orang di antara kita. Ah rupanya ada yang akan melesat lebih dulu menggenapkan bilangan dan menyempurnakan agama. Aku yakin, ikatan yang agung tersebut tidak akan melonggarkan ukhuwah yang pernah terbina. Sungguhlah benar adanya bahwa hati hati kita selama ini berkumpul hanya karenaNya.

InsyaAllah kita semua akan selalu bergandengan tangan, mengukuhkan barisan dakwah dimanapun kita berada kelak. Mungkin tidak semua teman teman akan membaca tulisanku ini. Ah tak apa. Do’a do’a yang tersimpan di dalam hati, insyaAllah lebih kuat dari semua yang tertulis. Anggap saja ini pernyataan cinta yang terlalu kaku untuk diucapkan di mulut. Semoga Allah mencintaimu kawan sebagaimana kamu mencintaiku karenaNya. Amin yaa Rabb

“Tidaklah seorang hamba mukmin berdoa unk saudaranya dari kejauhan, melainkan malaikat berkata ‘Dan bagimu seperti itu’ ” (HR Muslim)

“Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia mengatakan rasa cintanya kepadanya” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi)

Hari ke-2

Kaki ini semakin teguh menopang fisik dan jiwa yang koyak.
Walau setiap langkah sungguh pahit, namun bukankah kita cuma punya 1 pilihan terhadap setiap persoalan hidup?
yaitu : Maju terus !

Malu dengan usia jika terus-terusan meratapi kepiluan dengan lagu-lagu syahdu. Buat apa?

Kenapa tak cari saja penawar luka, meskipun bekasnya akan tetap ada selamanya.

Jika kemarin setiap hentakan nafasku menjelma menjadi hunjaman seribu jarum menusuk qalbu, mungkin saat ini tinggal 750 jarum. Perihnya masih sama.

Tapi, adakah badai yang tidak berlalu? Satu-satunya pertanyaan adalah. Berapa lama aku mampu hadapi ini. Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk mengubah 750 jarum itu menadi 1 atau bahkan nol? Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk bisa melihat jejak luka itu kelak sambil tersenyum dan tidak lagi menangis? Kemudian berucap lega : “Oh Allah, sungguh luar biasa tarbiyahMu…”

Kapan? Berapa bulan? Berapa Tahun? atau, berapa puluh Tahun lagikah?

Remuk

Jika aku ini kaca, maka aku sudah pecah berkeping-keping…

Jika aku ini daun, aku sudah koyak berderai-derai…

Jika aku ini baja, aku sudah hancur menjadi puing…

Sungguh aku telah hancur. Remuk redam. Sedu sedan.

Aku telah hancur, di titik terlemah seorang wanita…

Lalu, tarian seperti apa yang harus kumainkan agar nama itu hilang diantara kita.

Mengaku sabar

Setelah bertahun-tahun ikut acara Kajian Muslimah di kantor, baru kali ini pembicaranya ngomong gini :

“Saya ini termasuk salah satu manusia yg telah lulus ujian kesabaran, telah banyak ujian sabar yang berhasil saya lalui. Saya udah pantas dapat predikat manusia yang sangat sabar”

Entah kenapa, kok ngedengernya ga enak gitu ye?  Lalu beliau mencontohkan betapa sabarnya dia ketika menghadapi macet (??))

Memang sih dari awal beliau ini bilang dia bukan ustadzah, dia cuma jadi pembicara2 kayak gini setelah pensiun kerja. Tapi  karena topik materinya hari ini adalah ‘Life is a choice’, kupikir tadinya menarik banget. Dan pembicara kajian umum seperti ini kan ga harus ustadzah lulusan timteng (seperti biasa), atau aktivis dakwah atau alim ulama dst. Siapapun bisa jadi pembicara disini. malah tak jarang financial planner juga jadi pembicara di forum kajian pekanan ini. Audience nya kan sangat beragam.

Ketidak-sreg an itu makin berlarut-larut ketika beliau justru sibuk menceritakan kehebatan dan kelebihan dirinya. Malahan mulai membanding-bandingkan kualitas dirinay dengan teman-temannya yang menurutnya kurang sabar, kurang bisa memilih kata-kata yang baik, kurang bijak dan segala kekurangan lainnya. Bahkan beliau ini ga segan-segan menceritakan kekurangan-kekurangan suaminya sebagai bahan becandaan. Naudzubillah :(

Keadaan makin parah ketika dia juga menceritakan tentang pola pengasuhannya terhadap ke-3 anak lelakinya. Bagaimana  dia menasehati mereka supaya hati2 memperlakukan teman dekat wanita. Jangan disenggol2 (??). Malah suatu saat kata2nya vulgar banget, sampai bilang gini  “berteman dengan teman wanita hati2, gemboknya jangan sampai dibuka” WHAAATTTTTT???

Ketika bagian itu, aku langsung deh keluar dari ruangan. Walk out bo’. Dan yang keluar ga cuma aku sendiri. beberapa teman juga keluar dengan alasan jengah.  Bahkan kemudian aku juga ketemu dengan beberapa panitia Kajian Muslimah pekanan yang tampaknya agak menyesalkan kejadian ini.

Duh, semoga gak keulang lagi deh ya :(